Перейти к содержимому

Karakter Lydia bukan hanya mendengar tapi melakukan

manukan mdc khotbah

0:00 / 0:00

Karakter Lydia bukan hanya mendengar tapi melakukan

13 просмотров · 5 дн. назад
manukan mdc khotbah
15 подписчиков
13 просмотров · 5 дн. назад
Pengkhotbah : Pdt. Audi O.Senas Kisah Para Rasul 16:11–15 DENGAR, LAKUKAN, JADILAH BERKAT I. PEMBUKAAN — Alarm jam yang menunjukan pukul 06.00. alarm itu berbunyi tapi kita biarkan-kita matikan tombol OFFnya lalu kita kembali tidur. Bunyi tapi kita abaikan – kita memilih untuk tidur lagi. Kadang-kadang kita juga memperlakukan Firman Tuhan seperti itu. Setiap Minggu kita datang ke gereja. Kita mendengar khotbah tentang kasih, pengampunan, kesabaran, dan kerendahan hati. Kita mengangguk dan berkata, “Amin!” Tetapi begitu pulang, • ketika pasangan melakukan kesalahan, kita kembali marah. • Ketika orang menyakiti kita, kita kembali menyimpan kepahitan. • Ketika diminta menolong, kita kembali mencari alasan. Telinga sudah mendengar Firman, mulut berkata Amin, tetapi kehidupan belum tentu berubah. • Ada juga yang ketika mendengar khotbah berkata, “Wah, ini cocok sekali untuk seseorang!” • Kalau khotbah tentang suami, dia menyenggol istrinya. Kalau khotbah tentang istri, dia melirik suaminya. • Kalau khotbah tentang orang yang pelit, dia langsung melihat ke sebelahnya! (Pause untuk memberi kesempatan jemaat tertawa.) Kita lebih cepat menemukan kesalahan orang lain daripada membiarkan Firman Tuhan mengoreksi diri sendiri. persoalannya bukan hanya berapa banyak khotbah yang sudah kita dengar. Tapi Apakah Firman yang kita dengar sudah menggerakkan kehidupan kita? Dalam Kisah Para Rasul 16:11–15, kita melihat seorang perempuan bernama Lidia. Ketika mendengar pemberitaan Paulus. II. KONTEKS DEKAT — Firman diberitakan di tempat sederhana 1. Injil sedang bergerak ke wilayah baru Dalam Kisah Para Rasul 16:9–10, Paulus mendapat penglihatan tentang seorang Makedonia yang meminta pertolongan. Paulus dan rekan-rekannya memahami bahwa Allah memanggil mereka untuk memberitakan Injil di Makedonia (propinsi) Mereka tiba di (kota) Filipi, sebuah kota penting di wilayah Makedonia dan koloni Romawi. 2. Pemberitaan terjadi di tepi sungai Pada hari Sabat, Paulus dan rekan-rekannya pergi ke luar pintu gerbang kota, menuju tepi sungai, tempat mereka menduga orang berkumpul untuk berdoa. Di sana mereka berbicara kepada beberapa perempuan yang berkumpul. Perhatikan, pemberitaan Injil tidak berlangsung di gedung megah atau di hadapan ribuan orang, tetapi dalam pertemuan sederhana. Jangan meremehkan pertemuan sederhana ketika Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang besar, melalui Lidia 3. Tuhan membuka hati Lidia Ayat 14 : Lidia, seorang penjual kain ungu dari Tiatira yang beribadah kepada Allah. Ketika mendengar Paulus berbicara, Tuhan membuka hatinya sehingga ia memperhatikan pemberitaan itu. III. POIN PERTAMA — DENGAR: Tuhan membuka hati untuk Firman Ayat kunci: Kisah Para Rasul 16:14 “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.” A. Penjelasan teks Lidia bukan sekadar hadir dan mendengar Paulus berkhotbah. Lukas menegaskan bahwa Tuhan membuka hatinya = mendengar dengan hati sehingga ia memperhatikan pemberitaan Paulus. Mendengar dengan hati berarti memberikan perhatian dan kesediaan untuk merespons kebenaran yang didengar. • Kita bisa mendengar khotbah sambil memikirkan pekerjaan – makan apa entar – siapa yang akan saya makan ? • Kita bisa membaca Alkitab sambil sibuk dengan telepon genggam. • Kita bahkan bisa mengetahui banyak ayat, tetapi tetap menolak teguran Firman. Dalam kisah ini, Tuhanlah yang membuka hati Lidia. Ini mengingatkan kita bahwa kita membutuhkan pekerjaan Allah agar Firman tidak sekadar menjadi informasi, melainkan sungguh-sungguh kita terima. B. Humor yang menyindir Saudara, ada orang yang • ketika mendengar khotbah tentang kesombongan langsung berpikir, “Wah, si A harus mendengar khotbah ini!” • Ketika mendengar tentang pengampunan, ia berpikir, “Sayang sekali si B tidak datang hari ini!” • Ketika mendengar tentang kesetiaan, ia berkata dalam hati, “Ini cocok untuk si C!” Semua orang masuk dalam daftar penerapan khotbahnya, kecuali dirinya sendiri! Kita datang untuk mendengar Firman, tetapi tanpa sadar menjadikan Firman sebagai alat untuk mengoreksi orang lain. C. Penerapan praktis Ketika mendengar Firman, jangan hanya bertanya: • Apa yang sedang dikhotbahkan? • Ayat apa yang harus saya catat? • Apakah khotbah ini menarik? Mulailah bertanya: • Apa yang Tuhan sedang tunjukkan tentang diri saya? • Sikap apa yang perlu saya koreksi ? • Bagian hidup mana yang perlu saya serahkan kepada Tuhan? Kalimat refleksi “Jangan datang ke gereja dengan membawa daftar kesalahan orang lain. Datanglah dengan hati yang bersedia diperiksa Tuhan.” Transisi ke poin kedua Tetapi hati yang terbuka kepada Firman tidak berhenti pada, “Saya mengerti.” • Ada orang yang tahu bahwa ia harus mengampuni, tetapi tetap menyimpan dendam. • Tahu bahwa ia harus berdoa, tetapi tidak memberi waktu untuk doa. • Tahu bahwa ia harus berubah, tetapi selalu berkata, “Nanti saja.”