Wilayah Ujungberung Kualitas Udaranya Paling Bahaya Se Kota Bandung | OK TO THE POINT #2
tribunjabar video
0:00 / 0:00
Wilayah Ujungberung Kualitas Udaranya Paling Bahaya Se Kota Bandung | OK TO THE POINT #2
5 213 просмотров · 1 день назад
tribunjabar video
1,14 млн подписчиков
5 213 просмотров · 1 день назад
Indeks kualitas udara di Kota Bandung nyaris masuk kategori buruk, tetapi untuk saat ini dipastikan berada pada kategori sedang meski terdapat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan indeks kualitas udara di Kota Bandung saat adanya sebaran abu vulkanik tersebut dilakukan oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung dengan menggunakan alat ukur IQ Air dan Air Quality Monitoring System (AQMS).
Kepala DLH Kota Bandung, Darto mengatakan berdasarkan pemantauan terbaru, indeks kualitas udara di Kota Bandung saat sebaran abu vulkanik tersebut berada di angka 86, sementara konsentrasi partikulat halus atau PM 2,5 tercatat 28 mikrogram per meter kubik.
"Per jam sekarang kualitasnya sedang. Tadi pagi itu sedang menjelang buruk, sekarang sedang," ujarnya saat ditemui di Balai Kota Bandung, Senin (7/9/2026).
Kondisi tersebut, kata Darto, perlu diperhatikan oleh kelompok sensitif, seperti masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan asma. Mereka disarankan menghindari aktivitas berlebihan di luar ruangan.
"Bagi kelompok sensitif, sebaiknya jangan keluar rumah atau keluar ruangan secara berlebihan karena kondisinya sekarang sedang, statusnya kuning," kata Darto.
Selain itu, pihaknya juga menyarankan kelompok sensitif menggunakan masker KN95 atau masker medis apabila harus beraktivitas di luar.
Sementara masyarakat yang tidak termasuk kelompok rentan tetap bisa beraktivitas dengan menggunakan masker sebagai perlindungan.
Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan karena kualitas udara di Kota Bandung sempat berada di atas angka 100 pada pagi hari.
Semakin tinggi angka indeks tersebut, semakin banyak kandungan partikulat halus yang terdapat di udara.
"Di atas 100 itu artinya kandungan partikelnya semakin banyak. Semakin tinggi angkanya, berarti kandungan partikel mikron yang kita sebut PM 2,5 itu semakin banyak," ucapnya.
Ia mengatakan, paparan partikulat halus itu berpotensi mengganggu saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan, sehingga dengan kondisi ini pihaknya terus memantau pergerakan kualitas udara.
Hanya saja, kata Darto, penanganan partikulat di udara tidak mudah dilakukan karena partikel dapat terbawa angin dan menyebar dalam wilayah yang luas. Dari hasil pemantauan DLH, arah angin di Kota Bandung saat ini berasal dari selatan dan sesekali dari barat.
"Kalau arah angin dari barat ke arah timur, itu yang perlu kita waspadai karena titik sebaran abu vulkanik itu dari arah barat, dari wilayah barat Kota Bandung," kata Darto.
Dengan kondisi ini, pihaknya mengimbau masyarakat tetap memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengurangi paparan langsung, terutama bagi warga yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Sumber: Tribun Jabar