Romo Ca-fe : Mengurai kata "BIDAT"
KEBENARAN MEMERDEKAKANMU
0:00 / 0:00
Romo Ca-fe : Mengurai kata "BIDAT"
263 просмотра · 3 дн. назад
KEBENARAN MEMERDEKAKANMU
1,96 тыс. подписчиков
263 просмотра · 3 дн. назад
Gereja Katolik membedakan makna teologis-yuridis kata "Bidat" yang sering disalahpahami (menjadi mitos atau label asal tuduh) dengan meluruskan definisinya berdasarkan Kitab Hukum Kanonik (KHK) 751 serta merujuk pada teks-teks Alkitab untuk memahami akar sejarah kata tersebut.
Berikut adalah penjelasan Gereja Katolik untuk mengurai kesalahpahaman tersebut:
1. Definisi Yuridis-Teologis: Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kanon 751
Dalam Gereja Katolik, "bidat" (heresy) bukan sekadar label untuk siapa saja yang berbeda pendapat, melainkan istilah hukum Gereja yang sangat spesifik.
KHK 751 menyatakan:
"Bidat adalah penyangkalan yang keras kepala setelah menerima baptisan akan suatu kebenaran yang harus diimani dengan iman ilahi dan katolik, atau keraguan yang keras kepala tentangnya..."
Syarat seseorang atau suatu ajaran disebut Bidat menurut Katolik:
Sudah Dibaptis: Seseorang baru bisa disebut bidat jika ia adalah orang Kristen yang sah (telah dibaptis) namun menolak ajaran imannya sendiri. Orang non-Kristen tidak bisa disebut bidat.
Keras Kepala (Pertinax): Ia terus-menerus menolak secara sadar dan sengaja setelah berulang kali diberi tahu atau ditegur oleh otoritas resmi Gereja.
Menolak Dogma Resmi: Yang ditolak adalah kebenaran mutlak iman (deposit of faith / dogma) yang telah ditetapkan secara resmi oleh Magisterium (misalnya: Keilahian Yesus, Tritunggal, atau Kehadiran Nyata dalam Ekaristi).
2. Membedah Ayat Alkitab: Mengurai "Mitos" Kata Bidat
Kata "Bidat" dalam teks asli Perjanjian Baru menggunakan kata Yunani Hairesis (αἵρεσις), yang arti dasarnya sebenarnya netral, yaitu: "pilihan", "aliran", "mazhab", atau "faksi". Mitos bahwa kata ini sejak awal berarti "setan" atau "sesat secara mutlak" diluruskan melalui konteks ayat berikut:
Kisah Para Rasul 24:5 – Label Politik dan Sentimen Agama
Ayat: Paulus dituduh sebagai "...pemimpin sekte (hairesis) orang Nasrani."
Penjelasan Katolik: Di sini, kata hairesis (diterjemahkan "sekte" atau "mazhab") digunakan oleh pengacara Yahudi bernama Tertulus untuk mencap kekristenan awal sebagai faksi sempalan yang membawa kekacauan politik. Teks ini membuktikan bahwa kata "bidat/sekte" pada mulanya sering digunakan sebagai label buruk dari luar untuk menyudutkan kelompok minoritas yang dianggap tidak sejalan dengan mayoritas penguasa.
Roma 16:17 & 1 Korintus 11:19 – Perpecahan Internal Jemaat
Roma 16:17: Paulus memperingatkan untuk waspada terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan godaan, yang bertentangan dengan ajaran yang telah diterima.
1 Korintus 11:19: “Sebab di antara kamu harus ada perpecahan (hairesis), supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji.”
Penjelasan Katolik: Rasul Paulus menggunakan istilah ini untuk menunjuk pada sikap egois yang memecah-belah kesatuan jemaat (skisma/faksi internal). Gereja Katolik melihat bahwa esensi dari kebidatan sering kali berakar dari kesombongan rohani yang memprioritaskan opini pribadi di atas persekutuan tubuh mistik Kristus.
Titus 3:9-11 – Menghindari Perdebatan yang Sia-sia
Ayat: “Seorang bidat (hairetikon) yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.”
Penjelasan Katolik: Konteks surat kepada Titus adalah menghadapi guru-guru palsu yang gemar memperdebatkan silsilah dan hukum Taurat secara bodoh sehingga memecah belah jemaat. Gereja Katolik menegaskan bahwa menjauhi "orang bidat" di sini bukan berarti membenci secara personal, melainkan tindakan pastoral untuk melindungi kemurnian iman jemaat dari kebingungan dan debat kusir yang tidak berujung pada keselamatan.
Ringkasan Perspektif Katolik
Gereja Katolik menghancurkan mitos kata "Bidat" dengan menegaskan dua hal:
Secara Historis (Alkitab): Kata bidat berevolusi dari arti netral ("aliran/pilihan") menjadi istilah untuk menggambarkan perpecahan dan pengajaran keliru yang merusak komunitas iman.
Secara Teologis Modern: Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik sangat berhati-hati dan tidak lagi sembarangan memakai kata "bidat" kepada saudara-saudari Kristen non-Katolik yang lahir di dalam tradisi Gereja mereka saat ini (seperti Protestan atau Ortodoks). Gereja lebih menggunakan istilah "Saudara-saudari yang terpisah" dan mengedepankan dialog ekumenis demi persatuan umat Kristen.