Перейти к содержимому

Kenapa Kita Gampang Nge-judge Orang dari Video Pendek?

Sedikit Lebih Pintar

0:00 / 0:00

Kenapa Kita Gampang Nge-judge Orang dari Video Pendek?

201 просмотр · 8 дн. назад
Sedikit Lebih Pintar
25 подписчиков
201 просмотр · 8 дн. назад
Lu lihat klip 30 detik, orangnya ngejawab ketus, dan jari lu langsung kebuka ke kolom komentar. Tapi apa yang sebenernya lu tahu soal orang itu? Di video ini kita bahas fundamental attribution error: kecenderungan otak buat meremehkan situasi dan menganggap perilaku orang sebagai cerminan karakternya. Lalu kenapa media sosial bikin kebiasaan ini makin parah. Yang dibahas: Kenapa orang yang klakson dan nyalip buru-buru di jalan langsung kita cap arogan, padahal kita nggak tahu situasinya Fundamental attribution error: kita remehin pengaruh situasi, bahkan waktu jelas-jelas tahu ada situasi yang maksa orang itu begitu Eksperimen Princeton awal 1970-an: mahasiswa teologi dan orang yang tergeletak di lorong. Yang menentukan mereka nolong atau nggak ternyata bukan isi ceramahnya, tapi lagi buru-buru atau nggak Tiga cara media sosial memperparah: otak di mode santai, video pendek cuma nyorot orangnya (situasi ketinggalan di luar frame), dan vonis cepat dapet "hadiah" like Eksperimen Northwestern 2019: kejadian yang sama persis, direkam dari tiga kamera berbeda, dinilai sengaja atau nggak sengaja secara berbeda Penelitian Yale soal 12,7 juta tweet, dan riset 2024 soal postingan yang bikin marah lebih sering dibagiin tanpa dibaca Langkah pertama sebelum ikut komen: "gue nggak tahu" itu bukan kelemahan BAB 00:00 Klip 30 detik 00:53 Superpower atau kecacatan? 01:27 Kita bukan Sherlock Holmes 02:09 Klakson di jalan 02:44 Eksperimen Princeton 04:13 Ketemu media sosial 04:35 Cara 1: otak mode santai 05:33 Cara 2: video pendek cuma nyorot orangnya 07:55 Cara 3: hadiah buat vonis cepat 09:13 Rangkuman: kacau 09:35 Giliran lu yang dikulitin 10:46 Sebelum jari lu menari Pertanyaan buat lo: pernah nggak lu di-judge dari satu potongan kejadian yang nggak nunjukin situasi lu sebenarnya? Ceritain di kolom komentar. Orang yang ketus di klip pembuka dan karakter lain di video ini adalah tokoh rekaan untuk contoh. Video ini penjelasan umum tentang satu bias berpikir, bukan klaim bahwa karakter orang nggak pernah berpengaruh pada perilakunya. Materi: Naufal Mohammad Hogantara SUMBER Ross, L. (1977). The intuitive psychologist and his shortcomings: Distortions in the attribution process. Advances in Experimental Social Psychology, 10, 173–220. (Istilah "fundamental attribution error" berasal dari tulisan ini.) Jones, E. E., & Harris, V. A. (1967). The attribution of attitudes. Journal of Experimental Social Psychology, 3(1), 1–24. Darley, J. M., & Batson, C. D. (1973). "From Jerusalem to Jericho": A study of situational and dispositional variables in helping behavior. Journal of Personality and Social Psychology, 27(1), 100–108. (Eksperimen mahasiswa teologi.) Turner, B. L., Caruso, E. M., Dilich, M. A., & Roese, N. J. (2019). Body camera footage leads to lower judgments of intent than dash camera footage. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(4), 1201–1206. (Eksperimen Northwestern.) Brady, W. J., McLoughlin, K., Doan, T. N., & Crockett, M. J. (2021). How social learning amplifies moral outrage expression in online social networks. Science Advances, 7(33), eabe5641. (Penelitian Yale.) McLoughlin, K. L., Brady, W. J., Goolsbee, A., Kaiser, B., Klonick, K., & Crockett, M. J. (2024). Misinformation exploits outrage to spread online. Science, 386(6725), 991–996. Ilustrasi digambar sendiri. Latar jalan, kampus, dan ruang tamu dibuat dengan bantuan AI (Gemini), lalu diwarnai ulang dan digabung dengan gambar buatan sendiri. Tidak ada foto asli di video ini.