Trump: Kalau Warga AS Muak, Saya Pindah ke Israel
Tribun Kaltim Official
0:00 / 0:00
Trump: Kalau Warga AS Muak, Saya Pindah ke Israel
787 просмотров · 14 ч назад
Tribun Kaltim Official
964 тыс. подписчиков
787 просмотров · 14 ч назад
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial.
Kali ini, Trump secara terbuka menyebut kemungkinan dirinya pindah ke Israel dan menjadi perdana menteri jika suatu saat masyarakat Amerika Serikat sudah muak terhadap kepemimpinannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan program Fox & Friends di Fox News, Selasa, 3 November 2026, bertepatan dengan pelaksanaan pemilihan paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat.
Trump mengklaim dirinya memiliki tingkat popularitas yang sangat tinggi di Israel.
Bahkan, ia menyebut tingkat persetujuan publik Israel terhadap dirinya mencapai 99 persen.
Berangkat dari klaim tersebut, Trump melontarkan pernyataan bahwa dirinya bisa saja pindah ke Israel dan menjadi perdana menteri apabila masyarakat Amerika Serikat suatu hari tidak lagi menginginkannya.
Pernyataan itu segera menjadi perhatian karena datang dari seorang presiden Amerika Serikat yang selama ini dikenal memiliki hubungan politik sangat dekat dengan Israel, khususnya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Meski demikian, pernyataan Trump tersebut disampaikan dalam nada berseloroh.
Tidak ada pengumuman resmi mengenai rencana kepindahan, kewarganegaraan Israel, ataupun langkah politik untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri negara tersebut.
Trump juga tidak menjelaskan dasar survei atau pengukuran yang digunakan untuk menyebut tingkat persetujuannya di Israel mencapai 99 persen.
Karena itu, angka tersebut perlu dipahami sebagai klaim pribadi Trump, bukan hasil survei independen yang telah terverifikasi.
Menariknya, pernyataan mengenai kemungkinan menjadi pemimpin Israel itu muncul dalam wawancara yang juga membahas hubungan Washington dan Tel Aviv, terutama soal bantuan keuangan Amerika Serikat untuk Israel.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengungkapkan bahwa dirinya telah membicarakan penghentian bantuan tahunan Amerika Serikat kepada Israel bersama Benjamin Netanyahu.
Trump menyebut kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan bantuan sekitar 4 miliar dolar AS per tahun mulai akhir 2026.
Jika dikonversikan dengan nilai rupiah yang digunakan dalam pemberitaan, jumlah tersebut setara sekitar Rp63 triliun.
Menurut Trump, Israel sudah tidak lagi membutuhkan bantuan keuangan tersebut.
Ia juga menilai dukungan finansial Amerika Serikat kepada Israel selama ini menjadi sasaran kritik sejumlah politikus Partai Demokrat dan kelompok sayap kiri di dalam negeri.
Trump bahkan mengaitkan persoalan bantuan tersebut dengan dinamika politik menjelang pemilihan paruh waktu.
Ia menilai dukungan keuangan kepada Israel telah menjadi isu yang dimanfaatkan lawan politik untuk menyerang Partai Republik.
Namun, rencana penghentian bantuan itu tidak sesederhana pernyataan Trump.
Reuters melaporkan, kerja sama bantuan militer Amerika Serikat dan Israel selama ini diatur melalui nota kesepahaman yang menyediakan sekitar 3,8 miliar dolar AS setiap tahun.
Kesepakatan tersebut berlaku hingga September 2028.
Selain itu, penyaluran dana bantuan juga berkaitan dengan proses penganggaran tahunan di Kongres Amerika Serikat.
Dengan demikian, pernyataan Trump mengenai penghentian bantuan pada akhir 2026 masih menyisakan persoalan mengenai mekanisme pelaksanaannya.
Reuters juga mencatat bahwa pengumuman Trump disampaikan ketika dukungan publik Amerika Serikat terhadap Israel mengalami penurunan, terutama di kalangan pemilih Partai Demokrat, menyusul perang di Gaza.
Situasi tersebut membuat isu bantuan kepada Israel semakin sensitif dalam politik domestik Amerika Serikat.
Di sisi lain, hubungan Trump dan Netanyahu juga menghadapi dinamika politik di Israel.
Reuters melaporkan, hasil pemilu Israel pada 27 Oktober membuat Netanyahu kehilangan mayoritas pemerintahan, meskipun lawan-lawan politiknya belum memiliki jalan yang jelas untuk menggantikannya.
Penulis: Fachri Mahayupa
Sumber: Tribunnews.com
Editor: Robin Ono Saputra
#trump
#israel
#donaltrump
#pmisrael