Перейти к содержимому

PROSESI PENULISAN PERDANA MUSHAF ALQURAN MENARA OLEH KH SYA'RONI AHMADI

Cerita Muria

0:00 / 0:00

PROSESI PENULISAN PERDANA MUSHAF ALQURAN MENARA OLEH KH SYA'RONI AHMADI

76 461 просмотр · 5 лет назад
Cerita Muria
153 тыс. подписчиков
76 461 просмотр · 5 лет назад
MBABAR MUSHAF MENARA A. Acuan Berpikir dan Bertindak Selain dikenal sebagai Kota Kretek, Kudus juga dikenal sebagai kota santri. Dua walisanga, Sunan Kudus dan Sunan Muria dimakamkan di kabupaten ini. Peninggalan serta ajaran dari dua wali tersebut masih terus dipertahankan hingga sekarang. “Monumen” Menara Kudus, peninggalan Sunan Kudus menjadi simbol kedamaian dan tepaselira untuk membangun kerukunan dan persatuan masyarakat Kudus. Dari sisi keilmuan pesantren, Kudus dikenal sebagai kota santri. Jumlah pesantren yang cukup banyak serta mampu melahirkan ulama yang berpengaruh luas dan tak jarang menjadi tokoh nasional membuat pesantren di Kudus cukup diperhitungkan. Kudus, sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang menggunakan kata Arab “quds”, pernah tercatat mampu menanamkan nilai-nilai salafi, bahkan melahirkan tokoh-tokoh intelektual yang diakui secara regional dan internasional. KH. Raden Asnawi, Ulama’ besar kota Kudus yang pernah mukim di Makkah, telah menggagas berdirinya madrasah Qudsiyyah pada tahun 1919. Bersama para kiai di Kudus, seperti KH. Abdullah Faqih, KH. Shofwan Duri, KH. Kamal Hambali, RH. Dahlan, RH. Abdul Hamid, R. Sujono, KH. Jazri Tanggulangin, HM. Zuhri Asnawi dan lain-lain. Mereka menjadi ulama besar yang benar-benar produktif dalam berkarya serta tetap tidak kehilangan orientasi praksis mereka. Mereka mampu memadukan antara iman dan amal soleh, serta antara rasionalitas dan spiritualitas. Lebih dari itu, mereka tetap tidak kehilangan kesederhanaan dan kerendahatian mereka. Dari sisi keilmuan Qur’an Kudus memiliki setidaknya tiga ulama ahli Qur’an; K.H. Muhammad Arwani Amin (wafat tahun 1994), K.H. Hisyam Hayat (wafat tahun 1986), dan K.H. M. Sya’roni Ahmadi. K.H. Muhammad Arwani Amin merupakan ulama besar pendiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus. Sosok keilmuan dan keta’dhiman beliau diakui masyarakat. Kepakaran dalam bidang al-Qur’an, khususnya Qir’ah Sab’ah begitu terkenal secara nasional. K.H. Hisyam Hayat merupakan pendiri Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ar-Roudlotul Mardliyah Kudus. K.H. Hisyam Hayat merupakan murid dari K.H.Munawwir Krapyak Yogyakarta. Beliau kemudian juga mengkhatamkan qira’ah sab’ah kepada KH. Muhammad Arwani Amin. Keahlian di bidang al-Qur’an tak diragukan lagi. Satu lagi kyai yang begitu terkenal ahli Qur’an adalah K.H. M. Sya’roni Ahmadi. Kyai sepuh Kudus ini selama ini mengampu pengajian tafsir al-Qur’an di Masjid Menara. Dengan penjelasan yang mudah dipahami, ribuan pengunjung selalu memenuhi masjid Menara setiap kali pengajian tafsir usai shubuh dilaksanakan. Ketiga ulama Kudus tersebut dikenang masyarakat sebagai kyai panutan yang penuh tawadu’ dan ahli Qur’an. Perilaku, sikap dan tutur katanya menyejukkan sekaligus mencerahkan. Salah satu karya oleh tiga ulama Kudus tersebut adalah berkaitan dengan Mushaf al-Qur’an Pojok yang dicetak oleh Percetakan dan Penerbit Menara Kudus. Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus adalah mushaf Al-Qur’an yang dicetak dengan menggunakan sistem pojok, yakni mengakhiri setiap sudut lembarannya dengan akhiran sebuah ayat dan berjumlah 15 baris pada setiap lembarnya. Mushaf al-Qur’an Pojok ini begitu membantu bagi santri dalam membacanya maupun dalam proses menghafal al-Qur’an. Pada tahun 1974 Percetakan dan Penerbit Menara Kudus mencetak Mushaf al-Qur’an Pojok yang telah diperiksa dan diteliti oleh tiga ulama’ ahli Qur’an Kudus. Pencetakan ini setelah terlebih dahulu mendapat tanda tashih dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI pada tanggal 16 Mei 1974. Dengan mempertimbangkan jasa para ulama Kudus, Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus bermaksud menulis kembali Mushaf al-Qur’an yang telah diperiksa dan diteliti oleh ulama Kudus tersebut. Dengan dukungan dari seniman kaligrafi dan seniman grafis, tim akan menulis kembali Mushaf sesuai dengan rasm, harakat, tanda baca dan tanda waqf yang sama persis dengan Mushaf al-Qur’an yang telah diperiksa dan diteliti oleh kyai Kudus, yakni K.H. Muhammad Arwani Amin, K.H. Hisyam Hayat, dan K.H.M. Sya’roni Ahmadi. Hanya saja, al-Qur’an yang akan ditulis ulang kali ini menggunakan khat yang berbeda, yakni naskhi syauqi dan ornamen (iluminasi) mushaf yang mencerminkan peradaban Kudus. Semua ini didedikasikan untuk nguri-nguri karya ulama Kudus sembari meneguhkan tekad untuk selalu al-muhafadhah ala al-qadim al-shalih ma’a al-akhdzi bi al-jadidi al-ashlah (memelihara peninggalan yang baik sembari merengkuh peradaban baru yang lebih baik).