2 | Daurah Isaghuji [The Phoenix for Logic]
M. Nova Burhanuddin
0:00 / 0:00
2 | Daurah Isaghuji [The Phoenix for Logic]
21 просмотр · 2 нед. назад
M. Nova Burhanuddin
120 подписчиков
21 просмотр · 2 нед. назад
Diawali dengan definisi ilmu manthiq secara rasmi. Bahwa manthiq adalah alat yang bersifat aturan yang mana menjaganya dapat menghindarkan akal dari kesalahan berpikir (المنطق هو آلة قانونية تعصم مراعاتها الذهن عن الخطأ في الفكر). Definisi ini sangat menggugah, karena berisi manfaat ilmu kedepannya yang sangat beharga.
Tapi juga sekilas menyebutkan definisi secara hadd, yakni definisi dengan menyebutkan objek bahasan. Tanpa menjelaskan lebih jauh. Megingat ia terlalu dalam, tidak cocok buat pemula. Juga megingat memahaminya butuh memahami terlebih dahulu bab-bab manthiq secara menyeluruh dan mendalam. Karena definisi secara hadd hakikatnya adalah miniatur atau shorcut ilmu secara esensial.
Yakni, ilmu yang membahas tentang sifat-sifat esensial dari ma'qulat tsaniyah/secondary intellegible/second order logic dari perspektif ia mengandung kesesuaian dengan ma'qulat ula/primary intellegible/first order logic (علم باحث عن العوارض الذاتية للمعقولات الثانية من حيث تنطبق أي تشتمل على المعقولات الأولى). Terlihat sekali definisi hadd ini sangat mendalam dan terlalu filosofis bagi pemula.
Disusul dengan pembacaan Khutbah Kitab. Di sana disebutkan, bahwa Al-Abhari datangkan dalam risalah Isaghuji apa yang wajib dihadirkan bagi siapa saja yang memulai membahas ilmu apa pun.
Tanpanya, pemahaman ilmu apapun menjadi kacau dan kontradiktif. Karena itu, logika disebut pengantar semua ilmu. Sehingga dijuluki Tuannya Ilmu-Ilmu, Pemimpin Ilmu-Ilmu.
Jadi, bagi pembelajar turats Isaghuji seharusnya tidak merasa aneh mengamati bagaimana Barat menyelesaikan Krisis Fondasional Matematika (dan juga Sains) dengan meminta bantuan ilmu logika (plus Ilahiyyat/Umur 'Ammah, dalam istilah turats Islam, menurut amatan saya).