Ada Apa dengan Wariga “Ngawag”: Manusia memiliki Jaringan Angka Kehidupan
Yudha Triguna Channel
0:00 / 0:00
Ada Apa dengan Wariga “Ngawag”: Manusia memiliki Jaringan Angka Kehidupan
1 571 просмотр · 3 месяца назад
Yudha Triguna Channel
33 тыс. подписчиков
1 571 просмотр · 3 месяца назад
• Ada Apa dengan Wariga “Ngawag”: Manusia me...
Ada Apa dengan Wariga “Ngawag”: Manusia memiliki Jaringan Angka Kehidupan
#Wariga"Ngawag"BerartiNgawitinAgeman",
#AdaApaDenganWarigaNgawag,
#ManusiaMemilikiJaringanAngka
Dalam perjalanan hidup, setiap orang hampir pasti mengalami berbagai dinamika yang tidak selalu mudah dipahami. Ada masa ketika segala sesuatu berjalan lancar, tetapi ada pula saat-saat penuh tantangan, kebingungan, bahkan penderitaan. Dalam kondisi seperti itu sering muncul pertanyaan mendasar: mengapa hidup saya berjalan seperti ini? Apakah jalan yang saya tempuh sudah benar, atau justru saya sedang melangkah ke arah yang keliru? Mengapa saya mengalami peristiwa tertentu sementara orang lain mengalami hal yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya bukan sekadar persoalan nasib, melainkan bagian dari pencarian manusia untuk memahami dirinya sendiri. Dalam tradisi wariga, pencarian tersebut dapat didekati melalui konsep yang saya sebut sebagai Wariga “Ngawag.” Kata “ngawag” sering dipahami secara sederhana sebagai keadaan bingung atau tidak menentu. Namun dalam pemaknaan yang lebih filosofis, “ngawag” dapat diartikan sebagai “Ngawitin Ageman,” yakni memulai dari diri sendiri, memahami diri sendiri, dan mengenali hakikat keberadaan diri sebelum berusaha memahami dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, Wariga Ngawag mengajak manusia untuk bertanya: Who am I? Siapakah saya sebenarnya? Mengapa saya hadir di dunia ini? Apa tugas dan tanggung jawab yang harus saya jalankan? Bagaimana cara terbaik untuk menjalani kehidupan sesuai dengan kodrat dan potensi yang saya miliki? Pemahaman semacam ini berangkat dari keyakinan bahwa manusia bukanlah makhluk yang berdiri terpisah dari alam semesta. Tubuh manusia dan jagat raya dipandang tersusun oleh tatanan yang sama, yaitu tatanan kosmis yang dapat dibaca melalui simbol-simbol, ritme, dan angka-angka kehidupan. Dalam tradisi Bali dikenal istilah urip, yaitu nilai kehidupan yang melekat pada berbagai unsur waktu dan keberadaan. Karena itu, semesta dan tubuh manusia pada dasarnya merupakan jaringan energi yang memiliki ukuran, pola, dan perhitungan tertentu. Selama ini masyarakat lebih banyak mengenal penggunaan Sapta Wara dan Panca Wara sebagai dasar perhitungan hari baik, watak, atau kecenderungan hidup seseorang. Namun sesungguhnya sistem wariga jauh lebih luas daripada itu. Di dalamnya terdapat Eka Wara, Dwi Wara, Tri Wara, Catur Wara, Panca Wara, Sad Wara, Sapta Wara, Asta Wara, Sanga Wara, hingga Dasa Wara, yang kemudian terhubung dengan berbagai sistem perhitungan lain sampai pada konsep Eka Jala Rsi. Seluruh sistem tersebut bukanlah sekadar kumpulan angka tanpa makna. Ia merupakan jaringan pengetahuan yang membantu manusia membaca dirinya sendiri. Setiap angka mengandung simbol, energi, dan informasi tertentu yang saling terhubung membentuk peta kehidupan. Melalui pemahaman terhadap jaringan angka itu, seseorang diajak mengenali kecenderungan dirinya, memahami tantangan yang mungkin dihadapi, serta menemukan arah yang lebih sesuai dengan tujuan hidupnya. Dengan demikian, Wariga Ngawag bukanlah usaha meramal masa depan secara sederhana. Ia merupakan proses refleksi diri yang mendalam. Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan memahami siapa diri kita sebenarnya. Ketika seseorang mampu mengenali dirinya, memahami tugas kehidupannya, dan menyelaraskan dirinya dengan ritme semesta, maka ia akan lebih mudah menemukan makna, ketenangan, dan arah dalam menjalani perjalanan hidupnya.
Bagaimana penjelasan selanjutnya, silahkan simak sesuluh Yudha Triguna melalui Yudha Triguna Channel pada Youtube, juga pada Dharma wacana agama Hindu.
Untuk mendapatkan video-video terbaru silahkan Subscribe
https://www.youtube.com/channel/UCB5R
Facebook: www.facebook.com/yudhatriguna
Instagram: / yudhatrigunachannel