Перейти к содержимому

Sungguh Memalukan GBI Menanyakan mengapa mendoakan orang meninggal,hingga ditanya balik Tak Menjawab

KEBENARAN MEMERDEKAKANMU

0:00 / 0:00

Sungguh Memalukan GBI Menanyakan mengapa mendoakan orang meninggal,hingga ditanya balik Tak Menjawab

2 689 просмотров · 2 недели назад
KEBENARAN MEMERDEKAKANMU
1,94 тыс. подписчиков
2 689 просмотров · 2 недели назад
Dalam tradisi Gereja Katolik, mendoakan orang yang sudah meninggal memiliki dasar teologis, alkitabiah, dan sejarah yang sangat kuat. Ketika umat dari Gereja Bethel Indonesia (GBI)—atau denominasi Protestan lainnya—mempertanyakan hal ini, perbedaan pandangan utamanya terletak pada konsep Penyucian (Purgatorium) dan cara memandang Persekutuan Para Kudus. Berikut adalah penjelasan lengkap mengapa umat Katolik mendoakan orang yang sudah meninggal, yang juga bisa menjadi jawaban mendalam jika Anda menghadapi diskusi serupa. 1. Dasar Alkitabiah: Kitab 2 Makabe Alasan utama umat Kristen Protestan (termasuk GBI) tidak mendoakan orang mati adalah karena kitab yang melandasinya tidak ada dalam Alkitab mereka. Dalam Alkitab Katolik, terdapat kitab 2 Makabe 12:38-45. Kisah ini menceritakan Yudas Makabe yang mengumpulkan persembahan dan mengirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa bagi prajuritnya yang gugur. Kitab tersebut mencatat secara eksplisit: "Sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, karena Yudas memikirkan kebangkitan... Maka dari itu diadakannya korban silih bagi orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa mereka." (2 Makabe 12:43-45). Catatan Sejarah: Kitab-kitab ini (Deuterokanonika) dikeluarkan dari kanon Alkitab Protestan pada masa Reformasi Martin Luther, sehingga umat Protestan kehilangan dasar tekstual untuk praktik ini. 2. Konsep Api Penyucian (Purgatorium) Umat Katolik percaya bahwa keselamatan adalah proses. Ketika seseorang meninggal dalam keadaan rahmat Allah (tidak dalam dosa berat) tetapi masih membawa "noda dosa" akibat kelemahan manusiawi, mereka belum siap masuk ke Surga yang kudus sempurna (Wahyu 21:27 menyatakan tidak ada yang najis dapat masuk Surga). Tempat atau proses pembersihan inilah yang disebut Api Penyucian. Jiwa-jiwa di Api Penyucian pasti selamat, tetapi mereka sedang mengalami pemurnian. Mereka tidak bisa lagi menolong diri mereka sendiri dengan berbuat baik. Oleh karena itu, doa dari kita yang masih hidup sangat membantu mempercepat proses pemurnian mereka agar dapat segera memandang wajah Allah. 3. Persekutuan Para Kudus: Cinta Kasih Tidak Putus oleh Maut Bagi Katolik, Gereja itu satu dan terdiri dari tiga bagian (Persekutuan Para Kudus): Gereja Pejuang: Kita yang masih hidup di dunia. Gereja Penderita: Jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian. Gereja Jaya: Para kudus yang sudah ada di Surga. Kematian tidak memutuskan hubungan kasih di antara anggota tubuh Kristus (Roma 8:38-39 menyatakan maut tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah). Jika di dunia kita bisa saling mendoakan ("Doakan saya ya, bro/sis"), mengapa setelah meninggal kita berhenti memedulikan mereka? Mendoakan mereka adalah wujud tertinggi dari kasih yang melampaui maut.