Перейти к содержимому

80% Susu di Indonesia Ternyata Impor, Mayoritas dari Koperasi Ini

Ardy Setia

0:00 / 0:00

80% Susu di Indonesia Ternyata Impor, Mayoritas dari Koperasi Ini

11 847 просмотров · 19 часов назад
Ardy Setia
22,7 тыс. подписчиков
11 847 просмотров · 19 часов назад
Hingga saat ini, sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih harus dipenuhi melalui jalur impor susu. Mayoritas pasokan impor tersebut berbentuk susu bubuk, khususnya skim milk powder, yang berasal dari New Zealand. Tingginya ketergantungan ini dipicu oleh belum mampunya pasokan lokal menjamin kepastian volume harian, kestabilan kadar protein, serta efisiensi harga bahan baku secara berkelanjutan. Di balik dominasi produk dairy dari New Zealand, terdapat competitive advantage berupa harga pakan yang murah karena berbasis padang rumput alami serta skala produksi industri yang masif, di mana satu peternakan rata-rata mengelola lebih dari 400 ekor sapi. Keunggulan ini disempurnakan oleh keberadaan koperasi Fonterra. Melalui mekanisme pasar lelang Global Dairy Trade (GDT), koperasi swasta ini bahkan secara tidak langsung ikut membentuk acuan harga susu dunia. Untuk membenahi ekosistem susu ini, apakah kita perlu mendorong lahirnya entitas terintegrasi sekelas Fonterra yang dimiliki oleh peternak lokal, ataukah fokus utama pemerintah sebaiknya diarahkan pada pembenahan skala peternakan, kualitas pakan, serta regulasi yang menguntungkan peternal lokal? Tuliskan analisis Anda di kolom komentar. Timeline 00:00 - Penguasa Ekspor Susu Dunia 02:07 - Apa Itu Susu Skim Bubuk? 04:35 - Mengapa Indonesia Masih Impor Susu? 05:55 - Keunggulan Produksi Susu Selandia Baru 08:27 - Sistem Koperasi Fonterra vs GKSI 11:31 - Mekanisme Lelang Global Dairy Trade 13:51 - Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?