Kawilarang Memuji Ketenangan Soeharto Sebagai Komandan
Intel Melayu
0:00 / 0:00
Kawilarang Memuji Ketenangan Soeharto Sebagai Komandan
29 216 просмотров · 1 год назад
Intel Melayu
314 тыс. подписчиков
29 216 просмотров · 1 год назад
Kawilarang Memuji Ketenangan Soeharto Sebagai Komandan
Dalam buku,"70 Tahun Pak Harto," Letjen Purnawirawan Sayidiman Suryohadiprojo bercerita panjang lebar tentang sosok Jenderal Soeharto. Sayidiman bercerita, ia baru bertugas dibawah langsung Soeharto secara langsung pada jenjang karir yang sudah agak lanjut, yaitu setelah Soeharto 'l menjadi Menteri/Panglima AD pada tahun 1965.
"Waktu itu saya menjadi Paban Operasi dan kemudian Wakil Asisten II/Operasi di Staf Umum AD," katanya.
Tapi, kata Sayidiman, sejak menjadi taruna Akademi Militer di Yogyakarta pada tahun 1945, dirinya sudah mendengar banyak tentang Pak Harto sebagai seorang prajurit. Sebab, waktu itu Pak Harto bertugas di Batalyon X yang asramanya bertetangga dengan Akademi Militer.
Karena itu sebagai taruna yang senantiasa berusaha mengikuti pengalaman-pengalaman yang menonjol dari unsur-unsur TNI, maka ia juga memperoieh cukup banyak informasi tentang kegagahperkasaan prajurit Soeharto.
"Kalau tidak salah waktu itu Batalyon X mempunyai tugas tempur di front Semarang dan tidak jarang kita mendengar bahwa satuan tersebut menjalankan pertempuran yang gigih dengan pihak Belanda dan musuh lainnya," ujarnya.
Menurut Sayidiman, nama prajurit Soeharto waktu itu sudah terkenal sebagai orang yang gigih dalam pertempuran dan penuh rasa tanggungjawab dalam kepemimpinannya. "Inilah pelajaran yang saya petik sejak tahun 1945 dan tidak saya dapatkan dalam pelajaran di Akademi Militer," ujarnya.
Dalam Perang Kemerdekaan kedua, Sayidiman tidak berada di daerah Yogyakarta, oleh karena setelah lulus dari Akademi Militer ia memilih dan disetujui untuk menjadi komandan pasukan di Divisi Siliwangi.
Sebagai perwira muda yang telah terangsang oleh kegagah-perkasaan dan rasa tanggungjawab para tokoh TNI, antara lain Pak Harto sebagai komandan pasukan, maka Sayidiman pun ingin mengikuti Siliwangi berjalan kembali ke Jawa Barat dan memerdekakan daerah itu dari pendudukan Belanda.
"Tidak seperti kawan-kawan saya yang memilih atau diangkat menjadi instruktur di Akademi Militer, saya tidak dapat bertugas di daerah Yogyakarta sehingga tidak pula berada dibawah komando Pak Harto. Namun di Ciamis, dimana saya menjalankan operasi gerilya dalam Batalyon Nasuhi, saya masih memperoleh informasi tentang sepak terjang pasukan-pasukan di Jawa Tengah," tuturnya.
Sayidiman mendengar tentang kecakapan komando dibawah pimpinan Pak Harto yang waktu itu berpangkat letnan kolonel. Kecakapan Soeharto sebagai komandan tempur sama hebatnya dengan Letnan Kolonel Slamet Riyadi di daerah Solo.
Menurut Sayidiman, informasi seperti itu amat penting dalam perang, khususnya perang gerilya, karena ia menimbulkan rangsangan untuk berbuat serupa dan tidak mau kalah.
"Dapat dikatakan bahwa Pak Harto sebagai pemimpin militer adalah seorang ahli taktik dan operasi yang cerdas dan tangkas, disamping memiliki sifat kegigihan dan keperkasaan. Hal itu nanti dibuktikan lagi ketika beliau memimpin Brigade Mataram di Makassar pada permulaan tahun 1950," kata Sayidiman.
Meskipun Sayidiman sendiri tidak bertugas di sana waktu itu, namun ia mendengar berita-berita tentang Soeharto dari Kolonel Kawilarang yang menjadi panglima di wilayah itu.
"Pak Kawilarang menceriterakan kepada saya tentang ketenangan kepemimpinan Pak Harto ketika menghadapi pemberontakan Andi Azis yang dibantu oleh unsur-unsur KNIL di sekitar Makassar" ujarnya.
Dalam perjalanan hidupnya, kata Sayidiman, Pak Harto telah membuktikan bahwa dia sebagai pemimpin militer tidak hanya cakap dalam taktik.
Ketika Soeharto mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang akan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda, Soeharto juga menunjukkan kecakapan dalam the art of operations atau strategi kawasan.
"Saya merasa kurang ber| untung waktu itu karena tidak ditugaskan dalam Caduad yang menjadi inti dari operasi tersebut. Sebenarnya ketika Pak Harto baru diserahi tanggungjawab untuk membentuk Caduad, saya pernah mendapat panggilan untuk turut dalam staf pembentukannya," kata Sayidiman.
Waktu itu dirinya sedang bertugas sebagai komandan resimen taruna di Akademi Militer Jurusan Teknik.
"Saya menghadiri beberapa rapat yang dilakukan oleh staf persiapan pembentukan Caduad. Akan tetapi ketika diadakan pembentukannya saya tidak ikut ditugaskan dalam satuan strategis itu.
Karena itu saya hanya dapat mengikuti perkembangan pelaksanaan tugas Caduad dari tugas saya di AMN," ujarnya.
Dari observasi yang ia lakukan untuk kepentingan pelajaran militer, Sayidiman simpulkan bahwa Pak Harto secara cerdas menentukan kampanye yang hendak diselenggarakan serta sasaran-sasaran yang harus dicapai.
Selain itu Pak Harto juga melakukan tindakan-tindakan persiapan pasukan serta logistik untuk melaksanakan kampanye itu secara baik.
"Itu semua merupakan bukti kecakapan Pak Harto sebagai seorang pemimpin militer pada tingkat seni operasi atau strategi kawasan," katanya.