Ritual Ha'alua Makan bersama arwah leluhur suku Kemak di Desa Sadi Atambua Belu
Agustina Rochyanti
0:00 / 0:00
Ritual Ha'alua Makan bersama arwah leluhur suku Kemak di Desa Sadi Atambua Belu
2 258 просмотров · 4 года назад
Agustina Rochyanti
1,14 тыс. подписчиков
2 258 просмотров · 4 года назад
Kampung adat Sadi di Belu merupakan wilayah suku etnis Kemak. Salah satu suku kemak yang pertama datang ke Kerajaan Fialaran adalah Suku Kemak Leimia. Selain di desa Sadi, suku kemak sendiri tersebar di beberapa desa yakni Desa Kabuna dan Desa Uma Klaran. Suku KEMAK bermigrasi dari Lorosae (Timor Leste Sekarang) pada tahun 1911 oleh karena ketidaknyamanan dengan Portugis sehingga meminta suaka ke Fialaran.
Ritual Ha'alua adalah ritual makan bersama leluhur - memohon berkat dari leluhur yang dilakukan di rumah suku dan tempat pemakaman leluhur. Ritual ini dilakukan pada satu bulan sebelum saat musim tanam. Adapula sebuah ritual yang tidak terlepas dari ritual ha’alua yakni ritual gelosele (ritual setelah musim tanam). Segala pantangan akan dilangsungkan menjelang ritual gelosele ditandai dengan setangkai batang beringin yang diletakkan di atas rumah, ini berarti rumah tersebut sedang menjalankan luli api (berpantang/api tidak dinyalakan/tidak ada kegiatan yang melibatkan api/memasak).
Ritual Ha’alua ini dilakukan dengan mempersembahkan jagung kering,perlengkapan kerja, ternak korban (sapi, babi, ayam), perak dan sirih pinang dipersembahkan oleh mane rin (lelaki dalam rumah suku), mane heu (lelaki yang menikahi wanita dalam suku) dan ina -ama (kerabat dalam suku). Ritual ini dilakukan oleh ketua suku masing-masing (bei) sementara itu imam adat suku kemak (Gase) hanya berperan untuk ritual besar seperti kematian.
Di akhir ritual ha’alua masyarakat adat Sadi bergembira dengan tarian Tei sebuah tarian kegembiraan