Nie Hoe Kong (2019), Orkestra Bumi Siliwangi feat. Seto Noviantoro (Tehyan)
Fauzie Wiriadisastra
0:00 / 0:00
Nie Hoe Kong (2019), Orkestra Bumi Siliwangi feat. Seto Noviantoro (Tehyan)
310 просмотров · 5 лет назад
Fauzie Wiriadisastra
218 подписчиков
310 просмотров · 5 лет назад
Nie Hoe Kong for Tehyan and Orchestra
Orkestra Bumi Siliwangi
Tehyan: Seto Noviantoro
Conductor: Fauzie Wiriadisastra
Ramewa 2020
Video by Nia Janiar
---
(Scroll for English translation)
Tehyan adalah erhu versi Indonesia yang digunakan sebagai pembawa melodi dalam kesenian gambang kromong. Alat musik ini menggunakan resonator batok kelapa dan soundboard kayu.
Nie Hoe Kong adalah seorang kapitan Cina pada abad ke 18 di Batavia yang dikenal sebagai pemrakarsa kesenian gambang kromong, sebuah ensembel yang memadukan instrumen China dan Jawa. Ia menjabat saat terjadi peristiwa Gegar Pacinan, sebuah pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC, yang menjadi awal dari berbagai kompleksitas kehidupan masyarakat Tionghoa di bumi Nusantara selama berabad-abad kemudian. Nie Hoe Kong kemudian dipenjara karena dianggap bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut meskipun tidak terbukti bersalah.
--
Tehyan is an Indonesian version of the Chinese Erhu. Similar to other related instruments in SE Asia, the Tehyan is using coconut shell for its body and a thin wood for its soundboard (as opposed to wood body and snakeskin front in an Erhu). It is the primary melodic instrument in the Gambang Kromong ensemble.
Nie Hoe Kong is the leader of the Chinese community in 18th century Batavia. Today he is known as the founder of Gambang Kromong, which is an ensemble combining Chinese and Javanese instruments. During his leadership, the infamous "Geger Pacinan" occurred. It was a pogrom instigated by the VOC towards the Chinese in Batavia. For centuries to come, the Chinese will face numerous pogroms and strained relationship in this land. Nie Hoe Kong was later sentenced to jail as he was assumed to be responsible, even though he was not found guilty.