Перейти к содержимому

Rocker Girl & Qin Shi Huang 1

Narator Novel

0:00 / 0:00

Rocker Girl & Qin Shi Huang 1

10 просмотров · 10 дней назад
Narator Novel
1 подписчик
10 просмотров · 10 дней назад
Rocker Girl and King Qin Shi Huang Cerita 1 Cahaya dilangit pada saat itu benar-benar membuat hati JB takjub. Hari itu masih lagi awal satu sore di kota kediaman mereka. Dan JB masih duduk-duduk di depan kedai ponsel milik Nabi Adam Alaihissalam diakhirat, ketika ia memandang cahaya yang seperti berputar membuat celah pada awan yang berwarna putih tersebut yang membuat cahaya terpancar sampai kepermukaan bumi dari tempat itu. Satu Bidadari paling angun turun dengan cepat dengan dua pasang sayapnya yang sama anggunnya dengan keseluruhan dirinya. Tidak ada yang dapat menilai apakah yang lebih anggun, keseluruhan tubuh bidadari yang begitu harum itu ataukah dua pasang sayapnya tersebut. Tetapi ia dengan dua pasang sayapnya itu mencerminkan keanggunan yang luar biasa, namun menakutkan, sinar yang terpancar dari dirinya begitu lembut menghangatkan cinta dan kasing sayang, namun menakutkan, keanggunan yang dipadu dengan keindahan dengan cahaya keemasan yang indah bersama kecantikan yang tidak ternilai mengisyarakat kengerian kepada siapa saja yang menjadi lawannya dan mendapat penghakiman darinya. Ia melesat dengan baju perangnya yang berkilau keemasan, turun dengan cepat kesebuah rumah gedung seperti istana yang berwarna putih dengan halaman yang sangat luas. Lalu melipat sayapnya dan mengganti baju perangnya menjadi satu potong kain yang sangat putih dari sutra melilit seluruh tubuhnya yang membuat ia tampak menjadi sangat rapuh namun melebihi keanggunannya sebelumnya yang memancarkan panggilan akan nafsun mutmainnah yang bersih. Ia berjalan pelan kearah pitu gerbang gedung istana tersebut. semakin ia pelankan langkah kakinya semakin jejak kakinya mengisaratkan ancaman dan kengerian. "Abrir la puerta" Katanya memegang hendel gagang pegangan pintu tersebut yang kemudian terdengar suara klik dan klik lalu pintu itu langsung terbuka dari dalam tanpa ada yang membukanya. Sepertinya pintu itu sama merasakan kengerian dari rasa amarah bidadari itu sehingga dengan patuh membukakan sendiri dirinya untuknya. Ia segera masuk ke gedung istana tersebut dan menaiki tangga yang membetuk pilin setengah lingkaran yang ada disebelah kanannya hingga sampai ke lantai dua istana tersebut membiarkan pintu depan istana itu terbuka begitu saja. Kemudian ia berkata hal yang sama seperti pertama kali ia sampai didepan gerbang istana tersebut, dan pintu kamar itu juga dengan patuh segera terbuka untuknya. Orang yang berada didalam kamar tersebut terkejut mengingat bahwa pintu itu terkunci dari dalam. Namun demi melihat diapa yang datang menemuinya yang kini berdiri dihadapannya dengan balutan sutra putih yang tebal itu, dari wajah terkejut ia menjadi ketakutan, dan mundur dari tempat dudumnya diatas pembaringannya. "Qué estás haciendo" Kata orang itu sangat gusar. "He hecho bien mi trabajo" Jawabya semakin ketakutan. "mírame" Kata Bidadari itu lagi. "no, se atrevería" Jawab wanita cantik yang masih berada diatas tempat tidurnya itu. "Ya no eres puro" Kata bidadari itu. "No, es el deseo del mutmainnah" Jawab perempuan cantik yang kecantikannya hanya terpaut tipis dari Bidadari itu, berdalih. Namun aura kecantikan dan keindahan bidadari itu memang tidak tertandingi. "Elvidha, o debería llamarte Pau, sé que es mejor, deberías venir conmigo inmediatamente" Katanya. "¿Adónde? Todavía tengo asuntos que atender" Jawab wanita yang dipanggil Pau itu. "¿Quieres discutir conmigo?" Tanya bidadari itu. "No" Jawabnya. "O quieres que la ley de Dios caiga sobre ti" Kata bidadari itu lagi. "No" Jawab Elvidha atau Pau kembali. "Únete inmediatamente" Kata bidadari itu sambil hendak segera berbalik. Namun demi melihat perempuan yang dihadapannya tidak bergerak, ia mendelik. "¿Me has desobedecido?" Katanya. Perempuan itu masih diam, tetapi kemudian jawabnya. "No puedo, ya no puedo usar esa ropa" Maksudnya kepada pakaian dari sutra seperti yang dikenakan bidadari itu. "¿Por qué no lo haces? ¿No estás deseando a Mutmainnah?" Kata bidadari itu mulai sedikit gusar. Pau hanya diam ketakutan. "Pau" Kata bidadari itu melangkah masuk satu langkah kedalam kamar itu yang membuat Pau semakin ketakutan. "Qin shi se ha ido" Katanya sedikit bersikap lunak namun tetap keras. Wanita yang disebut Pau itu menangis dan menutup matanya dengan selimutnya. "¡Date prisa, tenemos que irnos!" Katanya lagi. Pau tidak membantah lagi, ia segera melepaskan selimutnya dan secara tiba-tiba telah mengenakan pakaian yang sama dengan bidadari itu. "Nos encontraremos con Yanti" Kata pemimpin bidadari yang sikapnya dan perangainya yang seperti singa betina itu mengerikan.