Maluku Tempo Dulu 1919–2006: Menyusuri Wajah Ambon, Ternate, Buru & Natsepa
Teluk Bone
0:00 / 0:00
Maluku Tempo Dulu 1919–2006: Menyusuri Wajah Ambon, Ternate, Buru & Natsepa
19 952 просмотра · 2 недели назад
Teluk Bone
141 тыс. подписчиков
19 952 просмотра · 2 недели назад
Sebuah perjalanan visual menelusuri wajah Maluku dari masa kolonial hingga awal abad ke-21 melalui rekaman arsip dan dokumentasi bersejarah.
Perjalanan dimulai pada tahun 1919, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johan Paul van Limburg Stirum bersama istrinya melakukan kunjungan dinas ke Kepulauan Maluku. Dari Ambon hingga Ternate, kamera merekam kedatangan rombongan, suasana pemerintahan kolonial, kunjungan ke Fort Oranje, serta berbagai pemandangan dan kehidupan masyarakat pada awal abad ke-20.
Tahun 1922, perjalanan berlanjut ke Pulau Buru melalui dokumentasi ekspedisi ilmiah Toxopeus. Rekaman membawa kita melihat kehidupan masyarakat pedalaman, aktivitas sehari-hari, hasil pertanian, permukiman, komunitas Kristen di Buru Tengah, hingga para pemimpin masyarakat setempat.
Kemudian, kita beralih ke Naku, Ambon, pada tahun 1946. Suasana hari Minggu, aktivitas peribadatan di gereja, kehidupan masyarakat, serta berbagai kesenian tradisional seperti Cakalele, Tari Pari, dan Zevensprong/Cu Lempak memberikan gambaran tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat Ambon pada masa itu.
Tiga dekade kemudian, kita kembali melihat Ambon pada tahun 1975. Panorama laut dan lanskap kota, gedung-gedung pemerintahan, kawasan Kodam XV/Pattimura, hingga Bandara Pattimura dengan pesawat Merpati Nusantara Airlines menjadi bagian dari perjalanan visual ini.
Kamera kemudian membawa kita menyusuri jalan dan pasar tradisional, aktivitas para pedagang, lalu lintas yang masih relatif lengang, becak, serta kehidupan masyarakat di lingkungan permukiman.
Kehidupan sehari-hari juga terlihat begitu dekat dengan alam. Para ibu dan remaja mencuci pakaian di sumur dan aliran sungai, sementara anak-anak bermain dan berenang.
Di pesisir Teluk Ambon, perahu-perahu bercadik melintas membawa hasil bumi, termasuk kelapa. Rekaman juga memperlihatkan keterampilan para perajin lokal yang mengolah kulit kerang dan mutiara menjadi kerajinan, perhiasan, dan cenderamata khas Maluku.
Perjalanan waktu kemudian membawa kita ke Pantai Natsepa pada tahun 1986. Suasana pantai yang masih sederhana dan asri, warung-warung kecil, hamparan pasir, pepohonan, serta masyarakat yang berkumpul, berenang, dan menikmati waktu bersama keluarga menjadi bagian dari kenangan Ambon pada era tersebut. Natsepa juga dikenang melalui kuliner khasnya, terutama rujak yang hingga kini melekat dengan identitas kawasan ini.
Terakhir, kita kembali ke Pantai Natsepa pada tahun 2006. Panorama Kota Ambon dari ketinggian, Patung Martha Christina Tiahahu, perahu-perahu tradisional, kapal yang bersandar di teluk, hamparan laut biru, pasir putih, pondok-pondok di tepi pantai, hingga aktivitas para nelayan memperlihatkan perubahan sekaligus kesinambungan kehidupan pesisir Maluku.
Dari 1919 hingga 2006, rekaman-rekaman ini tidak hanya memperlihatkan perubahan zaman, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan masyarakat, budaya, alam, dan lanskap Maluku dari generasi ke generasi.
Inilah perjalanan melihat kembali Maluku dalam lintasan waktu—dari Ambon, Ternate, Pulau Buru, hingga Pantai Natsepa.
#Maluku #Ambon #Ternate #PulauBuru #Natsepa #MalukuTempoDulu #AmbonTempoDulu #TernateTempoDulu #ArsipSejarah #VideoSejarah #HindiaBelanda #FortOranje #PantaiNatsepa #MarthaChristinaTiahahu