Перейти к содержимому

TIM MABES TNI DAN PASIS DIKREG SESKOAL KE-66 GELAR PENYULUHAN KARHUTLA DI DESA SIMPANG KANAN

dikreg_seskoal_66

0:00 / 0:00

TIM MABES TNI DAN PASIS DIKREG SESKOAL KE-66 GELAR PENYULUHAN KARHUTLA DI DESA SIMPANG KANAN

45 просмотров · 2 недели назад
dikreg_seskoal_66
16 подписчиков
45 просмотров · 2 недели назад
TIM MABES TNI DAN PASIS DIKREG SESKOAL ANGKATAN KE-66 GELAR PENYULUHAN KARHUTLA DI DESA SIMPANG KANAN KUBU RAYA — Tim Mabes TNI bersama Perwira Siswa Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Pasis Dikreg Seskoal) Angkatan Ke-66 melaksanakan kegiatan penyuluhan dan diskusi bersama masyarakat Desa Simpang Kanan, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (3/9/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Simpang Kanan tersebut dimulai pukul 09.50 WIB. Tim Mabes TNI dipimpin Laksma TNI F. Situmeang selaku tertua tim bersama tujuh personel Mabes TNI. Sementara itu, Pasis Dikreg Seskoal Angkatan Ke-66 yang terlibat dalam kegiatan terdiri dari Mayor Laut (P) Robi, Mayor Mar Panggah, Mayor Laut (KH) Atiq Alfiansyah, Mayor Laut (S) Fery, Mayor Laut (P) Khresna Wisuda, Mayor Laut (P) Yeremia, Mayor Laut (S) Sophia Arif, Mayor Mar Dwi Martono, Mayor Mar Ari M.B., dan Mayor Laut (S) Andi Alfianto. Penyuluhan diikuti Kepala Desa Simpang Kanan, Sekretaris Desa, perangkat desa, kepala dusun, RW, RT, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta sekitar 50 warga. Dalam kegiatan tersebut, tim memperoleh gambaran langsung mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kehidupan masyarakat. Desa Simpang Kanan memiliki luas pemanfaatan lahan sekitar 4.475 hektare yang didominasi perkebunan karet, lahan bekas hutan, dan kelapa sawit. Sekitar 150 kepala keluarga yang tinggal di desa tersebut sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada perkebunan karet. Karhutla telah menghanguskan sekitar 58 hektare lahan, terdiri dari 40 hektare kebun karet milik warga, 10 hektare lahan bekas hutan, dan 8 hektare perkebunan kelapa sawit. Kebakaran juga berdampak pada beberapa rumah warga. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan sumber mata pencaharian dan berpotensi menghadapi kesulitan ekonomi. Selain kerugian pada sektor perkebunan, kabut asap yang cukup pekat menyebabkan jarak pandang terbatas dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya saluran pernapasan. Keterbatasan air bersih juga menjadi persoalan serius. Warga harus membatasi penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan mandi hanya dapat dilakukan satu kali dalam sehari. Kondisi tersebut sekaligus menjadi kendala dalam penanggulangan Karhutla karena minimnya sumber air untuk proses pemadaman. Akses jalan menuju Desa Simpang Kanan yang relatif sempit dan hanya dapat dilalui kendaraan berukuran kecil turut menjadi tantangan. Kondisi jalan tersebut dapat menghambat mobilitas masyarakat maupun sarana penanganan kebakaran ketika dibutuhkan secara cepat. Dalam sesi diskusi, masyarakat menyampaikan harapan agar pemerintah dapat memberikan bantuan air minum kemasan, membangun sumur bor sebagai sumber air bersih, serta memberikan dukungan unit mesin pemadam kebakaran. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi Karhutla. Melalui kegiatan penyuluhan dan dialog langsung ini, Tim Mabes TNI dan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan Ke-66 memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kondisi masyarakat terdampak Karhutla. Hasil kegiatan diharapkan menjadi bahan kajian dalam merumuskan langkah penanganan yang lebih tepat, terpadu, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.