FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 157 Cinta yang Membakar, Penyesalan yang Menusuk
SENADA Sena Davina
0:00 / 0:00
FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 157 Cinta yang Membakar, Penyesalan yang Menusuk
1 528 просмотров · 4 часа назад
SENADA Sena Davina
5,16 тыс. подписчиков
1 528 просмотров · 4 часа назад
FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 157 Cinta yang Membakar, Penyesalan yang Menusuk: Di Antara Batas Misi dan Ketulusan Hati.
Langit malam menyisakan keheningan yang menyesakkan di ruangan itu, di mana air mata Davina tak mampu lagi terbendung setelah ampunan dan amarah Sena menghantam perasaannya tanpa kompromi. Dion dan Reza berdiri di sisinya, mencoba meredakan badai emosi yang berkecamuk di dada perempuan itu. "Udah Mbak Davina, nggak usah nangis terus, nanti air matanya kering loh," ucap Dion lembut, berusaha menghibur di tengah situasi yang kaku. Dengan suara bergetar penuh penyesalan, Davina menatap kedua rekan Sena itu. "Dion, saya bener-bener nggak nyangka Sena bakalan semarah ini, saya nggak tahu, dan saya nggak bermaksud sama sekali," lirihnya penuh kepedihan. Dion menghela napas berat, mencoba menempatkan diri di posisi yang dilematis. "Ya, saya juga bingung sih Mbak, di satu sisi saya ini memang kerjaannya lagi berat sekarang, di satu sisi ya, mohon maaf Mbak, tapi yang Mbak Davina lakukan tadi juga salah juga sih," jujur Dion dengan nada prihatin. Davina menggeleng lemah, air matanya semakin deras tumpah membasahi pipi. "Saya nggak bermaksud, sumpah saya nggak bermaksud untuk mempermainkan profesi kalian, saya nggak, saya nggak tahu bakalan seperti ini, saya benar-benar niatnya cuman pengen tahu kalau misalnya Dipa itu target operasi kalian atau bukan, udah sebatas itu aja karena saya benar-benar pengen bantu, jujur saya nggak mikir panjang, saya nggak ada niatan buruk sama sekali Dion." Mendengar ketulusan itu, Dion mengangguk pelan seraya memaklumi. "Saya tahu, saya maafin kalau-kalau saya mah, saya tahu Mbak, saya tahu kalau Mbak Davina itu nggak ada lah niat jelek, nggak ada pasti kalau Mbak Davina." Meski begitu, bayangan kekasihnya membuat hati Davina semakin gelisah. "Yon, Dion, saya harus minta maaf sama Sena, karena Sena pasti sekarang marah banget sama saya." Namun Dion segera mencegahnya demi kebaikan bersama. "Eh, Mbak Davina, saya kenal Sena, alangkah lebih baiknya nggak usah diomongin sekarang, mendingan kasih Sena waktu, Mbak." Reza turut mengamini saran tersebut. "Dion bener, Mbak, lebih baik kita berdua yang bicara sama Sena, Mbak." Merasa bersalah atas kekacauan yang terjadi, pandangan Davina beralih pada Reza yang berdiri di dekatnya. "Reza, saya minta maaf, Reza, saya tadi bener-bener nggak bermaksud kamu sampai basah kuyup, saya nggak tahu." Reza tersenyum tipis, berusaha menenangkan kekhawatiran Davina. "Nggak apa-apa, Mbak, saya tadi juga udah bawa baju ganti buat renang di sini, aman kok. Saya minta sama Mbak Davina, tolong jangan diulangin ya, Mbak, kan waktu itu saya juga udah pernah bilang sama Mbak Davina kan." Sekali lagi, Davina merunduk penuh penyesalan. "Sekali lagi saya minta maaf, saya bener-bener nggak ada niatan sama sekali." Melihat situasi yang mulai mereda, Dion pun memutuskan untuk pamit. "Ya udah, kalau begitu, kami mohon izin untuk pamit pulang dulu, Mbak." Di detik-detik terakhir kebersamaan itu, Davina berusaha memberikan buah tangan yang ia siapkan. "Saya minta tolong, ini makanannya kalian bawa pulang aja, kalian bisa masak di rumah... semuanya kalian bawa aja, saya-saya permisi, kalian hati-hati." Dion dan Reza menyambutnya dengan hangat. "Ya udah, makasih Mbak ya." "Makasih ya, Mbak Davina."
Langkah kaki Dion dan Reza menyusuri jalanan kompleks yang sepi, menyisakan tanda tanya tentang keberadaan rekan mereka yang tengah tersulut emosi. "Sena kemana ya kira-kira?" tanya Dion penasaran. Reza mencoba menganalisis situasi sambil melangkah. "Harusnya sih nggak jauh-jauh dari sini, Yon, karena dia nggak bawa mobil, tapi gue mau nanya sama lu, lu tahu nggak di sini ada taman?" Dion mengernyitkan dahi. "Nggak tahu sih, kita coba cek lah, taman kompleks." Di tempat terpisah, di bawah temaram lampu taman, bayangan kemarahan Sena beberapa waktu lalu masih terngiang jelas di benaknya, sebuah teguran keras yang lahir dari rasa takut kehilangan dan beban tugas negara yang memikul risiko kematian. "Aku sudah bilang berkali-kali sama kamu, Davina, urusanku di kepolisian jangan pernah ikut campur, itu bukan urusan kamu ya! Kamu sama aku memang punya hubungan, kamu pun dengan Reza dan Dion juga dekat, tapi bukan gini caranya! Nggak semua urusan rahasia kepolisian kamu harus tahu, Davina! Harusnya kamu sebagai perempuan yang cerdas, ngerti yang kamu lakukan ini salah! Ngerti nggak kamu sudah mempermainkan polisi, ngerti nggak? Kamu pikir pekerjaan kita ini main-main? Kami disumpah, kami mempertaruhkan nyawa kami buat negara, Davina!" Sena merenung dalam keheningan malam, dilanda pergolakan batin yang hebat. "Tadi gue terlalu keras kali ya sama Davina? Dia memang salah, tapi dia pasti kaget dan sedih banget karena gue bicara keras ke dia.
#terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji