Перейти к содержимому

Israel Klaim Rezim Iran di Ambang Kehancuran, Netanyahu Ungkap Kondisi Mojtaba Khamenei

Tribun Kaltim Official

0:00 / 0:00

Israel Klaim Rezim Iran di Ambang Kehancuran, Netanyahu Ungkap Kondisi Mojtaba Khamenei

6 332 просмотра · 9 дней назад
Tribun Kaltim Official
947 тыс. подписчиков
6 332 просмотра · 9 дней назад
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Baca berita selanjutnya: https://kaltim.tribunnews.com/news/11... TRIBUNKALTIM.CO - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali melontarkan klaim keras mengenai masa depan pemerintahan Iran. Netanyahu menyatakan keyakinannya bahwa rezim Iran yang kini dipimpin Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei berada di ambang kehancuran. Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu di hadapan para petinggi militer Israel pada Kamis (3/9/2026), ketika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali mengalami eskalasi. Menurut Netanyahu, kondisi pemerintahan Iran saat ini jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Ia menilai tekanan militer yang terus berlangsung telah membuat pemerintahan di Teheran kesulitan mempertahankan kekuasaannya. Netanyahu bahkan menyebut upaya untuk menggulingkan rezim Iran kini bukan lagi sesuatu yang berada di luar jangkauan. Ia menilai peluang tersebut semakin terbuka setelah serangkaian serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran. Bagi Netanyahu, kondisi tersebut menjadi momentum bagi Israel untuk menyelesaikan apa yang selama ini disebutnya sebagai ancaman dari Iran. Namun, pernyataan Netanyahu tersebut perlu ditempatkan sebagai penilaian dan klaim dari pemerintah Israel. Belum ada kepastian bahwa pemerintahan Iran benar-benar berada di ambang keruntuhan. Di sisi lain, Teheran masih mempertahankan struktur pemerintahan dan kekuatan militernya di tengah konflik yang berlangsung. Mojtaba Khamenei sendiri merupakan Pemimpin Tertinggi Iran yang menggantikan posisi Ali Khamenei. Pergantian kepemimpinan tersebut berlangsung ketika Iran berada dalam tekanan besar akibat konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Kini, nama Mojtaba menjadi pusat perhatian karena Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa pemerintahannya sedang menghadapi tekanan berat. Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari operasi militer. Konflik yang berkepanjangan juga memberikan tekanan terhadap perekonomian Iran dan kemampuan pemerintah mempertahankan stabilitas di dalam negeri. Netanyahu melihat kombinasi tekanan tersebut sebagai faktor yang dapat mempercepat perubahan politik di Iran. Dalam pernyataannya, ia juga menghubungkan tujuan perang dengan upaya menghilangkan ancaman Iran secara permanen. Artinya, sasaran Israel yang disampaikan Netanyahu tidak semata-mata menghentikan serangan atau menghancurkan fasilitas militer. Ada pula ambisi politik yang jauh lebih besar, yakni mendorong perubahan terhadap rezim yang berkuasa di Teheran. Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan sejumlah pejabat Israel sebelumnya yang menilai perubahan pemerintahan Iran sebagai salah satu tujuan strategis dalam menghadapi Teheran. Namun, menggulingkan sebuah pemerintahan tentu berbeda dengan memenangkan sebuah pertempuran. Iran memiliki struktur politik, militer dan keamanan yang kompleks. Karena itu, serangan militer terhadap sejumlah target tidak otomatis berarti pemerintahan Iran akan segera runtuh. Di sisi lain, perang juga telah memberikan tekanan terhadap kemampuan militer Amerika Serikat. Sejumlah laporan menyebut operasi militer berkepanjangan membuat Washington harus menghadapi persoalan penggunaan persenjataan, kebutuhan pengisian kembali amunisi, serta biaya operasi yang besar. Iran sendiri terus memberikan perlawanan melalui serangan terhadap sejumlah target yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Kondisi tersebut membuat perang memasuki fase yang semakin kompleks. Di satu sisi, Israel dan Amerika Serikat berusaha memberikan tekanan militer maksimum terhadap Iran. Di sisi lain, Iran berusaha menunjukkan bahwa kemampuan militernya masih dapat digunakan untuk memberikan serangan balasan. Dalam situasi seperti itu, klaim mengenai keruntuhan rezim menjadi bagian penting dari perang narasi. Netanyahu ingin menunjukkan bahwa tekanan militer terhadap Iran telah menghasilkan dampak besar terhadap pemerintahan Mojtaba Khamenei. Sebaliknya, bagi Iran, mempertahankan kemampuan untuk melakukan serangan balasan menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa pemerintahannya masih mampu bertahan. Karena itu, kondisi politik domestik Iran akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah tekanan eksternal benar-benar dapat mengubah struktur kekuasaan di Teheran. Persoalannya bukan hanya seberapa banyak fasilitas militer yang rusak. Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah apakah tekanan tersebut mampu mengubah sikap elite politik, militer, dan masyarakat Iran terhadap pemerintahan Mojtaba Khamenei. Netanyahu mengatakan dirinya yakin perubahan tersebut sudah semakin dekat. Penulis: Fachri Mahayupa Sumber: Tribunnews.com Editor: Jofan Giantirta Uploader: Jofan Giantirta #benjaminnetanyahu #israel #iran #mojtabakhamenei #konfliktimurtengah #amerikaserikat