Kunang-kunang yang padam ditengah riuhnya cakrawala
ARMAN ART SMANDALU SMART
0:00 / 0:00
Kunang-kunang yang padam ditengah riuhnya cakrawala
42 просмотра · 5 дн. назад
ARMAN ART SMANDALU SMART
214 подписчиков
42 просмотра · 5 дн. назад
Di antara riuhnya cakrawala,
Kau hadir membawa cahaya.
Kecil, tetapi begitu bermakna,
Lalu padam sebelum kupunya...
Kau datang tanpa banyak kata,
Membawa senyum, menyentuh jiwa.
Di antara mimpi dan dunia semu,
Perlahan aku mengenal hadirmu.
Belum sempat kubaca hatimu,
Belum selesai kisah tentangmu.
Namun malam merenggut segalanya,
Meninggalkan sunyi tanpa suara.
Mengapa kau pergi begitu cepat?
Saat hatiku mulai terpikat.
Mengapa mimpi harus berakhir,
Saat kuingin kau tetap hadir?
Wahai kunang-kunangku,
Mengapa padam cahaya itu?
Aku baru belajar mencintai,
Kau telah pergi, tak kembali.
Di tengah langit yang berpesta,
Kubiarkan air mata bicara.
Dunia tertawa dalam cahaya,
Sedang jiwaku kehilangan dunia.
Kepada takdir kupinta jawaban,
Mengapa singgah menjadi kehilangan?
Jika pertemuan hanya sementara,
Mengapa luka begitu nyata?
Tak ada nisan untuk kukenang,
Tak ada bunga di tempat kau menghilang.
Hanya bayangmu yang tertinggal,
Di ruang hati yang kian tanggal.
Andai waktu sudi mendengar,
Satu kesempatan ingin kupinta.
Satu senyum, satu percakapan,
Sebelum kau menjadi kenangan.
Wahai kunang-kunangku,
Mengapa padam cahaya itu?
Aku baru belajar mencintai,
Kau telah pergi, tak kembali.
Di tengah langit yang berpesta,
Kubiarkan air mata bicara.
Dunia tertawa dalam cahaya,
Sedang jiwaku kehilangan dunia.
Kini kupahami arti cahaya,
Bukan lamanya, tetapi maknanya.
Kau tak harus tinggal selamanya,
Untuk menjadi bagian dari jiwa.
Jika kelak kita berjumpa,
Di alam mimpi yang berbeda,
Akankah kau mengenal diriku,
Yang masih menyimpan cahaya darimu?
Aku tak meminta kau kembali,
Tak ingin menahan waktu berlari.
Cukuplah malam menjadi saksi,
Kau pernah hadir, kau pernah berarti.
Wahai kunang-kunangku,
Meski telah padam cahayamu,
Kan kusimpan dalam ingatanku,
Jejak indah tentang hadirmu.
Biarlah langit terus berpesta,
Meski hatiku pernah terluka.
Kini kulepas semua air mata,
Kau pernah ada, itu sudah berharga.
Selamat tinggal, kunang-kunangku...
Kau padam terlalu cepat,
Saat aku baru belajar
Menikmati cahaya...
Dan jika kelak kulihat cahaya,
Di tengah malam yang kembali gulita,
Aku kan tersenyum mengingatmu...
Sebab kau pernah ada.
Dan itu...
Telah cukup bermakna.