Перейти к содержимому

Warangka - Pensil Langit

Pensil Langit

0:00 / 0:00

Warangka - Pensil Langit

15 084 просмотра · 1 месяц назад
Pensil Langit
11,8 тыс. подписчиков
15 084 просмотра · 1 месяц назад
Tak semua yang hilang tersesat Ada yang pulang menemui hakikat Angin berlalu layar menunggu Muara memanggil pulanglah selalu ⸻ Ku pasang sauh saat samudera masih diam Sebab gelora tak pernah meminta salam Kubaca angin sebelum layar dibuka Arah berubah tanpa sempat bersuara Dammar terbakar menghabiskan usia Habis dirinya lahirlah cahaya Warangka diam memeluk besi Tajam tak pernah meminta dipuji Aku belajar rendah daripada padi Makin berisi makin mengenal diri Yang karam bukan biduk di lautan Cuma nakhoda kehilangan pegangan Terlajak perahu masih mengenal muara Terlajak bicara hilang segala bicara Ku pilih diam ketika dunia berbalah Sebab sunyi lebih tahu makna kalah ⸻ Tak semua yang hilang tersesat Ada yang pulang menemui hakikat Angin berlalu layar menunggu Muara memanggil pulanglah selalu ⸻ Wa an ila rabbikal muntaha. ⸻ Ku pikul nama lebih berat daripada pujian Sebab tepukan sering melahirkan kelalaian Rebab mengalun mengubat resah Serunai menyimpan seribu kisah Sauh yang kukuh tak terlihat mata Akarnya tertanam jauh ke dasar samudera Yang rebah belum tentu binasa Kadang jatuh menjadi jalan membaca Ku tinggalkan jejak di pasir waktu Ombak datang memadam satu persatu Yang tinggal bukan nama pada batu Cuma amal yang mencari aku Kalau esok tubuh kembali menjadi debu Biarlah doa masih mengenal namaku Kalau pelayaran akhirnya berakhir Semoga muara menerima fakir ⸻ Tak semua yang hilang tersesat Ada yang pulang menemui hakikat Angin berlalu layar menunggu Muara memanggil pulanglah selalu ⸻ Ku menoreh waktu pada urat meranti Gelanggang sunyi lebih luas dari puji Jelaga menghitam bukan petanda binasa Kadang bara memilih diam sebelum bernyala Ku pintal makna pada serat yang rapuh Benang terputus belum tentu runtuh Timbang tara selalu kalah pada tara Bila nilai dijual dengan angka Cermin meminjam wajah tanpa mengenal tuan Bayang mengikut langkah tanpa pendirian Yang bersalut emas belum tentu mulia Karat pun tahu memelihara setia Ku pulang bukan membawa gelaran dunia Hanya hela nafas yang pernah dijaga Bila pintu dibuka tanpa sebarang suara Semoga namaku disebut bersama rahmat-Nya Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un