Перейти к содержимому

Mitha Talahatu - Sampe Kapan | Lagu Ambon Maluku (Official Music Audio) (Cipt. Noce Tauran)

Amazio P. Elrapha Hasan

0:00 / 0:00

Mitha Talahatu - Sampe Kapan | Lagu Ambon Maluku (Official Music Audio) (Cipt. Noce Tauran)

215 просмотров · 2 недели назад
Amazio P. Elrapha Hasan
3 подписчика
215 просмотров · 2 недели назад
Judul Novel: Di Balik Helm & Senyum Palsu Episode Novel: Eps 01-02 Tema: Perjuangan meraih impian, rindu kasih sayang orang tua, kesetiaan yang dikhianati, dan kesakitan yang disembunyikan di balik senyuman Pesan Moral Singkat: Menyembunyikan luka tak akan menyembuhkannya; kesetiaan tak seharusnya hanya dijunjung sendiri, dan impianmu berharga meski dunia terasa tidak berpihak padamu.   Bab 1: Sampai Kapan Luka Ini Berakhir? Debu jalanan menempel di pelipisku, keringat bercampur tanah membasahi punggung. Mesin motorku baru saja mereda, tapi suara di kepalaku tak pernah berhenti bergema. Sampai kapan? Sampai kapan semua masalah ini akan berakhir? Aku berdiri di halaman rumah yang sama dinginnya seperti biasanya. Tak ada sambutan hangat saat aku pulang dari latihan, tak ada tanya apakah aku lelah, apakah aku lapar, apakah kakiku sakit setelah jatuh berkali-kali di lintasan. Yang ada hanyalah tatapan yang tak setuju, kata-kata yang memotong semangatku perlahan-lahan. "Berhenti bermimpi ketinggian," begitu katanya. "Menjadi pembalap bukan jalan yang benar." Tapi ini impianku. Ini yang membuat hatiku berdetak paling kencang—saat melaju membelah angin, menaklukkan bukit tanah, melompat melintasi rintangan. Aku ingin menjadi pembalap motocross profesional. Bukan untuk kemewahan, bukan untuk pujian—hanya agar suatu hari nanti, mereka bisa melihatku dengan bangga, dan berkata: Itu anakku. Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai kapan aku mendapatkan kasih sayang itu? Matahari mulai terbenam, warna jingga memudar menjadi kelabu. Aku menarik napas panjang, menyeka debu dari wajahku, dan memasang senyum yang sudah kusiapkan sejak lama. Senyum ini sudah menjadi hiasan—topeng agar tak ada yang tahu betapa remuknya hatiku di dalam. Selama ini aku diam. Selama ini aku tak pernah bercerita. Siapa yang mau mendengar? Siapa yang peduli? Lalu ada kamu. Kamu yang kupikir akan menjadi tempat pulangku saat dunia tak memihak. Kamu yang kucintai lebih dari apa pun. Ternyata… Aku melihatnya sendiri. Bukan dari cerita orang lain, bukan dari desas-desus. Mataku sendiri yang menyaksikannya—di depan mataku, tak disembunyikan sedikit pun. Cinta yang kita jaga, yang kupertahankan dengan segala kesetiaan, kamu bagikan kepada orang lain seolah-olah itu tak berharga. Kamu melakukan itu tepat di hadapanku, seolah perasaanku tak ada, seolah hatiku tak bisa hancur. Namun aku masih diam. Aku menelan rasa sakit itu sendirian, menutupinya dengan senyum yang semakin tipis, dan tetap menanti.   Bab 2: Kesetiaan yang Tak Tergoyahkan Orang bilang, kesetiaan akan membuahkan kepulangan. Orang bilang, sabar itu ada batasnya, tapi aku belum ingin menyerah. Setiap hari aku bangun dengan harapan yang sama: semoga hari ini berbeda. Semoga orang tuaku akhirnya mengerti impianku. Semoga kamu menyadari bahwa aku masih di sini, menunggumu dengan cinta yang tak berkurang sedikit pun. Rasa sakit itu nyata. Tajam, setiap kali teringat apa yang kulihat. Tapi aku tak pergi. Aku tetap setia. Aku tetap memberi kesempatan, meski setiap kali melakukannya, ada bagian dari diriku yang kembali terluka. Kamu tak menyembunyikannya. Kamu bahkan tak berusaha. Dan aku… aku pura-pura tak melihat. Aku pura-pura kuat. Senyumku setiap pagi bukan tanda bahagia. Itu hanya cara menutupi betapa hancurnya hatiku di dalam. Selama ini aku menyimpan semuanya sendirian—rasa rindu pada kasih sayang rumah yang tak pernah kudapat, rasa takut impianku tak akan pernah tercapai, rasa perih saat cintaku dibagi kepada orang lain. Tapi aku masih di sini. Aku masih melatih tubuhku di bawah terik matahari, jatuh dan bangkit lagi, meski tak ada sorak-sorai. Aku masih menatap pintu rumahmu, berharap kamu keluar dan kembali padaku seutuhnya. Aku masih percaya… masih berharap kalian sadar. Aku tak meminta banyak. Hanya dihargai. Hanya dicintai sebagaimana aku mencintai. Hanya agar impianku dilihat sebagai sesuatu yang nyata, bukan sekadar khayalan anak kecil. Sampai kapan aku harus bertahan? Aku tak tahu. Tapi hari ini pun, aku tetap melangkah. Dengan senyum di wajah dan luka di dada, aku tetap menanti. Kembalilah padaku. Kembalikan cintaku yang utuh. Dan semoga… semoga suatu hari, rumah itu juga menyambutku dengan pelukan yang kurindukan.