Negara Religius atau Negara Ritual? Menggugat Substansi Tradisi Ziarah Kontemporer
ADA SATU
0:00 / 0:00
Negara Religius atau Negara Ritual? Menggugat Substansi Tradisi Ziarah Kontemporer
65 просмотров · 9 дн. назад
ADA SATU
288 подписчиков
65 просмотров · 9 дн. назад
Ziarah Kita: Antara Berburu Berkah dan Lupa Isi Kepala
Coba sesekali tengok jalanan antar-kota kalau pas malam Jumat atau bulan-bulan gerah menjelang puasa. Bus-bus pariwisata berjejer, kaca belakangnya ditempeli stiker rombongan ziarah dari desa anu atau pengajian anu. Di dalamnya, bapak-bapak dan ibu-ibu khusyuk memegang tasbih, sebagian lagi sibuk meluruskan kaki yang pegal. Tujuannya satu: sowan ke makam para wali dan guru-guru agung.
Tradisi ini luar biasa hidup. Makam-makam keramat tak pernah sepi dari kepulan asap kemenyan, wewangian bunga, dan dengung doa yang sahut-menyahut. Indah? Tentu saja. Bangsa kita ini memang paling juara kalau urusan merawat ritus.
Tapi, kalau kita mau jujur sambil udud atau minum kopi tubruk, ada yang terasa agak meleset. Ziarah kita belakangan ini sering kali bergeser fungsinya menjadi semacam "wisata batin yang tanggung". Rombongan peziarah hapal betul nama Wali yang di dalam kubur, tahu silsilahnya sampai ke atas, bahkan hapal cerita-cerita sakti mandragunanya. Tapi begitu ditanya, "Lha, ajaran atau kitab yang ditulis Mbah Wali itu isinya apa?"—kita langsung garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Kita ini gemar sekali mengagungkan orangnya, tapi malas menyentuh warisan isi kepalanya. Kita datang jauh-jauh, kadang modal nekat menyisihkan uang belanja, hanya untuk mengetuk pintu kubur demi meminta karomah, berkah, atau sekadar ketenangan instan. Pulang dari sana, bawa oleh-oleh kaos, air doa, dan rengginang, tapi isi kepala kita tetap kosong melompong.
Padahal, tokoh-tokoh hebat seperti Wali Songo itu dulunya adalah para intelektual pemikir, bukan sekadar orang sakti yang bisa menghilang. Mereka menulis kitab, merumuskan strategi budaya, dan menata masyarakat dengan ilmu yang aduhai dalamnya. Celakanya, ilmu-ilmu itu sekarang seperti dikurung. Ada yang disimpan rapat oleh keturunannya di lemari kesultanan, ada yang hanya berputar di kalangan santri senior. Masyarakat awam hanya kebagian mencium batu nisan dan ngalap berkah luarnya saja.
Maka jangan kaget kalau hari ini bangsa kita jadi agak kagetan dan gampang bingung. Di televisi dan media sosial, ruang publik kita riuh bukan main oleh urusan yang remeh-temeh. Orang-orang pintar malah sibuk berantem meributkan urusan ijazah asli atau palsu, atau saling maki gara-gara pilihan politik musiman. Kita mendadak jadi "masyarakat ritual", bukan masyarakat yang religius. Kita beragama lewat upacara dan bungkus luar, tapi kering di dalam. Kita gampang ngamuk kalau tersenggol, gampang memuja, dan gampang membenci setengah mati hanya karena beda kubu. Jiwa kita disetir oleh sensasi, bukan oleh tuntunan ilmu.
Imam Ali bin Abi Thalib dulu pernah berpesan dengan sangat elok: ilmu itu menjaga kita, sedangkan harta malah kita yang harus repot menjaganya. Nah, ziarah yang sejati itu mestinya adalah ziarah ilmu. Kita datang ke makam beliau-beliau itu untuk menyalakan kembali obor pemikiran mereka di dalam kepala kita sendiri.
Sudah saatnya warisan pemikiran ulama Nusantara kuno itu dibongkar, diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, lalu diajarkan ke anak-anak muda kita. Bukan biar mereka jadi dukun atau ahli klenik, tapi agar mereka tumbuh jadi manusia yang waras, bijaksana, dan punya akar sejarah yang kuat. Ziarah itu sejatinya membuat kita melangkah maju ke depan dengan kepala tegak dan hati yang terang, bukan malah berjalan mundur meratapi masa lalu sambil sibuk mengemis berkah.
Kutipan Inspiratif:
"Menziarahi Intelektualitas, Menghidupkan Warisan Wali" - @adasatu12
Timestamps:
00:00 - Tradisi Malam Jumat & Keresahan tentang Jiwa
01:41 - Pertanyaan Kritis: Apa Substansi Ziarah yang Sebenarnya?
03:40 - Ketika Kitab Wali Songo Menjadi Eksklusif
06:50 - Hakikat Ziarah: Menapaki Jejak Kepala, Bukan Cuma Nisan
11:00 - Sengkarut Wisata Religius: Berburu Berkah tapi Lupa Ilmu
14:45 - Kritik Zaman: Dari Negara Religius Menjadi Negara Ritual
21:30 - Kesimpulan: Ilmu yang Menjaga Manusia
Hashtags:
#Filsafat #WaliSongo #ZiarahKubur #IslamNusantara #AdaSatuChannel #BudayaIslam #NgajiFilsafat