Kata Murid Syaikh Al Albani Atas Tuduhan "Albani Bukan Ahli Hadits" - Syaikh Dr. Akram Ali Ziyadah
Bali Mengaji и Hudzaifah Maricar
0:00 / 0:00
Kata Murid Syaikh Al Albani Atas Tuduhan "Albani Bukan Ahli Hadits" - Syaikh Dr. Akram Ali Ziyadah
5 462 просмотра · 6 часов назад
Bali Mengaji и Hudzaifah Maricar
5 462 просмотра · 6 часов назад
Lagi heboh dan lagi ramai seseorang mengatakan bahwa Syaikh Nashiruddin Al Albani bukanlah ahli hadits, melainkan peneliti hadits.
Padalah, kalau kita ambil bandingan para Muhaddits atau Ahli Hadits di eranya Syaikh Albani yang terkenal produktif dalam mentakhrij dan menilai derajat Hadits:
Syaikh Ahmad Syakir, pentakhrij sebagian Musnad Ahmad dan Tirmidzi.
Syaikh Albani, pentakhrij Sunan Arba'ah dan Manarus Sabil.
Syaikh Ahmad Al-Ghumari, pentakhrij Bidayatul Mujtahid.
Syaikh Muqbil, penulis Al-Jami' Ash-Shahih dan Ahadits Mu'allah.
Yg pertama Muhaddits Mesir, yg kedua Muhaddits Syam, yg ketiga Muhaddits Maroko, yg keempat Muhaddits Yaman, semuanya ternyata tidak dikenal punya guru bimbingan untuk Kajian Hadis yg mereka geluti.
Bisa juga kita tambahkan:
Syaikh Syu'aib Arnauth, pentakhrij Musnad Ahmad bersama timnya.
juga tidak dikenal punya guru pembimbing dalam Kajian Hadist
Lalu apa hubungannya antara punya guru atau tidak punya guru dengan kepakaran dalam Penelitian Hadist ?
Penelitian Hadist itu ilmu aplikatif. Yg sangat dituntut adalah wawasan Bibliografi dan Kaidah serta jam terbang tinggi di Perpustakaan. Dan di jaman tersebut yang juga sangat dituntut adalah ketersediaan manuskrip-manuskrip referensi yg melimpah.
Bukan punya guru atau tidak punya guru. Apalagi sekadar punya sanad atau tidak punya sanad.
Dalam persanadan itu, kalau dikaitkan dengan keawasan dan pemahaman, kaidahnya adalah:
فرب حامل فقه ليس بفقيه،
ورب حامل فقه إلى من هو أفقه منه.
Guru dalam sanad bisa kalah pemahaman dibandingkan muridnya. Bahkan, guru dalam sanad bisa jadi bukan faqih.
Kalau dalam realitas luas, sejak setelah era Sahabat, guru dalam sanad itu bisa juga bukan hanya "non-faqih", melainkan bisa pula merupakan rawi yg pelupa, berubah di usia lanjut, atau bahkan muttaham dan pendusta.
Oleh karena itulah maka ada ilmu Jarh dan Ta'dil.
Adapun di jaman skrg, juga seperti itu dan bahkan sanad sudah tidak lagi jadi patokan. Karena sanadnya pun sudah terpisah dari matannya, sehingga tidak lagi efektif utk akurasi Matan (selain sanad Qiraat Al-Quran). Patokannya adalah manuskrip yg terakurat.
*Ustadz Nidhol Masyhud, Lc
#islam
#kajianislam
#dakwah
Subscribes, Like dan follow akun Bali Mengaji:
Instagram : / balimengaji
YouTube Channel : / balimengaji
Fan Page: www.facebook.com/balimengaji/
X: https://x.com/balimengaji
Tiktok: / tiktok4dakwah