KH. Nurul Huda Djazuli || Pengajian Hikam Hal : 61-62 || PP. Ploso Mojo Kediri
Potret Santri
0:00 / 0:00
KH. Nurul Huda Djazuli || Pengajian Hikam Hal : 61-62 || PP. Ploso Mojo Kediri
2 769 просмотров · 4 года назад
Potret Santri
57,7 тыс. подписчиков
2 769 просмотров · 4 года назад
Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Abdul Karim ibn Atha'illah al-Jadzami al-Maliki as-Sakandari, atau lebih populer dengan sebutan Syekh Ibn Atha'illah as-Sakandari yang lahir di Iskandariah atau Alexandria (Mesir) pada tahun 648 H/1250 M, dan meninggal di Cairo (Mesir) pada 1309 M. Julukan as-Sakandari merujuk pada kota kelahirannya itu.
Ia hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mamluk. Sejak kecil, Ibn Atha'illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syekh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu al-Abbas Ahmad ibn Ali as-Anshari al-Mursi, murid dari Abu al-Hasan al-Syadzili, pendiri tarekat al-Syadzili.
Dalam bidang fikih, ia menganut dan menguasai madzhab Maliki. Sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarekat al-Syadzili. Ia dikenal luas sebagai seorang ''master'' (syekh besar) ketiga di lingkungan tarekat sufi Syadziliyah.
Dibandingkan kedua gurunya tersebut, Syekh Ibn Atha'illah adalah orang pertama yang menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi pendiri tarekat Syadziliyah (Abu al-Hassan asy-Syadzili) dan penerusnya (Abu al-Abbas al-Mursi), sehingga khazanah tarekat Syadziliyah tetap terpelihara.
Ia menghabiskan hidupnya di Cairo dengan mengajar fikih madzhab Maliki di berbagai lembaga intlektual, antara lain Masjid Al-Azhar. Di kota tersebut, ia pun mengajarkan tarekat sufi Syadziliyah.
Selain terkenal sebagai master Syadziliyah (sufisme), Ibn Atha'illah juga dikenal sebagai seorang faqih (ahli fikih) yang hebat dalam mazhab Maliki. Meski usianya masih muda, ia sudah mampu menjelaskan tentang masalah-masalah fikih yang ditanyakan padanya. Ibn Atha'illah berpandangan, bahwa di luar hukum syariat tidak ada lagi yang yang perlu dicari.
Karena pandangannya yang kokoh ini, banyak orang yang kemudian melakukan dialog dengannya untuk mendapatkan penjelasan dari yang dimaksudkannya. Termasuk terhadap gurunya sendiri, yaitu Stekhy Abul Abbas al-Mursi, sangat guru besar tarekat Syadziliyah.
Ibn Atha'illah tergolong ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya tulis yang telah dihasilkannya, mencakup bidang tasawuf, tafsir, hadits, akidah, nahwu dan usul fikih. Namun yang paling terkenal adalah kitab Al-Hikam. Buku ini disebut-sebut sebagai magnum opus-nya. Kitab ini sudah beberapa kali sidyarah, antara lain oleh mUhammad bin Ibrahim Ibnu 'Ibad ar-Rundi, Syekh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba.
Selain Al-Hikam, kitab lain yang ditulisnya adalah Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbi fi at-Tasawwuf, 'Unwaan al-Taufiq fi 'adab al-Thariq, Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah fi dzikrullah al-Karim al-Fattah, Al-Muraqqu ila al-Qadir al-Abqa', dan Al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai persoalan-persoalan tauhid.
Buku-buku karangan Ibn 'Atha'illah dibaca luas oleh kaum Muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas madzhab dan tarekat, terutama kitab Al-Hikam yang melegenda ini. Kitab Al-Hikam sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren yang ada di Nusantara.
tag :
hikam ibnu athaillah
hikam ibnu athaillah pdf
hikam ibnu ruslan
hikam ibnu athaillah nu online
syarah al hikam ibnu athaillah pdf
kitab al hikam ibnu athaillah as sakandari
buku al hikam ibnu athaillah
terjemahan al hikam ibnu athaillah pdf
mutiara al hikam ibnu athaillah
isi kitab al hikam ibnu athaillah
al hikam ibnu athaillah
kitab al hikam ibnu athaillah pdf
kitab syarah hikam ibnu athaillah
kata kata al hikam ibnu athaillah
mutiara al hikam
isi kandungan kitab al hikam
kitab hikam pdf
kitab al hikam membahas tentang
al hikam tentang hidup
al hikam tentang hati
al hikam tentang wanita
syair cinta ibnu athaillah