Перейти к содержимому

VRU (1) Bukan Sekadar Duduk Diam, Inilah Tujuan Sebenarnya Mindfulness | Bhikkhu Santacitto Thera

STAB Kertarajasa

0:00 / 0:00

VRU (1) Bukan Sekadar Duduk Diam, Inilah Tujuan Sebenarnya Mindfulness | Bhikkhu Santacitto Thera

1 831 просмотр · 3 нед. назад
STAB Kertarajasa
13 тыс. подписчиков
1 831 просмотр · 3 нед. назад
Apa sebenarnya tujuan dari Mindfulness? Mindfulness atau Meditasi bukan hanya tentang membuat pikiran menjadi tenang atau menghilangkan stres. Dalam penjelasan Bhante Santacitto Thera, meditasi merupakan latihan untuk mengembangkan batin, sehingga kita dapat mengenali dan meninggalkan pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat. Di dalam batin terdapat berbagai macam pikiran dan keadaan mental yang muncul silih berganti. Ada pikiran yang bermanfaat, tetapi ada pula pikiran yang justru membawa kita semakin jauh dari perkembangan batin. Dalam ajaran Buddha, terdapat tiga akar kejahatan, yaitu lobha, dosa, dan moha. Lobha adalah keserakahan atau keinginan untuk melekat dan mendapatkan sesuatu. Dosa adalah kebencian, kemarahan, penolakan, atau ketidaksukaan terhadap sesuatu. Sedangkan moha adalah kebodohan batin atau ketidaktahuan, yaitu ketika kita tidak melihat sesuatu sebagaimana adanya. Melalui meditasi, kita belajar untuk menyadari munculnya keadaan-keadaan tersebut. Bukan dengan membenci pikiran yang muncul, tetapi dengan mengenalinya, mengamatinya, dan tidak terus mengikuti atau mengembangkannya. Setelah memahami tujuan meditasi, muncul pertanyaan berikutnya: Bagaimana sebenarnya postur tubuh yang digunakan dalam meditasi? Meditasi tidak terbatas hanya pada posisi duduk. Dalam praktiknya, kita dapat mengembangkan kesadaran dalam berbagai postur, seperti duduk, berdiri, berjalan, bahkan berbaring. Ketika duduk, tubuh berada dalam posisi yang stabil. Kita dapat menggunakan objek meditasi tertentu, misalnya napas, gerakan perut, atau objek lain sesuai metode latihan yang digunakan. Ketika berdiri, kita dapat memperhatikan tubuh yang sedang berdiri. Kita mengenali keseimbangan tubuh, tekanan pada kaki, sensasi tubuh, serta berbagai perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Kemudian dalam meditasi berjalan, perhatian diarahkan pada proses berjalan itu sendiri. Kita menyadari gerakan kaki, mengangkat, menggerakkan, dan meletakkan kaki, sesuai dengan metode yang digunakan. Jadi, objek meditasi tidak harus selalu sesuatu yang berada jauh dari pengalaman kita. Tubuh dan aktivitas yang sedang dilakukan dapat menjadi objek perhatian. Saat duduk, kita menyadari duduk. Saat berdiri, kita menyadari berdiri. Saat berjalan, kita menyadari berjalan. Dengan latihan seperti ini, mindfulness tidak hanya muncul ketika kita berada di tempat meditasi, tetapi perlahan dapat dibawa ke dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Pada akhirnya, inti dari latihan bukan sekadar mempertahankan satu postur tertentu. Yang lebih penting adalah mengembangkan kesadaran terhadap tubuh dan batin, mengenali apa yang sedang muncul, dan belajar untuk tidak terus mengikuti keadaan mental yang tidak bermanfaat. Dengan demikian, meditasi menjadi sebuah latihan untuk memahami batin secara langsung, sedikit demi sedikit, dari pengalaman kita sendiri.