Перейти к содержимому

riwayat dan karomah abah Anom (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin) suryalaya

manaqib waliullah

0:00 / 0:00

riwayat dan karomah abah Anom (Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin) suryalaya

10 590 просмотров · 5 лет назад
manaqib waliullah
3,75 тыс. подписчиков
10 590 просмотров · 5 лет назад
Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah sosok yang memiliki kegemaran menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang dedengkot Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda. Mungkin sejak itulah, ia lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Riwayat Hidup dan Keluarga Lahir Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah nama asli Abah Anom. Lahir 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Ia anak kelima dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren "Suryalaya". Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN). Wafat meninggal di Tasikmalaya, 5 September 2011 pada umur 96 tahun Pendidikan Pendidikan Masa Kecil Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara lebih khusus di berbagai pesantren. Ia keluar masuk berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat seperti, Pesantren "Cicariang" dan Pesantren "Jambudwipa" di Cianjur untuk ilmu-ilmu alat dan ushuluddin. Sedangkan di Pesantren "Cireungas", ia juga belajar ilmu silat. Minatnya untuk belajar silat diperdalam ke Pesantren "Citengah" yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli “alat”, jago silat dan ahli hikmat. Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang dedengkot Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda. Mungkin sejak itulah, ia lebih dikenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Sebuah masa yang rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antar berbagai kelompok yang ada di masyarakat, terutama antara DI/TII melawan TNI. “Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun tertentu,” tegas Abah Anom, tentang eksistensi tasawuf dalam ajaran Islam. Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). #riwayatabahanom #abahanomsuryalaya #macansuryalaya #karomahabahanom #syekhahmadshohibulwafatajularifin #tqnsuryalaya #riwayatdankaromahabahAnom(SyekhAhmadShohibulwafaTajul Arifin)suryalaya