Перейти к содержимому

Pergilah, Nak, Menjemput Cahaya

Harry Wicaksono

0:00 / 0:00

Pergilah, Nak, Menjemput Cahaya

115 просмотров · 11 дн. назад
Harry Wicaksono
25 подписчиков
115 просмотров · 11 дн. назад
PERGILAH, NAK, MENJEMPUT CAHAYA... 🥹❤️ Sepuluh tahun berlalu, tetapi kenangan hari itu masih terasa begitu dekat di hati... BATAM – YOGYAKARTA, 2016. Hari itu, dengan hati yang berat, Abi dan Bunda mengantarkanmu, putra tunggal kami, menuju sebuah pondok pesantren di Yogyakarta. Bukan karena kami ingin jauh darimu. Bukan pula karena kami tak sanggup merawatmu. Namun, kami menyadari betapa terbatasnya ilmu agama yang kami miliki untuk membimbingmu menjadi pribadi yang benar-benar mengenal Allah dan mencintai Rasul-Nya. Kami ingin engkau memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar keberhasilan dunia: iman yang kokoh, akhlak yang mulia, dan ilmu yang bermanfaat. Masih terbayang wajah kecilmu saat itu. Ada kesedihan yang kami sembunyikan di balik senyuman. Ada kerinduan yang bahkan sudah terasa sebelum kami benar-benar berpisah. Berat sekali rasanya melepas anak lelaki satu-satunya... Namun, kami percaya bahwa terkadang cinta orang tua bukan tentang selalu menggenggam tangan anaknya, melainkan tentang belajar melepaskannya demi masa depan yang lebih baik. Tiga tahun SMP... Tiga tahun SMA... Dan satu tahun pengabdian... Tujuh tahun perjalanan di pesantren. Bertahun-tahun engkau belajar hidup mandiri, menuntut ilmu, memahami arti kesabaran, kedisiplinan, dan perjuangan. Sementara dari kejauhan, kami hanya mampu menitipkanmu kepada Allah melalui doa-doa yang tak pernah putus. Waktu berlalu begitu cepat... Dan kini, tahun 2026, anak kecil yang dahulu kami antar dengan mata berkaca-kaca itu telah tumbuh dewasa. Engkau bahkan sudah menjalani masa magang di kantor Abi. ❤️ Rasanya baru kemarin Abi menggenggam tangan kecilmu menuju gerbang pesantren. Kini, Abi melihatmu mulai melangkah mengenal dunia kerja, belajar bertanggung jawab, dan mempersiapkan masa depanmu sendiri. Nak... Perjalananmu masih panjang. Dunia tidak selalu mudah, dan kehidupan tidak selamanya berjalan seperti yang kita harapkan. Teruslah semangat. Teruslah belajar. Teruslah berjuang. Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang engkau miliki. Jangan pernah tinggi hati atas pencapaianmu. Dan jangan pernah meninggalkan Allah dalam setiap langkah kehidupanmu. Kami tidak menuntutmu menjadi orang paling kaya, paling hebat, atau paling terpandang. Cukuplah engkau menjadi hamba yang taat kepada Allah, anak yang berbakti kepada orang tua, serta manusia yang membawa manfaat bagi masyarakat. Itulah keberhasilan yang paling kami dambakan. 🤲 Ya Allah... Sebagaimana dahulu kami menitipkannya kepada-Mu saat memasuki pesantren, hari ini dan selamanya kami kembali menitipkan masa depan serta seluruh perjalanan hidupnya kepada-Mu. Jagalah iman dan akhlaknya. Lapangkan rezekinya. Mudahkan urusannya. Jauhkan ia dari jalan yang Engkau murkai. Jadikan setiap ilmu dan langkah perjuangannya sebagai jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat. Anakku, sejauh apa pun kelak engkau melangkah, ingatlah... Di belakang perjuanganmu, selalu ada Abi dan Bunda yang menyebut namamu dalam doa. Dan bila suatu hari dunia terasa begitu berat, jangan pernah lupa bahwa engkau selalu memiliki rumah untuk pulang dan orang tua yang tak pernah berhenti menyayangimu. 2016, kami melepasmu dengan air mata. 2026, kami menyaksikanmu tumbuh dengan penuh rasa syukur. Terbanglah tinggi, Nak... tetapi jangan pernah melupakan tempatmu bersujud. ❤️ Pergilah, Nak, Menjemput Cahaya... Sebuah lagu tentang keikhlasan, kerinduan, harapan, dan doa orang tua untuk putra tercinta. 🎧 Dengarkan lagu ini hingga akhir. Semoga setiap baitnya menjadi pengingat bahwa di balik langkah seorang anak, selalu ada doa orang tua yang diam-diam mengiringinya. By: Harry Wicaksono #PergilahNakMenjemputCahaya