Hormuz di Ujung Ledakan! Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Timteng, AS Hengkang Total dari Irak
Bangka Pos Official
0:00 / 0:00
Hormuz di Ujung Ledakan! Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Timteng, AS Hengkang Total dari Irak
315 просмотров · 1 дн. назад
Bangka Pos Official
792 тыс. подписчиков
315 просмотров · 1 дн. назад
BANGKAPOS.COM - Iran kembali menaikkan tensi konflik dengan ancaman terhadap infrastruktur penting di kawasan Timur Tengah.
Ancaman itu muncul saat Teheran masih menunggu tanggapan resmi Amerika Serikat terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Selasa (29/9) memperingatkan, tak ada infrastruktur kawasan yang aman.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal keras di tengah kebuntuan antara Iran dan Washington mengenai masa depan Selat Hormuz.
Teheran sebelumnya mengajukan sejumlah syarat sebelum bersedia mengakhiri blokade pelayaran di jalur strategis tersebut.
Iran menuntut gencatan senjata selama tujuh hari di kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon, serta penghentian blokade terhadap pelabuhannya.
Teheran juga meminta pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri dan pencabutan sanksi terhadap sektor minyak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembukaan kembali Hormuz bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan tersebut.
Sementara itu, Qatar terus menjadi mediator dengan menyampaikan pesan antara Iran dan AS untuk mencari titik temu.
Namun, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menolak proposal Iran dan membantah laporan mengenai kemungkinan keringanan sanksi.
Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran tetap mempertahankan tekanan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
IRGC bahkan menegaskan bahwa klaim AS mengenai Hormuz yang tetap terbuka tidak sesuai dengan kondisi yang mereka lihat di lapangan.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melewati wilayah tersebut bisa menghadapi bahaya.
Menurut Mohebbi, kapal yang memaksa melintas dapat mengalami kerusakan akibat tindakan Iran atau ranjau di kawasan tersebut.
Ancaman itu membuat aset dan infrastruktur strategis di sekitar Teluk kembali menjadi perhatian.
Sebab, sebelum konflik, Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Ketegangan pun masih berlanjut, sementara keputusan terkait pembukaan kembali Hormuz belum menemui titik akhir.
Subscribe now for more Bangka Pos videos:
https://www.youtube.com/bangkaposoffi...
Like Bangka Pos on Facebook:
/ bangkapos
Do You Have Instagram, follow us:
/ bangkapos_
Editor : Asif Barkhiya