Перейти к содержимому

Mengapa Surga Justru Merindukan Manusia?

ADA SATU

0:00 / 0:00

Mengapa Surga Justru Merindukan Manusia?

260 просмотров · 2 недели назад
ADA SATU
257 подписчиков
260 просмотров · 2 недели назад
Kita semua tentu berharap masuk surga. Surga menjadi gambaran tentang tempat yang penuh kenikmatan, tempat segala sesuatu yang indah dan menyenangkan tersedia. Karena itu, manusia berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan harapan kelak memperoleh kehidupan yang lebih baik di sana. Namun, ada sebuah riwayat yang menghadirkan pertanyaan menarik: bukan hanya manusia yang merindukan surga, tetapi surga justru disebut merindukan Salman Al-Farisi. Bahkan dikatakan bahwa kerinduan surga kepada Salman lebih besar daripada kerinduan Salman kepada surga. Apa yang membuat seorang manusia memiliki kedudukan seperti itu? Pertanyaan ini membawa kita kepada pengertian yang lebih dalam tentang perjalanan jiwa. Selama ini mungkin kita membayangkan surga terutama sebagai tempat memanen kelezatan. Makanan yang lezat, kenikmatan, ketenteraman, dan segala sesuatu yang menyenangkan. Tetapi bagaimana jika ternyata ada manusia yang dalam perjalanan hidupnya sudah mampu melampaui ketergantungan kepada kelezatan indrawi dan biologis? Bukan berarti ia tidak mempunyai indra, hasrat biologis atau tidak dapat merasakan kenikmatan. Ia tetap manusia. Tetapi ia tidak lagi menjadi budak dari apa yang dirasakan oleh matanya, telinganya, lidahnya, pikirannya maupun hawa nafsunya. Matanya tidak digunakan untuk mencari kemaksiatan. Telinganya tidak menikmati ghibah. Lisannya tidak digunakan untuk menyakiti atau ucapan perkataan yang sia-sia. Pengetahuannya tidak dijadikan sumber kesombongan. Bahkan gagasan dan persepsinya pun tidak ia gunakan untuk mencari publisitas atau pengakuan. Ia memiliki semua itu, tetapi mampu menundukkannya. Dalam diskusi sebelumnya kita berbicara tentang berbagai "malaka" yang berada dalam diri manusia. Potensi-potensi itu dapat membawa manusia kepada kemuliaan, tetapi juga dapat menyeretnya kepada kehinaan. Manusia yang tinggi bukanlah manusia yang kehilangan nafsu, melainkan manusia yang mampu menempatkan seluruh dorongan dirinya di bawah nilai-nilai yang lebih luhur. Di sinilah sosok Salman Al-Farisi menjadi menarik. Ia bukan hanya dikenal karena kesalehannya, tetapi juga karena keluasan pandangannya. Ketika menghadapi ancaman besar, ia memberikan gagasan membuat parit sebagai strategi pertahanan. Sebuah gagasan yang menunjukkan bahwa ia mampu melihat jauh melampaui keadaan yang sedang dihadapinya. Mungkin inilah gambaran manusia yang tidak lagi sibuk mengejar kelezatan, melainkan mengejar kebenaran, keadilan, keagungan dan kedekatan kepada Tuhan. Dalam perspektif ini, Al-A'raf dapat direnungkan sebagai sebuah ketinggian: posisi jiwa yang mampu melihat surga dan neraka tanpa tenggelam di dalam salah satunya. Ia tidak lagi diperbudak oleh kenikmatan, tetapi juga tidak hidup hanya karena ketakutan terhadap siksa. Orientasinya telah bergeser kepada sesuatu yang lebih tinggi: Tuhan itu sendiri. Maka pertanyaannya kemudian bukan lagi, "Apakah saya akan masuk surga?" Pertanyaan yang lebih dalam mungkin adalah: "Seperti apakah jiwa saya ketika sampai di sana?" Apakah kita masih merindukan surga karena membayangkan segala kenikmatannya? Ataukah jiwa kita sedang belajar mencapai keadaan ketika surga bukan lagi tujuan utama? Sebab semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia menyadari bahwa segala nikmat, pengetahuan, kemampuan dan keindahan pada hakikatnya bukan miliknya. Semuanya dinisbahkan kembali kepada-Nya. Pada tingkat kesadaran seperti itu, manusia tidak lagi berpaling kepada kenikmatan sebagai tujuan. Ia hanya berpaling kepada Tuhan. Mungkin karena itulah surga merindukan manusia seperti Salman. Bukan karena Salman mengejar surga, tetapi karena jiwanya telah mencapai suatu ketinggian di mana surga sendiri seolah menjadi pihak yang menantikan kedatangannya. Kutipan Inspiratif: "Puncak perjalanan jiwa bukan lagi ketika manusia merindukan surga, tetapi ketika ia mencapai keadaan di mana surga pun merindukannya” - @adasatu12 Hashtag: #PsikologiSpiritual #FilosofiHidup #Ikhlas #Melepaskan #MotivasiHidup #PengembanganDiri #KesadaranDiri #SpiritualJourney #RenunganHidup #KebijaksanaanHidup #SelfHealing #MaknaKehidupan #MindsetPositif #BelajarIkhlas #PelajaranHidup #RefleksiDiri #InnerPeace #Spiritualitas #PengendalianDiri #Semesta