Перейти к содержимому

FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 190 Takdir Yang Terajut Di Rumah Sakit

SENADA Sena Davina

0:00 / 0:00

FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 190 Takdir Yang Terajut Di Rumah Sakit

6 602 просмотра · 7 часов назад
SENADA Sena Davina
5,85 тыс. подписчиков
6 602 просмотра · 7 часов назад
FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 190 Misteri Hilangnya Sena - Takdir yang Terajut di Rumah Sakit. Keramaian koridor rumah sakit tak menyurutkan atmosfer tegang yang menggelayut di setiap sudutnya. Suara langkah kaki bergegas dan pintu lift yang terbuka mengawali riuh pagi itu. Pak Henry Abraham melangkah keluar dari lift berbarengan dengan beberapa pengunjung dan tenaga medis. Dalam hiruk-pikuk tersebut, seorang pria berpapasan dan tak sengaja menyenggol bahu Pak Henry. Sebuah foto tua terlepas dari genggamannya dan jatuh meluncur di atas lantai keramik dingin. Pria pengunjung rumah sakit itu berbalik sejenak dan bergumam ragu, "Maaf, Pak." Pak Henry hanya mengangguk pelan, "Ya." Tanpa disadari Pak Henry, foto itu tertinggal di belakang. Tak jauh dari lokasi kejadian, Davina berdiri melintas dan menyaksikan jatuhnya lembaran kertas bergambar tersebut. Dengan cekatan, gadis itu mengambilnya dan berlari-lari kecil menyusul langkah Pak Henry. "Pak, Pak! Pak, maaf, maaf... Sepertinya ini foto punya Bapak tadi jatuh," panggil Davina bernada sopan sembari menyodorkan foto tersebut. Pak Henry tertegun, meraih foto itu dengan helaan napas lega, "Oh, iya. Ini benar foto saya. Makasih, ya." Davina tersenyum ramah, "Iya, sama-sama." Namun, saat mengamati paras pria paruh baya di hadapannya, Davina seperti mengenali raut wajah tersebut. "Maaf sebelumnya, tapi Bapak yang waktu itu di hotel, ya?" tanya Davina memastikan. Pak Henry tersenyum tipis mengiyakan, "Ya, benar. Sekali lagi makasih, ya." Davina mengangguk hormat, "Sama-sama, Pak. Mari." Saat Davina berlalu meninggalkan koridor, mata Pak Henry terus menatap punggung gadis itu. Ada getaran aneh yang mendadak mengusik dadanya, hingga ia bergumam dalam hati, Entah kenapa Aku ngerasa perempuan itu mirip sama Medina, ya? Astaga, ngapain Aku mikirin Medina? Tanpa sedikit pun disadari oleh keduanya, benang merah takdir tengah bermain, sebab Davina sesungguhnya adalah putri kandung Medina—rahasia besar yang masih terpelihara rapat oleh waktu. Sementara itu, di lorong lain rumah sakit yang redup dan mencekam, aroma antiseptik bercampur dengan kecemasan yang menggebu di depan pintu ruang operasi Sena. Pak Prama bersama Candra melangkah terburu-buru mendekati Reza yang berdiri siaga menjaga area steril tersebut. Begitu melihat kedatangan atasannya, Reza melepaskan penghormatan dan menyodorkan sebuah kantong plastik transparan berisi gawai, "Izin, Ndan. Ini HP Sena. Tadi diserahin sama Pak Henry Abraham, papanya Sena. Bisa mau jadi barbuk kita, Ndan." Pak Prama menerima benda tersebut dengan raut serius, "Terima kasih, Reza. Candra, kamu pegang aja, simpan dulu." Candra mengangguk sigap, "Baik, Ndan." Candra yang gelisah menatap pintu operasi lantas menambahkan tegas, "Ndan, kalau begitu kita harus usut sampai tuntas siapa otak dalam penculikan Sena, Ndan." Reza menimpali dengan raut wajah mengeras, "Bukan cuma penculikan, Ndan. Ini adalah usaha untuk ngilangin nyawa Sena, Ndan!" Pak Prama menghela napas berat, mengungkapkan kendala di lapangan, "Ya... Tadi Eki sudah sempat interogasi ke-4 orang tersangka itu. Tapi mereka belum mau buka mulut bahwa mereka yang menculik Sena. Mereka malah mengaku sebagai pencopet." Reza mendengus gusar, "Pasti mereka berusaha untuk tutup mulut, Ndan." Mengalihkan pandangan ke sekeliling lorong yang sepi, Pak Prama bertanya, "Oh ya, Dion mana?" Reza menjawab pelan, "Dion tadi jalan ke depan dan beli kopi." Pak Prama segera mengambil keputusan intuitif untuk menjaga stamina anggotanya, "Gini aja, Za. Nanti kalian gantian aja. Sekarang telepon Dion, suruh istirahat dulu. Nanti biar gantian jaga... Untuk jaga Sena, ya." Reza memberi penghormatan tegak, "Baik, siap, Ndan!" Pak Prama menepuk bahu Reza, "Saya dan Candra akan kembali ke Polres. Nanti telepon saya kalau ada perkembangan apa-apa. Oke?" Reza menjawab tegas, "Siap, Ndan!" Pak Prama memberi isyarat pada rekannya, "Yuk, Can." Mendengar hal itu, dada Davina semakin sesak oleh rasa simpati, "Ya, mereka pasti cemas banget." Reza memandangi ekspresi Davina dengan saksama, lalu memberanikan diri bertanya, "Mbak Davina sebelumnya pernah ketemu sama orang tuanya Sena?" Davina menggeleng polos, "Belum, Reza. Orang tuanya kayak gimana, sih?" Reza mendadak bungkam. Pikiran di kepalanya berputar hebat saat menyadari kenyataan rumit di balik pertanyaan itu. Dalam hatinya, Reza membatin cemas, Waduh... Belum pernah ketemu nih Mbak Davina sama Henry Abraham. Malah kayaknya Sena belum cerita ke Mbak Davina kalau papanya itu Henry Abraham. Tak ingin memperkeruh suasana, Reza akhirnya memilih jawaban aman sembari tersenyum menenangkan, "Orang tuanya baik kok, Mbak. Mamanya ramah, terus... Papanya mirip banget sama Sena." #terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji