Перейти к содержимому

Babi Hutan Taktik Raja

VIDEOJATAKA

0:00 / 0:00

Babi Hutan Taktik Raja

81 просмотр · 6 дней назад
VIDEOJATAKA
46 подписчиков
81 просмотр · 6 дней назад
No. 283 VAḌḌHAKI-SŪKARA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Yang terbaik, yang terbaik selalu kamu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Thera Dhanuggahatissa. Mahākosala, ayah dari Raja Pasenadi, ketika menikahkan putrinya, Kosaladevī, kepada Raja Bimbisāra, memberikan sebuah Desa Kāsi yang menghasilkan upeti sebesar seratus ribu keping uang. Ketika Ajātasattu membunuh ayahnya, sang raja, Kosaladevī meninggal dunia dikarenakan rasa dukanya. Kemudian Raja Pasenadi berpikir, “Ajātasattu telah membunuh ayahnya, adikku meninggal dikarenakan rasa duka atas nasib yang menimpa suaminya. Saya tidak akan memberikan Kota Kāsi kepada si pembunuh orang tua.” Demikian dia menolak untuk memberikannya kepada Ajātasattu. Ajātasattu adalah orang yang kejam dan kuat, sedangkan Pasenadi adalah orang yang tua, jadi dia selalu kalah dan kalah, dan penduduk Mahākosala kalah secara umum. Kemudian raja bertanya kepada para menterinya, “Kita selalu kalah. Apa yang harus yang dilakukan?” “Paduka,” kata mereka, “orang-orang yang mulia dikatakan ahli dalam pembahasan. Kita harus mendengar pembahasan dari para bhikkhu yang tinggal di dalam Wihara Jetavana.” Kemudian raja mengutus menteri-menterinya, menyuruh mereka untuk mendengarkan pembahasan dari para bhikkhu pada waktu yang tepat. Kala itu, terdapat dua thera tua yang tinggal di dalam sebuah gubuk daun di dekat wihara, yang bernama Thera Utta dan Thera Dhanuggahatissa. [404] Dhanuggahatissa tidur selama bagian pertama dan kedua penggal terakhir malam hari. Bangun pada bagian ketiga penggal terakhir malam hari, dia membelah beberapa kayu, membuat perapian, duduk, dan berkata, “Bhante Utta Thera!” “Ada apa, Bhante Dhanuggahatissa?” “Apakah Anda tidak tidur?” “Sekarang kita sudah bangun, apa yang harus dilakukan?” “Bangunlah sekarang, dan duduk di sampingku.” Dia pun melakukan demikian dan mulai berbincang dengannya. “Raja Kosala bodoh yang berperut kendi itu tidak pernah bisa memiliki sebuah kendi nasi tanpa membiarkannya hancur: dia tidak tahu bagaimana cara berperang. Dia selalu kalah dan dipaksa menyerah.” “Apa yang seharusnya dilakukan olehnya?” Pada saat itu, menteri-menteri raja berdiri sambil mendengarkan pembicaraan mereka. Thera Dhanuggahatissa membahas tentang perang. “Bhante,” katanya, “perang itu ada tiga jenis: perang teratai, perang roda, dan perang kereta 261 . Jika mereka yang ingin mengalahkan Ajātasattu menempatkan dua garnisun262 di dua benteng tepat di atas perbukitan dan, berpura-pura mereka adalah pasukan lemah, mengawasinya sampai dia berada di antara perbukitan itu, kemudian menutup jalannya, melompat keluar dari kedua benteng, menyerangnya dari bagian depan dan belakang, berteriak dengan kuat, maka mereka bisa dengan cepat mendapatkannya seperti seekor ikan di darat, seperti seekor katak di dalam tangan; dan demikian mereka bisa menangkapnya.” Semua ini diceritakan oleh para menteri kepada raja. Raja memerintahkan untuk menabuh genderang melakukan penyerangan, mengatur bala tentaranya, dan menangkap Ajātasattu hidup-hidup. Putrinya, Vajirā, dinikahkan dengan putra dari adik perempuannya, dan diberikan Desa Kāsi yang menghasilkan upeti sebesar seratus ribu keping uang. Kejadian ini diketahui oleh para bhikkhu. Pada suatu hari, mereka membicarakannya di dalam balai kebenaran, “Āvuso, saya mendengar bahwa Raja Kosala menaklukkan Ajātasattu dengan menggunakan pembahasan dari Dhanuggahatissa.” Sang Guru berjalan masuk. “Apa yang sedang kalian bicarakan ini, Para Bhikkhu?” tanya Beliau. Mereka memberi tahu Beliau. Kemudian Beliau berkata, “Ini bukan pertama kalinya Dhanuggahatissa pandai dalam membahas masalah perang,” dan menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka. ____________________ [405] Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon. Kala itu, terdapat beberapa tukang kayu yang tinggal di dalam sebuah desa, di dekat Benares. Salah seorang dari mereka, dalam perjalanannya ke hutan untuk mencari kayu, menemukan seekor anak babi hutan yang terjatuh ke dalam sebuah lubang, yang kemudian dibawanya pulang dan dipelihara. Anak babi hutan itu tumbuh besar, dengan taring yang melengkung, seekor makhluk yang berkelakuan baik. Karena tukang kayu itu yang merawatnya, dia mendapatkan nama Vaḍḍhakīsūkara (Babi Tukang Kayu). Ketika tukang kayu itu membelah kayu, Vaḍḍhakī (Vaddhaki) merobohkan pohon dengan taringnya, dan dengan giginya dia membawa kapak, pengasah, pahat dan martil, kemudian menarik garis pengukurnya di ujung. Tukang kayu itu takut kalau-kalau ada orang yang akan memakannya, maka dia membawanya dan melepaskannya di dalam hutan.