SiPitung jawara betawi #legend #jawarabetawi
Ags-Studio
0:00 / 0:00
SiPitung jawara betawi #legend #jawarabetawi
16 789 просмотров · 10 дней назад
Ags-Studio
618 подписчиков
16 789 просмотров · 10 дней назад
Nama aslinya adalah Salihoen atau Salahuddin, anak dari pasangan Piun dan Pinah. Ia lahir di akhir abad ke-19 di Rawa Belong, Jakarta Barat. Sejak kecil ia dididik tata krama dan agama. Ia mengaji dan belajar silat kepada guru besar Betawi, Haji Naipin. Dari situ ia tumbuh menjadi pemuda yang saleh, berbudi luhur, dan gagah perkasa.
2. Awal Perlawanan
Ada dua versi yang terkenal tentang awal mula ia menjadi jagoan:
Versi rakyat: Pitung melihat langsung penderitaan petani dan buruh di Rawa Belong yang diperas oleh tuan tanah dan Belanda. Musuhnya adalah dua kelompok penindas itu.
Versi Van Till (1996): Kisahnya berawal saat Pitung menjual kambing di Pasar Tanah Abang. Hasil jualannya dirampas oleh centeng-centeng tuan tanah bernama Rais, Jiih, Jampang, dan Si Gomar. Pitung pulang dengan tangan hampa tapi hanya tersenyum. Ayahnya yang marah menyuruhnya pergi menuntut keadilan.
Dari kejadian itu, ia sadar hukum kolonial tidak berpihak pada pribumi.
3. Perjalanan Sebagai Sang Jagoan
Bersama tiga sahabatnya — Rais, Jiih, dan Dji-ih — Pitung membentuk kelompok perlawanan.
Modusnya sama seperti Robin Hood: merampok rumah-rumah tuan tanah kaya, orang Belanda, dan para centeng yang menindas, lalu membagikan hasil rampokannya kepada masyarakat miskin. Karena itu ia sangat dicintai rakyat Betawi, tapi dianggap penjahat oleh pemerintah Belanda.
Ia juga dikenal punya ilmu kebal, tidak mempan senjata biasa, dan selalu bergerak cepat menghilang di kampung-kampung Betawi. Kisahnya diwariskan lewat tradisi lisan, rancak, dan pertunjukan lenong dengan syair dan pantun.
4. Akhir Tragis
Karena kesaktiannya, Belanda kesulitan menangkapnya. Akhirnya mereka menggunakan siasat licik. Pitung dikhianati oleh orang dekatnya sendiri.
Menurut legenda yang paling populer, satu-satunya kelemahannya adalah peluru emas. Ia akhirnya ditembak mati dengan peluru emas oleh komplotan Belanda dengan bantuan pengkhianat.
Walaupun pihak berwenang menganggapnya kriminal, bagi orang Betawi, Si Pitung adalah cerminan pemberontakan sosial orang Betawi terhadap penguasa kolonial — simbol keberanian, keadilan, dan pembela wong cilik.