Перейти к содержимому

NASIHAT TEGAS DAN BERANI DARI PIMPINAN GONTOR UNTUK PRABOWO

Bicara Banyak

0:00 / 0:00

NASIHAT TEGAS DAN BERANI DARI PIMPINAN GONTOR UNTUK PRABOWO

608 просмотров · 9 дн. назад
Bicara Banyak
36 подписчиков
608 просмотров · 9 дн. назад
Beginilah harusnya ulama di hadapan penguasa. Nasihat Tegas Dan Berani Dari Pimpinan Gontor Untuk Prabowo. Pidato Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo, KH Hasan Abdullah Sahal, menjadi sorotan dalam acara Resepsi Kesyukuran 1 Abad Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Dalam pidatonya, KH Hasan Abdullah Sahal sempat menyinggung kehadiran Presiden Prabowo Subianto. Ia mengatakan dirinya akan merasa malu jika Prabowo tidak hadir dalam acara tersebut. “Andai kata Pak Prabowo hari ini nggak datang, muka saya mau saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka, betul?” ujar KH Hasan Abdullah Sahal. Beliau kemudian melanjutkan dengan menyampaikan sindiran mengenai orang-orang yang disebutnya sedang “mencari” sesuatu. “Orang nggak punya ijazah cari ijazah, orang nggak punya nama cari nama, orang nggak punya uang cari uang, orang nggak punya jabatan cari jabatan, orang nggak punya muka cari muka,” tambahnya. Pernyataan tersebut pun menjadi perhatian karena disampaikan di hadapan Presiden Prabowo dalam momentum peringatan 100 tahun Gontor. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, berdiri di depan Presiden Prabowo. Bukan untuk menjilat. Bukan untuk memuji. Tapi mengingatkan. “Maaf ya Pak Presiden, saya ngomong tidak enak. Sorry ye!” Lalu keluar kalimat yang lebih penting: "Kami tetap memilih pendidikan." “Jangan sekali-kali lupakan sejarah. Bergurulah pada sejarah!” Ini bukan pidato seremoni. Ini pengingat bahwa kekuasaan harus punya cermin. Dan cermin itu salah satunya adalah pendidikan, sejarah, moral, dan suara ulama. Gontor bahkan menegaskan: “Gontor tidak puas!” Kalimat pendek. Tapi maknanya panjang. Sebab tugas lembaga pendidikan bukan membuat penguasa selalu nyaman. Tugas pendidikan adalah membuat manusia berani berpikir. Dan tugas ulama bukan menjadi pengeras suara penguasa. Ulama seharusnya menjadi rem ketika kekuasaan mulai melaju terlalu jauh. Sebab kalau semua orang di sekitar penguasa hanya berkata: “Siap, Pak.” “Aman, Pak.” “Luar biasa, Pak.” Lalu siapa yang berani berkata: “Pak, ini keliru.” Siapa yang mengingatkan kalau kebijakan negara mulai menyimpang dari kepentingan rakyat? Siapa yang mengatakan bahwa sejarah tidak boleh dipoles sesuai kepentingan penguasa? Dan siapa yang berani mengatakan: “Kekuasaan itu sementara. Tapi akibat keputusanmu bisa ditanggung rakyat selama puluhan tahun.” Itulah kenapa independensi lembaga pendidikan dan ulama penting. Presiden boleh datang ke pesantren. Pejabat boleh duduk di barisan depan. Tapi akal sehat jangan ikut duduk di belakang. Dan jangan salah. Mengkritik penguasa bukan berarti membenci penguasa. Justru kadang, orang yang berani mengatakan sesuatu yang tidak enak adalah orang yang paling berguna bagi kekuasaan. Karena penguasa tidak kekurangan orang yang memuji. Yang langka adalah orang yang berani mengingatkan. Kiai tidak harus membungkuk di hadapan kekuasaan. Yang harus dibungkukkan adalah kepala kita kepada kebenaran. Bukan kepada jabatan. Karena ketika ulama terlalu nyaman di samping penguasa, rakyat kehilangan salah satu suara yang seharusnya berani berkata: “Pak Presiden, maaf... tapi ini tidak benar.” #Gontor #100TahunGontor #KHHasanAbdullahSahal #gontortv #pmdg #darussalam #wejangan #latansa #PrabowoSubianto #PondokPesantren #newsupdate #ulama #ulamaindonesia #sekretariatpresiden #nasihat #nasihatulama #muhammadiyah #nahdlatululama #kabinetmerahputih #indonesiamaju #indonesia #Ponorogo #JawaTimur