Menolak Adat Istiadat tetapi masih menyandang Marga dinamanya.
KEBENARAN MEMERDEKAKANMU
0:00 / 0:00
Menolak Adat Istiadat tetapi masih menyandang Marga dinamanya.
1 166 просмотров · 1 день назад
KEBENARAN MEMERDEKAKANMU
2,09 тыс. подписчиков
1 166 просмотров · 1 день назад
Pandangan Gereja Katolik terhadap fenomena umat yang berpindah atau terpengaruh oleh aliran Protestan Karismatik di perantauan didasarkan pada prinsip inkulturasi dan pemahaman teologis yang seimbang terhadap adat istiadat. Gereja Katolik secara tegas mengajarkan bahwa iman Kristen tidak harus menghancurkan budaya lokal, melainkan menyucikan dan menyempurnakannya.
Berikut adalah penjelasan teologis dan kritis mengenai situasi yang Anda sebutkan, termasuk kontradiksi penggunaan marga serta makna ayat-ayat Alkitab yang dirujuk:
1. Sikap Katolik Terhadap Adat vs. Pandangan Karismatik Ekstrem
Gereja Katolik melalui dokumen Konsili Vatikan II (Gaudium et Spes & Ad Gentes) menerapkan konsep Inkulturasi. Budaya, adat istiadat, dan tradisi leluhur (seperti tradisi masyarakat Batak, NTT, Toraja, dsb.) dipandang sebagai kekayaan yang baik, sejauh tidak bertentangan dengan iman kepada Yesus Kristus. Gereja Katolik memisahkan mana yang bersifat budaya sosial (seperti sistem kekerabatan, gotong royong, tata krama) dan mana yang bersifat animisme (jika ada, ini yang dimurnikan).
Sebaliknya, beberapa oknum atau aliran Protestan Karismatik radikal di perantauan sering kali menganut paham radikal anti-budaya. Mereka cenderung menyamaratakan semua adat istiadat sebagai bentuk "penyembahan berhala" atau "pemujaan setan" tanpa memilah nilai sosial di dalamnya. Ketika seorang Katolik mengalami krisis identitas atau kesepian di perantauan, mereka rentan terpengaruh oleh doktrin ini demi kenyamanan komunitas baru.
2. Kontradiksi Menolak Adat tetapi Tetap Menggunakan Marga (Dinmamu)
Jika seseorang menolak adat istiadat secara total karena menganggapnya kafir atau duniawi, namun tetap bangga menggunakan nama marganya (seperti marga Dinmamu/Dinmumu dari Maluku/Flobamora), maka orang tersebut sedang terjebak dalam kontradiksi logis dan teologis (standar ganda).
Marga adalah Produk Adat: Sistem marga atau silsilah keluarga tidak jatuh dari langit, melainkan lahir dari tatanan adat, hukum adat, dan sejarah leluhur masyarakat.
Fungsi Marga: Marga mengatur sistem pernikahan, persaudaraan, hak waris, dan struktur sosial yang semuanya diatur oleh hukum adat.
Kritik Katolik: Jika seseorang menganggap adat itu haram atau berdosa, maka secara logis ia juga harus membuang marganya. Memakai marga sambil menghujat adat adalah bentuk ketidakkonsistenan berpikir akibat indoktrinasi yang dangkal.
3. Penjelasan Ayat Alkitab yang Anda Sebutkan
Pihak yang anti-adat sering kali menyalahgunakan ayat-ayat Alkitab untuk melegitimasi penolakan mereka. Mari kita luruskan maknanya secara eksegesis Katolik:
Yohanes 2:1-2, 6 (Pernikahan di Kana)
"Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea... Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu... Di situ menyediakan enam tempayan batu untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi..."
Tafsiran Katolik: Ayat ini justru mendukung adat istiadat yang baik. Yesus bukan hanya datang menghadiri pesta pernikahan adat Yahudi, tetapi Ia melakukan mukjizat pertama-Nya di sana. Lebih dari itu, air yang diubah menjadi anggur berada di dalam tempayan yang digunakan untuk "pembasuhan menurut adat orang Yahudi". Yesus tidak menghancurkan tempayan adat itu, melainkan memakai sarana adat tersebut untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Ini adalah dasar alkitabiah bagi inkulturasi.
Kisah Para Rasul 17:18 (Yesus di Athena / Areopagus)
"Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia..."
Tafsiran Katolik: Dalam perikop ini, Rasul Paulus berdebat dengan para filsuf Yunani di Athena. Paulus tidak langsung memaki-maki budaya dan filsafat mereka sebagai sesuatu yang iblis. Sebaliknya, di ayat selanjutnya (Kis 17:22-23), Paulus justru memuji religiositas mereka dan menggunakan mezbah adat mereka yang bertuliskan "Kepada Allah yang tidak dikenal" sebagai jembatan untuk mewartakan Kristus. Paulus menghargai konteks budaya setempat untuk memasukkan terang Injil, bukan melakukan pemberangusan budaya secara membabi buta.
Kesimpulan
Seorang Katolik yang merantau dan kemudian menolak adat istiadatnya sendiri karena pengaruh aliran karismatik tertentu sering kali kekurangan pemahaman katekese Kristen yang mendalam. Gereja Katolik mengingatkan bahwa menjadi Kristen yang taat tidak berarti harus kehilangan jati diri budaya. Menolak adat tetapi tetap menyandang marga adalah bukti nyata bahwa pemisahan antara iman dan budaya yang mereka lakukan tidak konsisten dan keliru.