FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 211 Sena Bingung Dengan Pertanyaan Pak Henry
SENADA Sena Davina
0:00 / 0:00
FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 211 Sena Bingung Dengan Pertanyaan Pak Henry
2 033 просмотра · 7 ч назад
SENADA Sena Davina
6,1 тыс. подписчиков
2 033 просмотра · 7 ч назад
FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 211 Sena Bingung Dengan Pertanyaan Pak Henry - Bu Vero Manas-Manasin.
Suasana hangat di sebuah restoran tampak kontras dengan isi obrolan di meja makan, tempat Jihan tengah serius belajar merajut sepatu bayi di hadapan Reza. "Tapi kebutuhan Mba Jihan nggak bau kan?" tanya Reza di tengah kesibukan mereka. Jihan langsung tersenyum geli sambil menanggapi, "Ih Mas, bau banget itu makanya saya malu. Nah Mas, ini segini udah cukup kali ya ukuran kaki bayinya? Apa kurang panjang ya?" Reza mengamati sejenak lalu menjawab, "Segitu pas sih Mbak." Sambil memperhatikan hasil rajutannya, Jihan berseru, "Segini pas! Ih gemes banget deh, ukurannya tuh lihat deh, cimit-cimit gitu kecil ya ampun, nggak sabar deh, nggak sabar Mas ini pengen cepet-cepet jadi... eh, lepas! Ih, entar pasti gemes deh kalau bikin semuanya banyak warna. Udah jadi! Tapi pegel juga ya Mas, ini dari tadi nih baru bikin segini nih udah pegel, apa kabar kelarin semuanya?" Melihat itu, Reza langsung melarang dengan lembut, "Mbak Jihan, kalau pegel nggak usah dilanjutin, Mbak. Nanti aja di rumah dilanjutin ya. Ini Mbak Jihan sekarang istirahat, oke?" Jihan mengangguk patuh, "Ya udah deh." Reza kemudian memanggil pelayan, "Mbak Jihan mau pesan apa lagi sekalian?" Jihan menolak halus, "Nggak usah Mas, nggak usah." Reza segera meminta tagihan kepada pelayan yang datang, "Minta bill ya." Pelayan itu menjawab, "Ah ya, mohon ditunggu ya Kak." "Ya, makasih," ucap Reza singkat, yang dibalas, "Sama-sama." Saat Jihan hendak membayar, "Mas, ini..." Reza langsung mendahului, "Saya aja yang bayar." Jihan tertegun, "Kok kamu yang bayar? Jangan dong, kan saya ngajak kamu ke sini." Reza bergeming, "Nggak apa-apa, Mbak." Dalam hatinya, Jihan merenung, Mas Reza ini baik banget ya orangnya. Padahal aku suka jutek dan ngomongnya suka ceplas-ceplos ke dia, tapi dia nggak tersinggung dan dia juga tetap baik kok.
Sementara itu di tempat lain, Pak Henry, Bu Vero, dan Sena tengah duduk bertiga membahas hubungan yang retak. Pak Henry membuka percakapan dengan menanyakan kabar terbaru, "By the way, Davina bagaimana kabarnya, Angga?" Sena menjawab tenang, "Baik." Pak Henry menyelidik lebih jauh, "Kamu sudah... sudah baikan sama dia?" Sena menghela napas, "Dia udah maafin aku, katanya." "Udah maafin kamu?" kejar Pak Henry. "Iya," jawab Sena, lalu melanjutkan dengan suara berat, "Cuman, eh, minta sendiri-sendiri sekarang. Katanya perasaannya udah nggak bisa sama lagi kayak dulu." Bu Vero langsung menimpali dengan nada sinis namun santai, "Sabar, wajar kalau perempuan itu ya emang seperti itu, apalagi kalau perasaannya pernah tersakiti, dikecewakan, biasanya jadi nggak kebal... lebih tepatnya ilfeel." Pak Henry menatap tajam, "Ini kamu lagi ngomongin Davina kan?" Bu Vero menjawab acuh tak acuh, "Hmm." "Lagi ngomongin Davina kan?" ulang Pak Henry memastikan. "Iya, kenapa?" jawab Bu Vero santai. "Ya bukan apa-apa, tapi seharusnya kamu di sini tuh untuk menenangkan Angga, bukan malah manas-manasin urusan perempuan dibawa segala," protes Pak Henry. Bu Vero membela diri, "Loh, siapa yang manas-manasin? Saya kan hanya bilang point of view sebagai perempuan. Davina perempuan, saya perempuan, wajar dong saya kasih..." "Ya tapi kan ini lagi fokus ke Davina!" potong Pak Henry mulai jengah. Melihat ketegangan itu, Sena segera menengahi, "Oke guys, kita coba jangan berdebat dulu ya. Oke, kalau aku nggak boleh membantu Michael dan Daniel, boleh nggak aku makan?" Bu Vero langsung melunak, "Boleh, boleh ya." Sena tersenyum kecil, "Aku lapar soalnya." Bu Vero bertanya penuh perhatian, "Mau makan apa?" "Apa aja, Mama udah masak apa?" tanya Sena. Bu Vero menjawab, "Entar ya, coba lihat bahannya di kulkas ada apa aja ya. Ya udah, kamu di sini tenang, santai, Mama masakin." Mendengar itu, Pak Henry protes protes manja, "Loh, loh, aku juga dimasakin kan, loh? Masa kalian cuman makan berdua?" Sena tersenyum misterius, "Biasa, kalau masak banyak cuman nggak tahu buat siapa ya Pa." Pak Henry mendengus, "Gitu, padahal Papa yang udah minta dari kemarin loh yang dimasakin." Sena menutup perbincangan, "Iya, nanti kan bisa ku bagi." "Bener ya?" pastikan Pak Henry, yang dijawab mantap oleh Sena, "Iya."
Di sudut kota yang berbeda, Dion, Bilal, dan Bayu tengah merancang sebuah rencana rahasia. "Nah, jadi begitu, Lal, paham kan?" tanya Dion to the point. Bilal mengangguk sigap, "Paham, Mas. Jadi tugas saya support Aipda Bayu buat ngawasin Arman Andika kan?" Dion menegaskan, "Iya. Tolong juga, eh, lu kasih seragam deh buat Bayu, terus lu kenalin ke satpam-satpam kalau Bayu itu satpam baru gitu ya, biar nggak ada curiga." "Siap, Mas, aman terkendali pokoknya," jawab
#terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji