Перейти к содержимому

LANJUT ATAU PULANG I Short Movie Pondok Sumbersari

Darussalam Sumbersari

0:00 / 0:00

LANJUT ATAU PULANG I Short Movie Pondok Sumbersari

5 067 просмотров · 2 дн. назад
Darussalam Sumbersari
9,33 тыс. подписчиков
5 067 просмотров · 2 дн. назад
(Sinopsis) Di sebuah pesantren yang damai dan penuh kedisiplinan, Sugeng Riyadi dikenal sebagai santri yang tekun, ceria, dan selalu khusyuk dalam setiap kegiatan. Namun, ritme kehidupannya yang teratur mendadak runtuh ketika sebuah kabar menyesakkan datang dari kampung halaman. Melalui sambungan telepon singkat di pengurus pondok, ibunya dengan nada bergetar mengabarkan bahwa sang ayah jatuh sakit parah dan membutuhkan banyak biaya pengobatan. Lebih dari sekadar kesedihan memikirkan kondisi ayahnya, Sugeng juga harus menelan kenyataan pahit bahwa keluarganya tidak bisa lagi mengirimkan uang saku untuk kebutuhannya di pesantren. Beban pikiran yang mendadak menimpa pundaknya ini perlahan mulai menggerogoti fokus Sugeng. Hari-hari yang biasanya diisi dengan lantunan hafalan Alfiyyah kini berganti dengan tatapan kosong dan kegelisahan yang mendalam. Ia terus membayangkan ayahnya yang terbaring lemah di rumah dan dihantui rasa bersalah karena merasa masih menjadi beban keluarga. Kegelisahan batin ini dengan cepat merembet ke segala aspek kehidupannya di pondok. Puncaknya terjadi ketika Sugeng kehilangan konsentrasi sama sekali saat mendapat giliran setoran hafalan, membuatnya mendapat teguran dari ustadz karena tidak biasanya ia terbata-bata dan kehilangan arah. Di tengah rentetan kekacauan dan rasa kalut yang memuncak, pertahanan Sugeng akhirnya runtuh. Di sepertiga malam yang sepi, di sudut masjid pondok yang temaram, ia menumpahkan segala tangis dan rasa tidak berdayanya di atas sajadah. Momen emosional ini menjadi titik balik yang menggerakkan hati kawan-kawan sekamarnya. Menyadari beban berat yang dipikul sahabatnya, para santri diam-diam menyisihkan uang saku mereka untuk membantu Sugeng, merangkulnya dalam persaudaraan yang erat, dan mengingatkan bahwa di pesantren, ia tidak pernah berjuang sendirian.