Mengampuni Bukan Berarti Harus Sedekat Dulu
Kisah Dalam Iman - Cerita Alkitab
0:00 / 0:00
Mengampuni Bukan Berarti Harus Sedekat Dulu
58 просмотров · 11 дней назад
Kisah Dalam Iman - Cerita Alkitab
179 подписчиков
58 просмотров · 11 дней назад
Kamu sudah mengampuni seseorang. Tetapi apakah itu berarti kamu harus kembali sedekat dahulu dengannya?
Mungkin orang itu pernah membocorkan rahasiamu, berulang kali berbohong, memanipulasi perasaanmu, atau melakukan sesuatu yang membuatmu kehilangan kepercayaan.
Kamu ingin mengampuni. Kamu tidak ingin menyimpan kepahitan. Tetapi kamu juga belum merasa aman untuk membuka kembali seluruh bagian hidupmu kepadanya.
Apakah itu berarti kamu belum sungguh-sungguh mengampuni?
Dalam video ini, kita akan membahas apa yang Alkitab ajarkan tentang kasih, pengampunan, kepercayaan, dan batas yang sehat dalam hubungan.
Kita akan melihat mengapa kedekatan fisik tidak selalu berarti kedekatan emosional, mengapa kepercayaan perlu dibangun melalui waktu, dan mengapa mengasihi seseorang tidak berarti memberinya akses tanpa batas ke hidup kita.
Kita juga akan membahas perkataan Yesus dalam Lukas 17 ayat 3, pentingnya menegur dengan kasih, serta perbedaan antara mengampuni, membangun kembali kepercayaan, dan memulihkan hubungan.
*Pengampunan tidak sama dengan kepercayaan. Dan memaafkan seseorang tidak selalu berarti hubungan bisa langsung kembali seperti dahulu.* Kepercayaan membutuhkan proses, sedangkan rekonsiliasi membutuhkan keterlibatan kedua pihak.
Jika sebuah hubungan melibatkan kekerasan, ancaman, atau perilaku yang membuatmu tidak aman, mencari pertolongan dan menetapkan batas perlindungan bukan berarti kamu kurang beriman.
Namun, batas yang sehat juga bukan alasan untuk menghindari setiap konflik, menolak koreksi, atau menganggap semua orang yang membuat kita tidak nyaman sebagai orang yang berbahaya.
Tujuan batas bukan membuat kita semakin jauh dari manusia. Tujuannya adalah membantu kita membangun kedekatan dengan kasih, kejujuran, dan hikmat.
*Kasihilah dengan sungguh-sungguh. Ampunilah dengan tulus. Tetapi berjalanlah dengan hikmat.*