Janganlah menjadi batu sandungan, tetapi menjadi berkat. Berusahalah, jangan menyerah pada nasib.
Kencan Dengan Tuhan
0:00 / 0:00
Janganlah menjadi batu sandungan, tetapi menjadi berkat. Berusahalah, jangan menyerah pada nasib.
382 просмотра · 6 дн. назад
Kencan Dengan Tuhan
21,3 тыс. подписчиков
382 просмотра · 6 дн. назад
Minggu, 25 Oktober 2026
1 Tesalonika 2:9
"Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara,
akan usaha dan jerih lelah kami.
Sementara kami bekerja siang malam,
supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu,
kami memberitakan Injil Allah kepada kamu."
Seorang pemuda pengangguran, ketika ditanya tentang alasannya mengapa ia tidak bekerja, dengan enteng ia menjawab, "Ya, inilah nasib saya. Saya orang nggak punya, tidak ada uang untuk menyuap. Saya orang desa, tidak ada koneksi di tempat-tempat kerja. Ya, beginilah nasib orang miskin." Ada juga seorang pengamen yang melantunkan lagu karangannya sendiri, yang "senada" dengan jawaban pemuda di atas. Sebagian kalimatnya berbunyi demikian, "Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas. Mbak-mbak, perhatikanlah nasib kami. Di sini kami hanya bisa menjual suara untuk mendapatkan sesuap nasi. Daripada menodong atau merampok, lebih baik cuap-cuap di sini. "
Jawaban pemuda dan kalimat dari lagu pengamen tersebut mungkin juga benar, artinya bahwa mereka memang berasal dari keluarga tidak mampu. Hanya saja, muncul pertanyaan, "Apakah nasib mereka tidak bisa berubah? Apakah ungkapan-ungkapan itu hanya bermaksud menutupi ketidaktekunan mereka dalam berusaha? Atau mungkinkah mereka berpegang pada ajaran fatalisme?"
Fatalisme adalah suatu doktrin yang mengajarkan bahwa keadaan atau perbuatan seseorang sudah dipastikan lebih dahulu oleh nasib. Manusia tidak dapat atau tidak akan berhasil mengubah jalannya keadaan atau perbuatannya, walaupun ia atau orang lain berusaha ke arah itu. Pertanyaan-pertanyaan di atas, kalau dilontarkan kepada mereka, hanya mereka yang tahu jawabannya, karena hanya mereka sendiri dan Tuhan yang mengetahui isi hati mereka.
Kita tidak bisa menilai secara subyektif tentang sikap orang-orang seperti yang disebutkan di atas, tetapi sebagai orang percaya kita harus memperhatikan apa yang dikatakan Alkitab. Dalam Kejadian 27:40 dikatakan, "Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." Ayat itu jelas berbicara tentang "nasib" yang akan dialami Esau, dan juga berbicara tentang perubahan "nasib" tersebut. Kata-kata kunci dari ayat di atas adalah "apabila engkau berusaha sungguh-sungguh". Itu berarti bahwa Esau tidak boleh menyerah pada "nasib". Orang yang menyerah pada "nasib" adalah orang yang tidak akan pernah berhasil dalam hidupnya!
Mari kita memperhatikan hidup kita, mungkin kita memang berasal dari keluarga yang tidak mampu, mungkin kita berasal dari desa terpencil, mungkin kita bukan orang yang pandai, kemampuan kita hanya pas-pasan, tetapi hal itu janganlah kita jadikan alasan agar kita tidak berusaha. Kita tidak boleh menyerah pada "nasib", kita harus "melawan nasib" itu. Justru kalau latar belakang kita seperti itu dan karena kita berusaha lalu berhasil, maka orang akan melihat karya Tuhan sungguh nyata dalam hidup kita. Kita tidak menjadi batu sandungan, tetapi kita akan menjadi berkat. Berusahalah, jangan menyerah pada nasib. Tuhan Yesus memberkati.
Hari ini Kencan Dengan Tuhan genap 16 tahun. Terima kasih untuk kesetiaannya selama 16 tahun ini membaca dan mendengarkan Kencan Dengan Tuhan.
Semoga kehadiran Kencan Dengan Tuhan senantiasa memberkati hari-hari kita semua.
Tuhan Yesus,
aku bersyukur
dilahirkan
dalam keadaan
apa pun
dan di dalam
keluargaku sekarang ini.
Aku yakin
bahwa di tangan-Mu
ada masa depan
yang cerah.
Oleh sebab itu
tolonglah aku
dalam berusaha
untuk mencapainya.
Amin. (Dod).