Перейти к содержимому

Imam Darto: Dari Hungry Ghost Festival ke Realita Industri Film Indonesia | Part 2

BROWIJAYA BROADCAST

0:00 / 0:00

Imam Darto: Dari Hungry Ghost Festival ke Realita Industri Film Indonesia | Part 2

2 367 просмотров · 2 нед. назад
BROWIJAYA BROADCAST
2,21 тыс. подписчиков
2 367 просмотров · 2 нед. назад
Imam Darto PL’00 sedang bersiap merilis film terbarunya, Hungry Ghost Festival, sebuah drama-komedi-horor yang terinspirasi dari tradisi Hungry Ghost dalam kebudayaan Tionghoa dan dijadwalkan tayang di bioskop 26 November 2026. Tapi di balik film keempatnya ini, ada perjalanan panjang yang membuat Bro Darto melihat industri film dengan cara yang jauh berbeda. Di Part 2 ini, Bro Darto ngobrol terbuka soal apa yang sebenarnya terjadi setelah sebuah film selesai dibuat. Film pertamanya pernah meraih sekitar 850 ribu penonton. Namun ketika film berikutnya dibuat dengan produksi yang lebih besar, kualitas yang semakin matang, dan pengalaman yang lebih banyak, hasilnya ternyata tidak otomatis ikut naik. Dari situ Bro Darto belajar bahwa membuat film bagus hanyalah sebagian dari permainan. Ada timing rilis. Ada jumlah layar bioskop. Ada biaya promosi. Ada film lain yang sedang tayang. Ada cuaca, banjir, sampai berbagai alasan sederhana yang bisa membuat orang batal pergi ke bioskop. Karena menurut Bro Darto: film tidak cuma bersaing dengan film lain. Film bersaing dengan kehidupan penontonnya. Dan akhirnya ia sampai pada satu kesimpulan: “Film bagus tidak sama dengan film laku.” Pengalaman itu juga mengubah cara Bro Darto bekerja. Kalau dulu sebuah script bisa lahir dari imajinasi yang liar, sekarang ia semakin sadar bahwa setiap scene berarti hari syuting, kru, lokasi, waktu, dan biaya. Semakin banyak pengalaman, semakin besar juga kebutuhan untuk menyeimbangkan kreativitas dengan realita produksi. Semua pelajaran dari tiga film sebelumnya kemudian dibawa ke proyek terbarunya, Hungry Ghost Festival. Bukan hanya sebagai film berikutnya, tapi juga sebagai bagian dari evolusi Darto sebagai penulis dan sutradara. Di tengah semua tekanan itu, apa yang masih membuatnya mau bikin film? Jawabannya sederhana. Saat sebuah ide yang awalnya hanya ada di kepala akhirnya hidup di depan kamera. Dan saat penonton pertama kali tertawa, takut, atau terharu seperti yang ia harapkan. Di situlah semua stres, biaya, dan ketidakpastian terasa terbayar. Episode ini juga membawa Darto kembali ke awal perjalanannya. Sebelum radio, televisi, dan film, salah satu pengalaman pertamanya di dunia entertainment justru dimulai di PL, ketika ia pertama kali dipercaya menjadi MC di acara sekolah. Dari panggung sekolah, kemudian radio, televisi, penulisan skenario, sampai akhirnya menjadi sutradara. #ImamDarto #HungryGhostFestival #BrowijayaBroadcast #RealitaIndustriFilmIndonesia #IKAPL #ChristianSugiono