WIFIASH - Rayuan Kain Yang Berdarah ( Dirgahayu Yang Sunyi ) (Official Audio)
WiFiAsh
0:00 / 0:00
WIFIASH - Rayuan Kain Yang Berdarah ( Dirgahayu Yang Sunyi ) (Official Audio)
51 просмотр · 13 дней назад
WiFiAsh
50 подписчиков
51 просмотр · 13 дней назад
WIFIASH - Rayuan Kain Yang Berdarah ( Dirgahayu Yang Sunyi ) (Official Audio)
"Kisah melankolis-kelam tentang luka rakyat kecil, pengorbanan yang sia-sia, dan kain sejarah negeri yang pekat oleh darah ketamakan."
Sembari menunggu peluncuran resmi di platform digital utama (Spotify/Apple Music), mari meresapi keheningan lewat lagu pembuka kedua ini sebelum menuju Album 'UPETI' pada 9 September nanti.
Lirik & Konsep Cerita: WIFIASH
Aransemen Musik: WIFIASH
=== LIRIK LAGU ===
Agustus tiba mengetuk pintu omah yang reot
Bambu runcing kini berganti tiang marmer yang kokot
Merah putih berkibar di atas atap seng yang patah
Menutupi jerit lapar di balik sorak yang meriah
Ibu pertiwi bersolek memakai bedak yang mahal
Di atas tanah rakyat yang digusur tanpa akal
Menara-menara tinggi menjulang mencakar mega kelam
Sementara anak-anak kecil memeluk mimpi di dasar malam
Lentera keadilan padam ditiup angin kekuasaan
Hukum laksana pisau yang tajam memotong harapan
Kita berbaris rapi menghormat kain yang bisu
Tanpa tahu jiwa kita telah lama diperas lesu
Suara sirine protokol membungkam tangis jalanan
Takhta yang fana tertawa di atas meja perjamuan
Kertas-kertas janji kini menjelma menjadi abu
Menandai lahirnya sebuah negeri yang gembos urat madu
Oh... Dirgahayu yang sunyi di atas bumi yang terluka
Kita merayakan merdeka tapi batinnya dirantai karsa
Garuda menangis membeku di sudut dinding sekolah
Melihat anak-anak kandungnya saling pecah dan kalah
Merah putihku... kain suci yang kini berdarah
Kapan kau benar-benar nyata membawa berkah?
Wakil rakyat berdasi duduk di kursi yang empuk
Merajut muslihat di tengah amanah yang membusuk
Amplop dan suap menjadi hidangan makan malam mereka
Sementara buruh tani memeras keringat diperbudak duka
Suara kritik dianggap laksana peluru yang mengancam
Membungkam setiap lidah jujur ke dalam jurang yang dalam
Layar-layar kaca dipenuhi sandiwara para penguasa
Berebut takhta tirani membagi-bagi harta bangsa
Suku dan ras dibenturkan demi amankan dinasti
Meninggalkan raga rakyat yang sekarat menanti mati
Merdeka ini milik siapa? Tanya bocah di pinggir kali
Sebab perutnya masih kosong melilit sabuk berkali-kali
Suara sirine protokol membungkam tangis jalanan
Takhta yang fana tertawa di atas meja perjamuan
Kertas-kertas janji kini menjelma menjadi abu
Menandai lahirnya sebuah negeri yang gembos urat madu
Oh... Dirgahayu yang sunyi di atas bumi yang terluka
Kita merayakan merdeka tapi batinnya dirantai karsa
Garuda menangis membeku di sudut dinding sekolah
Melihat anak-anak kandungnya saling pecah dan kalah
Merah putihku... kain suci yang kini berdarah
Kapan kau benar-benar nyata membawa berkah?
Di bawah kibaran panji, kita masih terjajah senyap
Oleh bangsa sendiri yang serakahnya tak pernah lenyap
Undang Undang Dasar empat lima kini hanya tinggal wacana
Di bawah kaki raksasa sang konglomerat yang kuasa...
Oh... Dirgahayu yang sunyi di atas bumi yang terluka
Kita merayakan merdeka tapi batinnya dirantai karsa
Garuda menangis membeku di sudut dinding sekolah
Melihat anak-anak kandungnya saling pecah dan kalah
Merah putihku... kain suci yang kini berdarah
Kapan kau benar-benar nyata membawa berkah?
Agustus ini... kami masih di dalam sangkar fana
Berteriak merdeka... di atas lembar yang sekarat duka
Negara kini jadi apa?...
Dirgahayu... yang sunyi...
Pancasila... Kapan kau benar-benar nyata?...
Agustus tiba mengetuk pintu omah yang reot
Bambu runcing kini berganti tiang marmer yang kokot
Merah putih berkibar di atas atap seng yang patah
Menutupi jerit lapar di balik sorak yang meriah
===
Dukung terus karya musik lokal independen dengan cara Subscribe, Like, dan Share video ini.
#WIFIASH #RayuanKainYangBerdarah #Upeti #FolkRock #SymphonicGrunge #AlternativeRock