Перейти к содержимому

KONSER RAKYAT LEO KRISTI | 0311 | TIMOR TIMUR

SUNARDIAN WIRODONO

0:00 / 0:00

KONSER RAKYAT LEO KRISTI | 0311 | TIMOR TIMUR

2 147 просмотров · 5 лет назад
SUNARDIAN WIRODONO
21,1 тыс. подписчиков
2 147 просмотров · 5 лет назад
#leokristi #timortimur #timorleste Timor Timur, adalah lagu pamungkas dalam album kaset ke-tiga Konser Rakyat Leo Kristi (Nyanyian Tanah Merdeka, Irama Tara, Jakarta, 1978). Tapi bagaimana sikap atau pandangan Leo Kristi sendiri dalam persoalan Timor Timur, yang pernah menjadi bagian dari Indonesia (1976 – 1999) hingga kemudian menjadi negara merdeka Timor Leste? Menyimak lirik lagunya, memang agak samar. Leo Kristi tidak secara jelas menceritakan setting mana yang menjadi isi lagunya? Kalau merujuk judulnya ‘Timor Timur’, sepertinya Leo Kristi lebih berpihak pada Timor Leste daripada Negara Republik Indonesia. Tetapi, menariknya, kenapa dijudulinya Timor Timur? Bukannya Timor Leste? Sayangnya, tak pernah muncul pertanyaan kritis ini, hingga Leo Kristi meninggal 23 Mei 2017. Walaupn jika ditanyakan pada Leo Kristi, mungkin beliau hanya akan tersenyum saja, dengan misterinya. Indonesia ‘menjajah’ Timor Leste dari 1976 (sampai dengan 1999), dan kemudian atas desakan PBB, ketika Presiden Indonesia dipegang oleh BJ Habibie, Timor Timur lepas dan kembali menjadi Timor Leste. Walaupun jika kita melihat latar belakang sejarahnya, kedatangan Indonesia bisa dipahami dalam konteks berkecamuknya perang saudara di Timor Leste, karena Portugal seolah cuci-tangan dan tidak tegas bersikap. Hingga muncul Fretilin yang berhaluan komunis, mendeklarasikan Timor Leste sebagai negara merdeka. Amerika Serikat dan Australia, mendorong Indonesia untuk mengambil alih karena kekhawatiran mereka wilayah itu akan jatuh ke tangan komunis. Jika pun setelah itu, lewat PBB, AS dan Australia bersikap sebaliknya terhadap Indonesia, bisa jadi Indonesia saja yang terlalu naif dalam diplomasi dan strategi politik global kedua negara itu. Senyatanya, ketika menjadi negara merdeka bernama Timor Leste, wilayah itu tidak menjadi lebih sejahtera, dan bahkan menjadi jarahan baru Australia. Lepas dari persoalan itu, Leo Kristi lebih melihat sisi kemanusiaannya. Bagaimana perang saudara itu memisahkan mereka. Yang hal itu bisa saja terjadi ketika sebelum tahun 1975, di mana puluhan ribuan nyawa meregang dalam perang berebut kuasa antara puak mereka sendiri. Leo Kristi bisa jadi lebih bertolak pada drama kemanusiaan akibat perang saudara itu. Meski di beberapa baris ia memberikan que; seperti ‘sekelompok awan putih,…’ yang bergerak dari barat ke timur. Mungkinkah barat itu Jakarta? Kemudian ‘sekelompok jubah hitam,…’ yang bergerak dari timur ke barat, apakah itu kelompok Fretilin? Tapi, bukankah di Timor Leste sendiri ada banyak faksi, dari puak yang sama, tapi dengan berbagai bendera dan mempunyai cara masing-masing, yang satu sama lain berbeda? Sebagaimana sebagiannya lebih memilih bersama Indonesia? Que yang juga penting, tentang mayat-mayar yang berserak di altar dan bangku-bangku, yang itu menyiratkan pada tragedi Santa Cruz, yang melibatkan TNI dalam pembantaian rakyat Timor Leste. Dengan cepat bisa menuding Leo Kristi memang lebih berpihak pada Timor Leste daripada Indonesia yang waktu itu dipimpin oleh diktator bernama Soeharto. Wallahu’alam bissawab. Leo Kristi lebih mampu menyodorkan soal drama itu, dan tak peduli urusan bendera. Toh pada kenyataannya, fakta yang ada hingga kini pun, persaudaraan mereka hingga kini menjadi terbelah, sebagaian di Timor Leste sebagian di Indonesia. Dan rakyat jelata, rakyat Timor di NTT maupun di Timor Leste, mereka masih sangat menderita secara ekonomi, dalam kemiskinan, juga keterbatasan berbagai sektor. Karenanya, dalam doa penutup lagu, Leo Kristi hanya bisa meminta pada Bapa di Sorga, jadilah kehendakmu, bagaimana persaudaraan itu dipertemukan kembali. Dan seperti biasa, para elite politik, baik di Jakarta, AS dan Australia hanya berpikir soal segenggam tanah dan sekeping emas. Itulah cara pandang Leo. | @sunardianwirodono