LOMBA FLS3N MONOLOG SMA NEGERI 2 SOPPENG
SMA NEGERI 2 SOPPENG
0:00 / 0:00
LOMBA FLS3N MONOLOG SMA NEGERI 2 SOPPENG
12 просмотров · 8 дней назад
SMA NEGERI 2 SOPPENG
98 подписчиков
12 просмотров · 8 дней назад
Suara Yang Pernah Hijau
Dulu...aku hafal suara alam.
Bukan dari buku, bukan dari pelajaran, tapi dari hidupku sendiri.
Angin terasa ramah, daun-daun jatuh tanpa rasa takut. Dan air...air selalu jujur, kami minum darinya, kami bermain di dalamnya, kami hidup bersamanya.
Saat itu...alam bukan sekedar tempat tinggal.
Ia adalah..sahabat.
Ia adalah..rumah.
Tapi sekarang...aku bahkan takut menyentuhnya.
Sungai itu...ia menangis. Napasnya sesak oleh kantong
plastik, botol bekas, dan limbah-limbah ego kita.
Langit?...ah biru itu mulai tertutup abu-abu.
Asap menyesakkan dada, udara tak lagi ramah.
Pohon-pohon yang dulu berdiri tegak, satu persatu tumbang.
Bukan karena badai, bukan karena usia,
Tapi..karena tangan manusia. Tanganku..tangan kita..
Kita menyebutnya kemajuan.
Kita menyebutnya modernisasi.
Kita bilang ini pembangunan.
Tapi sebenarnya...kita ini apa? Penjaga bumi? atau Perusak yang berkedok kemajuan?
Seolah-olah kita punya bumi cadangan di mars sana.
Kita juga sering berkata "ah tidak apa-apa ini juga demi kemajuan negara kita".
Tapi..kenapa justru aku merasa takut. Takut hujan deras.., takut langit mendadak gelap.., takut suara gemuruh di malam hari.
Lalu kami menyalahkan alam. Kami bilang alam kejam, alam tidak ramah, alam tidak adil.
Padahal..kamilah yang menebangnya, kamilah yang mengotorkannya, kamilah yang menahan napasnya.
Dan aku...aku juga termasuk di dalamnya, aku pernah membuang sampah sembarangan, aku pernah membiarkan air terbuang sia-sia, aku pernah berkata "ah cuma satu plastik".
Cuma Satu?!...satu dari jutaan tangan, satu dari ribuan hari, satu dari kebiasaan yang kami anggap sepele.
Hingga suatu hari...hujan turun tanpa henti. Air naik perlahan...lalu semakin tinggi. "Airnya naik, airnya masuk". "Cepat angkat barang-barang".
Sungai itu meluap. Jalan berubah jadi arus coklat yang menyeret apa saja. "Tolong...! Ada yang belum keluar!".
Di tempat lain...tanah itu bergerak. "Lari...! Lari sekarang..!".
"Bukitnya runtuh..!"
Kenapa pohonnya sudah tidak ada...? Dulu akar-akar itu yang menahan tanah. Sekarang...gak ada yang menahannya. "kenapa bisa begini..."!.
Kami gemetar.
Kami ketakutan.
Kami menangis melihat rumah tenggelam.
Lalu kami bertanya.."kenapa alam berubah?", "kenapa jadi sekejam ini?"
Padahal...kamilah yang mengubahnya lebih dulu! Alam tidak marah. Ia hanya..lelah. Lelah memberi tanpa dihargai. Lelah memeluk manusia yang selalu melukainya.
Tapi..aku tidak mau masa depan seperti itu!. Aku memang cuma siswa SMA. Aku bukan pejabat, bukan penguasa. Aku cuma satu suara. Satu manusia kecil di antara jutaan. Tapi..setiap perubahan selalu dimulai dari satu orang yang berhenti berpaling.
Aku bisa mulai dari diriku. Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik, menjaga air, bahkan aku bisa menanam pohon. Bukan untuk gaya-gayaan. Bukan untuk dipuja.
Bumi ini titipan.
Bukan warisan untuk dihabiskan.
Hijau bisa kembali.
Air..bisa jernih lagi.
Asal..kita berhenti menyakiti rumah kita sendiri.
Dengarkan aku..! Atau lebih tepatnya...
Dengarkan Alam.