Перейти к содержимому

Tanpa Keprihatinan terhadap Kelestarian Budaya Bali

Surya Majapahit Post 7

0:00 / 0:00

Tanpa Keprihatinan terhadap Kelestarian Budaya Bali

22 просмотра · 2 недели назад
Surya Majapahit Post 7
8 подписчиков
22 просмотра · 2 недели назад
BATUBULAN, BALI — Sebuah pertemuan penting yang mempertemukan tokoh-tokoh kunci dari berbagai elemen masyarakat di Bali dan Nusantara berlangsung dengan khidmat di Winda Salon, Jalan Batuyang, Batubulan, pada Minggu, 30 Agustus 2026. Acara yang dimulai pukul 13.30 WITA tersebut dihadiri para tokoh masyarakat, budayawan, spiritualis, serta praktisi pengobatan tradisional. Pertemuan ini merupakan inisiasi Bunda Jro Sinar, seorang tokoh spiritual dari Tabanan, dengan tujuan mempererat tali silaturahmi sekaligus mengkoordinasikan langkah-langkah strategis dalam upaya pelestarian budaya Bali dan Nusantara. Acara tersebut bertempat di kediaman Jro Made Sudarma Santosa, seorang purnabakti Bank BPD Bali yang kini aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Kehadiran Tokoh Lintas Sektoral Keseriusan agenda pertemuan ini terlihat dari hadirnya sejumlah tokoh penting dari berbagai unsur. Dari lini spiritual dan pergerakan, hadir Gus Dian bersama asistennya, Gus Usman, dari Perjuangan Walisongo Indonesia Bali, yang melakukan perjalanan jauh dari Seririt, Singaraja. Dari unsur yayasan dan pelestarian lingkungan, hadir Ketua, Pembina, sekaligus Pelindung Yayasan Restu Bumi Alam Bali, I Wayan Sudarsana, yang didampingi Ratu Gde Genta Swara dan Bunda Jro Krisnamurti. Keterlibatan unsur Pura sakral di Bali juga terlihat dengan hadirnya dua utusan atau para guru dari Pura Tuluk Biyu Batur Kintamani, yakni Guru Sukma dan Guru Winurjaya. Dari kalangan puri atau bangsawan, utusan dari Puri Agung Klungkung, Ida Cokorda Susila, serta Ida Cokorda dari Tampaksiring turut memberikan warna dalam paruman tersebut. Dari kalangan akademisi, turut hadir Prof. Dr. Nyoman Sedana beserta istri yang memberikan pandangan dalam diskusi mengenai budaya dan keberlangsungan Bali ke depan. Tak ketinggalan, para tokoh komunitas Taksu Manggala Agung dari berbagai wilayah juga hadir, di antaranya Jro Gde Ungasan dari Uluwatu serta Jro Mangku Widi bersama istri dari Abiansemal, Badung. Dari Komunitas Pakubumi Nusantara, hadir beberapa perwakilan, antara lain Made Asmadi, Ustadz Tosandhy, Made Wenten, Alek Suharno, dan Jack Marhen. Turut hadir pula Ketua Umum Yayasan Mada Nusantara, Morgan Made Suartha, serta Jro Mangku Ayustana dari Busung Biu, Tabanan. Pertemuan ini juga menarik perhatian tokoh spiritual dari luar Pulau Bali, dengan hadirnya perwakilan dari Lombok Timur yang diwakili oleh Arya. Fokus Utama: Koordinasi Karya Pakelem Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Bunda Jro Sinar. Doa tersebut dilakukan untuk memohon kelancaran serta restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Agenda utama pertemuan adalah melanjutkan koordinasi mengenai rencana Karya Pakelem, yakni upacara persembahan suci yang berkaitan dengan sumber air dan gunung, yang sebelumnya telah dibahas di Ungasan, Uluwatu. Bunda Jro Sinar memaparkan bahwa Karya Pakelem tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada hari Jumat Kajeng Kliwon Purnama Kapat. Rangkaian upacara direncanakan akan diawali di Goa Raja Besakih, kemudian dilanjutkan menuju Pura Tuluk Biyu. Dalam sesi diskusi, Jro Gde Ungasan dari Uluwatu, Bali Selatan, menggarisbawahi pentingnya kesiapan secara menyeluruh. Ia menanyakan kesiapan pendanaan, akomodasi, serta berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Merespons hal tersebut, I Wayan Sudarsana mengusulkan agar segera dilakukan prosesi nunas ica, yakni memohon izin dan restu secara niskala, bersama-sama menuju Goa Raja. Prosesi tersebut diharapkan dapat dilakukan bersama Cok. Rat dari Puri Satria. Untuk memastikan kelancaran teknis di lapangan, Jro Mangku Widi dari Abiansemal, Kabupaten Badung, menekankan perlunya pembagian tugas yang jelas di antara seluruh pihak yang terlibat. Pihak Pura Tuluk Biyu melalui para utusannya menyatakan kesiapan untuk membantu secara penuh. Bahkan, pihak tersebut memberikan tawaran terkait hewan kurban berupa kambing yang akan digunakan dalam prosesi Pakelem. Dukungan juga disampaikan Jro Mangku Ayustana yang menilai bahwa Karya Pakelem tersebut sangat penting karena dinilai mampu mengangkat kembali spirit kenusantaraan. Terkait pelaksanaan Karya Pakelem, Guru Sukma memberikan penjelasan secara detail mengenai mekanisme pembelian kambing dari Tuluk Biyu Batur. Ia juga memaparkan sejarah Pura Tuluk Biyu sebagai Pura Gunung Abang yang memiliki nilai historis, purbakala, dan prasejarah, dengan berbagai peninggalan benda-benda istimewa. Sebagai gambaran mengenai kemegahan sebuah upacara, disebutkan bahwa Karya Agung Medewasraya dalam persiapannya menghabiskan dana hingga Rp4 miliar, dengan sarana kurban berupa 13 ekor kerbau dan 15 ekor kambing. Prosesi Pakelem dalam rangkaian tersebut dilakukan di Danau Batur dan Puncak Gunung Abang.