Перейти к содержимому

Sejarah I BANTEN GIRANG KERAJAAN MASA PRA ISLAM I Kota Serang-Banten

Mang Dhepi

0:00 / 0:00

Sejarah I BANTEN GIRANG KERAJAAN MASA PRA ISLAM I Kota Serang-Banten

18 491 просмотр · 3 г. назад
Mang Dhepi
7,33 тыс. подписчиков
18 491 просмотр · 3 г. назад
Berbicara tentang wilayah Banten, tak akan bisa lepas dari Banten Girang atau wahanten girang yang merupakan cikal bakal lahirnya sejarah Kerajaan di Banten. Salah satu tinggalan Kerajaan Banten Girang yang masih dapat ditemui hingga saat ini adalah situs Banten Girang yang terletak di Kampung Telaya, Desa Sempu, Kecamatan Serang, Kota Serang, Provinsi Banten. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Claude Guillot seorang arkeologi dari prancis pada tahun 1988 – 1992, situs Banten Girang merupakan situs pemukiman/perkotaan. Penafsiran tersebut berdasarkan pada temuan struktur bagunan pertahanan yang berbentuk parit dan dinding tanah dengan pola yang tidak teratur. Diperkirakan situs ini berasal dari abad ke-10 dan mencapai puncaknya pada abad 14 Masehi. Periodisasi tersebut mengacu pada keramik asing, keramik lokal, pecahan prasasti, benda-benda logam, mata uang, batu-batuan, dan manik-manik yang ditemukan dari hasil eksavasi yang dilakukan oleh Guillot. Selain itu, reruntuhan candi tua yang berlokasi di lereng Gunung Pulasari tampaknya telah dibangun pada awal abad ke-10 dan pada masa yang sama dengan pembangunan kota Banten Girang. Kaitan antara sebuah pusat politik dan candi yang berlokasi di sebuah lereng gunung suci adalah faktor umum yang diketemukan di semua Kerajaan Hindu di Asia Tenggara. Meskipun sistem pertahanan kota ini bergaya Melayu, tampak dari arca-arca seperti (arca Siwa, arca Brahma, arca Durga, arca Agastya, arca Ganesha, dan Lapik Arca yang sekarang berada di museum Nasional Jakarata) yang semuanya diketemukan di candi Pulosari, ini menunjukkan bahwa Pulosari adalah sebuah candi suci yang menghadirkan ikonografi yang sama seperti yang digunakan di candi-candi di Jawa Tengah. Bukti lebih jauh dari adanya sebuah Kerajaan baru di Sunda diketemukan pada sebuah prasasti batu yang diketemukan di Coampea (bogor bagian timur) yang disebut “Prasasti Kebon Kopi II”. Pakar arkeologi Frederik David Kan Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, dan diterjemahkan berbunyi, seorang "Raja Sunda menduduki kembali tahtanya" dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 932 Masehi. Namun prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an. Tentu, sebelum Kerajaan Padjajaran berkuasa di Banten Girang telah ada Kerajaan sebelumnya Bernama Kerajaan Sunda yang beribukota di Banten Girang yang diyakini sebagai daerah bawahan Sriwijaya. Menurut Paul Munoz, di bawah perlindungan Sriwijaya, para pangeran Jawa bisa Makmur dengan tanpa menimbulkan kecurigaan dari para Maharaja Sriwijaya. Namun, para pangeran Banten Girang perlahan meluaskan pengaruhnya di Sumatera Selatan, di wilayah Lampung. Selain itu, terdapat para elite bangsawan dari Jawa Tengah yang migrasi ke Banten Girang untuk mendapatkan perlindungan dari Sriwijaya dengan berjanji untuk setia kepadanya. Pada abad 11 dan 13 ada banyak pusat dagang baru yang muncul pada kedua sisi Selat Sunda, sebuah petunjuk bahwa pertukaran komersial telah meningkat di wilayah itu. Hal ini dikuatkan oleh Zhao Rugua dalam Zhu Fan Zhi (1225), dimana menyebtkan Banten (Sin’to, Sunda) masih merupakan daerah bawahan Sriwijaya dan bahwa wilayah itu adalah penghasil lada utama bagi pasaran Cina. Dia juga menyebutkan bahwa pada masa itu (1225) kekuatan Sriwijaya melemah. 👥 more info: @perpushalwany, @bantenologi5007, @balaipelestariankebudayaan9932 #sejarahbanten #bantengirang #senibanten #budayabanten #wisatabanten #bantenmasapraislam #cagarbudayaindonesia #jejaksejarahbanten #jagawarisankita