Перейти к содержимому

The Muhaddith of the Haramayn speaks about remembrance of the Messenger of Allah ﷺ

Jejak Indo

0:00 / 0:00

The Muhaddith of the Haramayn speaks about remembrance of the Messenger of Allah ﷺ

41 просмотр · 1 мес. назад
Jejak Indo
44 подписчика
41 просмотр · 1 мес. назад
Re-upload from: Muhammad Jawad    • The Muhaddith of the Haramayn speaks about...   Kedudukan Agung Rasulullah ﷺ Di Alam Semesta بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ    • The Muhaddith of the Haramayn speaks about...   Sebuah ceramah oleh Abuya as-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani (Makkah al-Mukarramah, 1400 H / 1980 M) Jauh sebelum penciptaan manusia, nama Muhammad telah termaktub mulia. Dalam sebuah riwayat dari Imam Al-Hakim, disebutkan bahwa ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, beliau memohon ampunan dengan bertawasul melalui nama Nabi Muhammad ﷺ. Nabi Adam mengetahui keagungan nama tersebut karena melihatnya bersanding dengan nama Allah di tiang-tiang Arsy: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Bahkan, Allah mengambil sumpah dan perjanjian dari para nabi terdahulu, sebagaimana termaktub dalam Surah Ali Imran ayat 81: وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’...” Bukti Kerinduan Makhluk dan Mukjizat Nyata Kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya memonopoli hati manusia; benda mati dan alam semesta pun menaruh rindu yang mendalam. Tangisan Batang Kurma Sebelum mimbar kayu dibuat, Nabi biasa berkhotbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma. Ketika Nabi beralih menggunakan mimbar baru, batang kurma tersebut menangis merintih layaknya seorang ibu yang kehilangan anaknya, hingga suaranya menggema di seluruh masjid. Nabi kemudian turun memeluknya seraya bersabda, “Seandainya aku tidak memeluknya, niscaya ia akan terus menangis seperti ini hingga hari kiamat" (لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَبَقِيَ هَكَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ).” Batang itu akhirnya memilih untuk ditanam di surga kelak. Batu yang Mengucap Salam Dalam riwayat Imam Muslim, Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang dahulu selalu memberi salam kepadaku... ia berkata, ‘Keselamatan bagimu wahai Muhammad,’” إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ. Ketundukan Tata Surya Tata surya merespons doa dan kebutuhan sang Nabi, mulai dari mukjizat terbelahnya bulan (Insyiqaqul Qamar) di hadapan kaum Quraisy, hingga tertahannya matahari terbenam seusai peristiwa Isra Mi’raj demi membenarkan sabda Nabi di hadapan penduduk Makkah. Jejak Cinta Umat Terdahulu dalam Sejarah Ratusan tahun sebelum kelahiran Nabi, Raja Tubba’ dari Yaman datang ke Makkah. Ia mengurungkan niatnya untuk menghancurkan Kakbah setelah diperingatkan bahwa tempat tersebut kelak akan didatangi oleh Nabi Akhir Zaman. Sebagai wujud penghormatan, ia memberikan kiswah (kain penutup) untuk Kakbah. Ketika melewati Yatsrib (Madinah), Raja Tubba’ sengaja membeli sebuah rumah dan mewakafkannya khusus sebagai tempat tinggal bagi sang Nabi jika kelak ia berhijrah ke sana. Rumah itu dirawat turun-temurun hingga dihuni oleh Abu Ayyub Al-Anshari. Ratusan tahun kemudian, di titik persis rumah itulah, unta Nabi ﷺ berhenti saat tiba di Madinah, memenuhi takdir sejarah yang telah dipersiapkan dengan penuh cinta. Shalawat Sebagai Kunci Kelapangan Jiwa Jalan paling nyata untuk merawat ikatan dengan Rasulullah ﷺ adalah melalui shalawat. Ibadah ini sangat istimewa karena tidak membutuhkan perantara, tarekat, atau ijazah khusus; Allah sendiri yang memerintahkannya secara langsung di dalam Al-Qur’an. Dalam sebuah riwayat Tirmidzi, sahabat Ubay bin Ka'ab bertanya kepada Nabi tentang seberapa banyak porsi waktu doanya yang harus didedikasikan untuk bershalawat. Dan ketika Ubay memutuskan untuk menjadikan seluruh waktu doanya murni untuk bershalawat, Rasulullah ﷺ memberikan jaminan agung: إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُك “Jika demikian, maka kesedihan dan kegelisahanmu akan dihilangkan, serta dosa-dosamu akan diampuni.” Berada dalam majelis yang senantiasa melantunkan shalawat dan mengkaji sirah kenabian adalah oase di tengah hiruk-pikuk dunia. Majelis semacam ini dinaungi malaikat, diselimuti ketenangan (sakinah), dan dilimpahi rahmat dari langit. Menautkan hati kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah jalan pintas untuk meraih cinta Sang Pencipta, ketenangan batin, serta keberkahan bagi diri dan keluarga. Wallahu a‘lam, semoga barokah dan manfaat bagi kita semua, aamiin.