Let's Dance! KUMBALA'
Mîkhā'ēl
0:00 / 0:00
Let's Dance! KUMBALA'
113 просмотров · 8 дней назад
Mîkhā'ēl
319 подписчиков
113 просмотров · 8 дней назад
#kumbala #indonesian #music #sulawesiselatan
Source ToD: / @todmusik
Kumbala': • Kumbala'
Selama lima tahun, Aula Naga Emas terbiasa melihat pemandangan yang sama; Seorang kaisar berusia 75 tahun yang duduk terbungkuk, mata kanannya tertutup selaput putih (konon palsu?), napasnya tersengal-sengal, dan jemarinya bergetar setiap kali memegang kuas. Bagi Kasim Kepala Zhang, kaisar tua itu tak lebih dari seonggok daging rapuh yang menghitung hari menuju liang lahad.
Malam itu, di Paviliun Yanhe yang sunyi dan beraroma dupa cendana, Zhang melangkah masuk tanpa membungkuk dalam-dalam seperti biasanya. Langkah kakinya terdengar pongah di atas lantai marmer.
Di atas dipan sutra, sang Kaisar terbaring miring. Selimut bulu musang menutupi tubuhnya yang tampak bengkak dan ringkih.
Zhang mendekat, merendahkan tubuhnya, lalu membisikkan kata-kata beracun persis di telinga kaisar—tempat ia biasa menyaring kebenaran selama bertahun-tahun.
“Yang Mulia, malam ini angin bertiup kencang. Pasukan perbatasan sudah menguasai gerbang kota, dan para menteri telah sepakat,” bisik Zhang dengan senyum tipis yang meremehkan. “Dekret pemindahan takhta kepada putra mahkota boneka sudah saya siapkan. Anda hanya perlu mengecapkan stempel giok ini, lalu beristirahatlah selamanya. Cangkir teh beracun ini akan mengakhiri penderitaan napas tua Anda tanpa rasa sakit.”
Kaisar tidak merespons, hanya mengeluarkan erangan serak dan tangan kanannya terangkat gemetar di udara.
Merasa urusannya hampir selesai, Zhang tersenyum licik dan menyodorkan gulungan sutra kuning. “Pegang kuasnya, Orang Tua. Berhentilah berpura-pura memerintah.”
Namun, saat jari Zhang menyentuh ujung lengan jubah kaisar, udara di paviliun seketika berubah dingin.
Gerakan tangan yang tadinya gemetar berubah dalam sekejap mata. Jemari kaisar yang kapalan mencengkeram pergelangan tangan Zhang secepat sambaran kilat, mengunci urat nadinya dengan kekuatan yang mustahil dimiliki pria renta sekarat.
Zhang membelalak. Suara retakan tulang terdengar tajam diiringi jerit tertahan sang kasim.
“Kau terlalu berisik, Zhang,” ucap sebuah suara. Suara itu bukan dengusan serak orang jompo, melainkan nada bariton yang jernih, tenang, dan menusuk tulang sumsum.
Kaisar melempar selimut bulunya ke samping, lalu bangkit berdiri tegak lurus. Postur 169 sentimeter yang selama bertahun-tahun tampak bungkuk dan kuyu itu kini membusung kokoh. Tubuh yang dianggap Zhang bengkak oleh timbunan lemak akibat penyakit hanyalah lapisan otot liat hasil latihan napas dan bela diri di kamar tidurnya yang terkunci rapat setiap tengah malam.
Kedua mata kaisar terbuka lebar. Tak ada selaput putih, tak ada pandangan berkabut. Tatapannya setajam elang pemangsa yang menatap tikus tanah di depannya.
“B-bagaimana mungkin…” lidah Zhang kelu, napasnya tercekat melihat raja yang selama ini ia kendalikan berdiri tanpa tongkat.
“Selama lima tahun aku meminum ramuan akar manis untuk mengaburkan bola mataku pada siang hari, membiarkanmu merasa menang,” ucap Kaisar dingin seraya menatap cangkir teh beracun di atas meja. “Aku butuh kau merasa aman, Zhang. Tikus yang merasa aman akan memanggil seluruh kawanannya keluar dari sarang.”
Kaisar melangkah santai menuju jendela paviliun, lalu menyibak tirai sutra berat.
Di pelataran istana, bukannya pasukan pemberontak yang tampak, melainkan ratusan prajurit Pengawal Naga Hitam—pasukan elite setia kaisar yang selama ini dilaporkan kasim 'telah mati karena wabah di utara'—telah mengepung tempat itu. Di barisan depan, para menteri dan jenderal yang bersekutu dengan Zhang sudah berlutut dengan leher terikat rantai besi.
“Kau mengira menguasai jalur informasiku?” Kaisar menoleh ke belakang, melirik seringai ketakutan di wajah Zhang. “Setiap titah yang kutandatangani dengan tangan gemetar adalah daftar nama orang-orangmu yang masuk ke dalam buku kematianku.”
Zhang jatuh berlutut, membenturkan dahinya ke marmer berkali-kali hingga berdarah. “A-ampun, Yang Mulia! Hamba buta! Hamba hanyalah anjing peliharaan Anda!”
“Anjing yang berani menaruh racun di cangkir tuannya tak layak hidup di pekarangan,” gumam sang Kaisar tanpa emosi.
Kaisar mengangkat tangan kanannya, memberi tanda ke luar jendela. Detik berikutnya, pintu paviliun didobrak oleh pengawal lapis baja. Tanpa menoleh lagi pada jerit histeris kasim yang diseret keluar, Kaisar tua itu menuangkan cangkir teh beracun ke lantai, lalu duduk kembali di singgasananya—tanpa topeng, tanpa kelemahan, siap menghabisi sisa pengkhianat hingga ke akarnya.