EXPLORE MISTERI MAKAM KALIYETNO - Ternadi Dawe Kudus
MITOYS Official
0:00 / 0:00
EXPLORE MISTERI MAKAM KALIYETNO - Ternadi Dawe Kudus
3 202 просмотра · 5 лет назад
MITOYS Official
7,09 тыс. подписчиков
3 202 просмотра · 5 лет назад
Sejarah terjadinya Makam Sunan Kaliyetno itu dikarenakan ketika terjadi peristiwa Lokojoyo, panggilan muda Raden Syahid, akan memalak Kandjeng Sunan Bonang. Namun ketika Lokojoyo mengetahui Kewalian yang dimiliki oleh Sunan Bonang, seketika itu pula Lokojoyo ingin dijadikan Murid daripada Sunan Bonang. Tapi Sunan Bonang tidak langsung menjadikan Lokojoyo sebagai muridnya, akan tetapi Lokojoyo diuji untuk menjaga tongkat yang dulu dipakai oleh Sunan Bonang di daerah Ternadi tersebut. Dalam penjagaan tongkat amanat dari Sunan Bonang, Lokojoyo menjaga dengan penuh kekhusyu’an yang amat tinggi. Ketika penjagaan itu, yang bertempat di sungai yang ada di desa ternadi, yang sekarang dinamakan Kaliyetno, tidak ada satupun lumut-lumut yang ada di dalam sungai tersebut.
Diceritakan bahwa ketika empat puluh hari berselang setelah amanat yang diberikan Kandjeng Sunan Bonang kepada Lokojoyo. Akhirnya, Sunan Bonang menghampiri tempat semedinya Lokojoyo, dan mengangkat beliau sebagai salah satu Walisongo penyebar Islam di pulau Jawa . Raden Syahid juga diberi amanat menyebarkan Islam di ranah Demak, dan juga menyematkan nama kepada beliau sebagai Sunan Kalijaga.
Kehidupan muda Raden Syahid sangatlah bertolak belakang dengan kehidupan yang dialami Sunan Muria. Pak Sukat menceritakan bahwasanya kehidupan Raden Syahid bertentangan dengan Sunan Muria. Dalam hal ini, adalah pertentangan yang bersifat kewalian ataupun keramat.
Peninggalan dan Pusaka
Peninggalan dan pusaka yang berada di area petilasan Raden Syahid hanyalah tempat persemedian dan tongkatnya Sunan Bonang. Adapun tongkat yang ada sekarang adalah bambu yang menjadi penyangga selambu petilasan tersebut. “ tongkat dadi pring, pring kanggone cagak luwur” ulas Pak Sukat. Sedangkan semua pusaka yang ditinggalkan oleh Raden Syahid ditempatkan di area Masjid Agung Demak dan Pemakaman Kadilangu.
Tidak hanya peninggalan yang berupa pusaka yang telah ditinggalkan oleh Raden Syahid. Akan tetapi Keramat yang terus bisa dirasakan para penziarah makam sunan Kaliyetno tersebut hingga sekarang. Seperti halnya pada tahun 2009, salah satu penziarah yang berasal dari Jepara dapat merasakan betapa dahsyatnya keramat peninggalan Raden Syahid.
Seperti halnya makam pesarean para wali-wali lainnya. Makam Sunan Kaliyetno juga banyak dikunjungi oleh muzairin. Adapun keramaian yang menghinggapi Makam Sunan Kaliyetno adalah ketika Kamis Kliwon. Dan peringatan haul Sunan Kaliyetno menyamakan ketika acara peringatan Grebeg Besar Sunan Kalijaga yakni pada 10 Dzulhijjah, “haule pas 10 besar, sarengan kaleh Demak” tambah pak Sukat. “ Penziarah katah. Sampai pengurus Demak nggeh meriki “ tutur pak Sukat menggambarkan suasana yang begitu ramai yang menyelimuti acara haul.
Makam kaliyetno juga seperti halnya makam-makam lain. Baik itu berupa pentangan-pantangan maupun larangan-larangan. Larangan yang berlaku di area makam kaliyetno hanya tidak diperbolehkan untuk melakukan aktifitas maupun kegiatan di area atas makam. Dan juga jangan membuat kegiatan disekitar area makam tanpa Izin. “ Ojo ngantek kegiatan ten nginggil makam lan ojo ngantek kegiatan ten meriki tanpo ngirim utowo izin “ tuturnya untuk mengingatkan para muzairin agar berhati-hati di area makam sunan kaliyetno dan tidak melanggar peraturan itu.