Перейти к содержимому

''pengenalan yang benar melahirkan iman''

GMI GETSEMANI BENGKULU

0:00 / 0:00

''pengenalan yang benar melahirkan iman''

81 просмотр · 4 недели назад
GMI GETSEMANI BENGKULU
376 подписчиков
81 просмотр · 4 недели назад
Ringkasan Khotbah – Minggu, 09 Agustus 2026 “Pengenalan Yang Benar Melahirkan Iman” Matius 14 : 22 - 33 Coba saudara bayangkan jika saudara sedang berada diambang kematian! Perasaan yang muncul akan didominasi oleh ketakutan yang luar biasa. Itulah yang dirasakan oleh para murid yang sudah lebih dahulu berlayar untuk menyeberang. Mereka berlayar terlebih dahulu sedangkan Yesus masih tinggal untuk berdoa. Dalam penyeberangan, murid-murid mengalami Angin Sakal yang bertiup dari arah depan dan berlawanan dengan arah gerak perahu. Hal ini membuat mereka kesulitan dan putus asa. Badai melambangkan kesulitan hidup yang dapat datang meskipun kita sedang menaati Tuhan. Murid-murid bertolak ke seberang karena perintah Yesus namun kemudian mereka mengalami badai. Menariknya, Yesus tidak diam saja. Yesus tahu ketidakmampuan para murid untuk mengatasi badai tersebut. Itu sebabnya Ia mendatangi para Murid. Tidak ada yang dapat mencegah Yesus untuk sampai kepada mereka dan tidak ada yang dapat menghentikan Yesus untuk datang kepada murid-murid-Nya. Dalam ketakutan, para murid tidak mengenali bahwa itu adalah Yesus. Ketakutan para murid karena mereka diambang kematian membuat mereka berpikir bahwa mereka melihat hantu. Pikiran mereka telah kacau karena kondisi badai yang menghantam perahu mereka. Namun Yesus menenangkan para murid dengan menyatakan diri-Nya. Jika badai datang lalu Tuhan mengatakan untuk tidak takut, apa respon kita? Petrus menunjukkan respon yang berbeda, dia mau berjalan ke arah Tuhan. Sebagai Nelayan, Petrus tentu mengetahui bahwa mustahil manusia berjalan di atas air. Namun ia mau melakukannya karena ia berjalan ke arah Tuhan. Kala badai menerpa kita, sering kali kita minta Tuhan yang datang kepada kita, padahal penting juga kita yang datang kepada Tuhan, meninggalkan perahu kita, berjalan ke arah Dia dan menempuh cara-cara-Nya yang tidak masuk akal. Oleh sebab itu, dibutuhkan iman untuk pergi kepada Yesus karena terkadang kita ditantang untuk meninggalkan ‘perahu’ kita. Tetapi di tengah perjalanannya, Petrus bimbang. Ia memulai dengan iman, ia pergi menjumpai Yesus, ia berjalan ke arah Yesus tetapi kemudian angin bertiup kencang dan ombak menjadi sedikit lebih kuat, ia meragukan kuasa Tuhan atasnya. Selama fokusnya tertuju kepada Yesus, ia mampu melangkah dengan iman. Tetapi ketika Petrus beralih fokus pada badai, timbullah keraguan dan rasa takut yang lebih besar daripada imannya. Ia pun hampir tenggelam. Menariknya, Petrus segera menyadari bahwa ia sedang tenggelam dan berseru kepada Tuhan meminta pertolongan. Petrus tidak menyerah dalam keraguan dan kegagalannya, tetapi berseru meminta pertolongan kepada Dia yang dapat menyelamatkannya. Kita bisa gagal dalam mempercayai Tuhan karena besarnya ketakutan kita. Namun saat iman kita goyah, sadarilah keadaan kita dan segeralah meminta pertolongan Tuhan. Jangan biarkan iman lemah hingga kandas karena pergumulan-pergumulan yang kita alami. Para murid menyerah pada rasa takut terhadap alam. Mereka menganggap angin dan ombak memiliki kekuatan lebih besar daripada Dia yang menciptakannya, Yesus. Seberapa sering kita melakukan hal yang sama? Mungkin bukan angin dan ombak yang kita takuti, melainkan penyakit, pendapat orang lain, kesulitan keuangan, kegagalan hubungan, kehilangan, kekecewaan dan sebagainya. Pengalaman bersama Tuhan hendaknya menambahkan pengenalan dan pengetahuan kita akan Tuhan dan menumbuhkan serta meneguhkan iman kita kepada-Nya sehingga kita dapat terus mempercayai-Nya seumur hidup kita dan di segala musim hidup kita. Amin Pdt. Nermida Purba