Перейти к содержимому

Sebelum Penculikan Jenderal Nasution Diintai Intel Cakrabirawa

Intel Melayu

0:00 / 0:00

Sebelum Penculikan Jenderal Nasution Diintai Intel Cakrabirawa

4 256 просмотров · 3 года назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
4 256 просмотров · 3 года назад
Sebelum Penculikan Jenderal Nasution Diintai Intel Cakrabirawa Sebelum penculikan Jenderal Nasution terus dikuntit dan diintai orang tak dikenal. Jenderal Nasution yang dimaksud adalah Jenderal Abdul Haris Nasution, salah satu dari tujuh jenderal yang jadi target penculikan komplotan Gerakan 30 September pada dini hari 1 Oktober 1965. Ketika itu sang jenderal sedang menjabat sebagai Menko Hankam merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Dalam peristiwa berdarah penculikan para jenderal, dari tujuh jenderal yang ditarget komplotan Gerakan 30 September, hanya satu jenderal yang selamat dari upaya penculikan. Jenderal yang selamat dari upaya penculikan itu tak lain adalah Jenderal Abdul Haris Nasution. Meski memang dalam peristiwa penculikan di rumah Jenderal Nasution, putri bungsu sang jenderal jadi korban tertembak peluru komplotan penculik. Dan salah satu ajudannya, Lettu Pierre Tendean dibawa penculik karena disangka Nasution untuk kemudian dibunuh di daerah Lubang Buaya. Ternyata, sebelum terjadinya peristiwa penculikan terhadap Jenderal Nasution, sang jenderal ini rupanya sudah diintai. Setiap kegiatan yang dilakukan sang jenderal selalu diawasi dan dibuntuti orang-orang tak dikenal. Begitulah yang dicatat Rum Aly dalam buku," Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos dan Dilema: Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970." Menurut Rum Aly dalam buku yang disusunnya, menjelang meletusnya peristiwa penculikan para jenderal, Harian Rakyat, medianya Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 September mengeluarkan editorialnya yang berbunyi, “Dengan menggaruk kekayaan negara, setan-setan kota ini mempunyai maksud-maksud politik yang jahat terhadap pemerintah dan revolusi. Mereka harus dijatuhi hukuman mati di muka umum. Soalnya tinggal pelaksanaan. Tuntutan adil rakyat pasti berhasil”. Kata Rum Aly, editorial harian yang terafiliasi dengan PKI ini seakan membayangkan suatu pengetahuan tentang rencana PKI berkaitan dengan kematian para jenderal melalui suatu hukuman mati oleh rakyat atau kekuatan revolusioner. Di samping itu memang ada akumulasi pernyataan-pernyataan keras tokoh-tokoh PKI, terutama DN Aidit. Ditambah, apa yang hitam putih termuat dalam Harian Rakyat yang di belakang hari ibarat mozaik yang setelah disusun menjadi sebuah gambar, telah mendorong munculnya opini kuat tentang keterlibatan dan peran PKI sebagai otak gerakan makar tanggal 30 September 1965. Jenderal Nasution sendiri menurut Rum Aly, yang pada bulan September itu banyak menjadi bulan-bulanan serangan kelompok politik PKI maupun Presiden Soekarno, lebih banyak berdiam diri, dalam arti tak banyak mengeluarkan pernyataan-pernyataan menanggapi serangan-serangan yang ditujukan pada dirinya. Bahkan serangan tentang keterlibatan isterinya dalam suatu kolusi bisnis yang memanfaatkan kekuasaan suami, juga didiamkan Nasution. Dalam suatu rapat raksasa 29 September 1965, suatu model pengerahan massa pada masa itu di lapangan Banteng yang dihadiri lebih dari seratus ribu orang, sebagian besar terdiri dari pelajar yang dikerahkan IPPI pimpinan Robby Sumolang, ada aksi tunjuk hidung terhadap kapbir, setan-setan kota dan kaum koruptor. Empat nama setan kota yang ditunjuk hidungnya adalah Hein Siwu, Pontoan, Kapten Iskandar dan seorang insinyur pemilik pabrik tekstil bernama Aminuddin, yang nama-namanya sudah dilaporkan kepada Jaksa Agung Brigjen Sutardhio. Menurut Jenderal Nasution, nama yang disebut terakhir yakni Aminudin, bersama Hein Siwu dikait-kaitkan dengan isterinya dalam urusan bisnis. Nasution memang pernah memenuhi undangan Aminuddin untuk meninjau pabrik tekstil milik Aminuddin yang terletak di daerah Cawang. Pabrik itu, “didesas-desuskan sebagai milik saya, yang diurus oleh Aminuddin," kata Nasution. Kejadian sebenarnya dari hubungan itu, menurut Nasution adalah bahwa Hein Siwu dengan diantar oleh Kolonel Hein Victor Worang pernah datang untuk menyumbang kegiatan sosial Nyonya Sunarti Nasution. Rum Aly dalam bukunya juga mengungkapkan, sepanjang bulan September 1965, Jenderal Nasution banyak bepergian ke daerahdaerah. Diantaranya, ke Jawa Timur, bersama Panglima Kodam Brawijaya Basoeki Rachmat meninjau daerah-daerah pertanian yang dikelola prajurit- prajurit Brawijaya. Nasution berkunjung pula ke sejumlah pesantren, termasuk Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Kemudian, seminggu sebelum akhir September ke kampus Universitas Padjadjaran di Bandung untuk acara pemberian tunggul-tunggul batalion-batalion Resimen Mahasiswa Mahawarman. Lalu dia ke Yogyakarta keesokan harinya, mengunjungi Akademi Angkatan Udara, didampingi Panglima Kodam Diponegoro Brigjen Suryo Sumpeno. Kemudian malam hari tanggal 30 September 1965 atau beberapa jam sebelum penculikan, Jenderal Nasution memberi ceramah mengenai Hankamrata atau Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta tanpa point-point yang eksplosif secara politis.