JUARA 1 NASIONAL FLS3N 2026| "TOGAK RUNDIANG" - SMAN 1 PAYAKUMBUH - Sumatera Barat| Musik Tradisi
Smansa Payakumbuh
0:00 / 0:00
JUARA 1 NASIONAL FLS3N 2026| "TOGAK RUNDIANG" - SMAN 1 PAYAKUMBUH - Sumatera Barat| Musik Tradisi
1 338 просмотров · 7 дн. назад
Smansa Payakumbuh
22 подписчика
1 338 просмотров · 7 дн. назад
"TOGAK RUNDIANG"
Karya : SMAN 1 Payakumbuh-Provinsi Sumatera Barat
Penanggung Jawab : Efda Sofliarni, S. Pd., M. Si.
Komposer : Ruli Afriadi, S. Sn
Pembina : Nella Maresta, S. Pd
Konsultan Karya : Erik Dwinanda, S. Pd
Peserta : 1. SITI JULIA ISRA
2. LATHIFAH AQILA FANDRA
3. HANUM FEBRI DWIVA
4. ARYHA YAQUULA FATHAR
5. GUSTI ABIANDRA SYAH ALAM
Sinopsis Karya
"TOGAK RUNDIANG"
Togak Rundiang merupakan karya yang dihasilkan dari pendekatan tradisi pengkarya terhadap respon tema dan kesenian tradisional Minangkabau. Togak adalah terminologi bahasa Minang yang memiliki dua pengartian bagi masyarakat Payakumbuh. Tak hanya Togak (taragak) sebagai keinginan atau sesuatu yang ingin didapatkan serta dilakukan, namun juga Togak (berdiri) memiliki makna pendirian ataupun sebuah keputusan yang memiliki dasar. Sedangkan Rundiang (perundingan) adalah sesuatu yang dibicarakan agar mendapat titik tengah dari suatu masalah. Jadi Togak Rundiang dapat diartikan sebagai keinginan untuk mendapat sebuah keputusan bersama melalui rundingan.
Karya Togak Rundiang terinspirasi dari kebiasaan masyarakat yang selalu merundingkan suatu pendapat. Pendapat yang muncul biasanya mengandung pro dan kontra, namun bagi masyarakat Minangkabau hal tersebut tidaklah sesuatu yang sulit. Salah satu cara penyelesaian pendapat yaitu dengan cara mufakat yang menghargai dan mentoleransi pendapat satu sama lain. Masyarakat Minangkabau khususnya di Luak Limo Puluah, selalu berpegang pada falsafah “duduak surang ba sampik-sampik, duduak basamo ba lapang-lapang”.
Toleransi antar pihak bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, karena hal tersebut merupakan warisan dan “adaik salingkuang nagari”. Dengan tutur bahasa yang selalu diperhatikan bagi pelaku rundingan, memastikan hasil tersebut dapat diterima dengan senang hati. Hal tersebutlah yang menjadi ketertarikan pengkarya pada adat istiadat Minangkabau dalam melahirkan karya ini.
Pengkarya menyampaikan pesan tersebut melalui nada dominan yang muncul pada dendang tigo sapilin sijobang ba kucapi yaitu nada 1, 2, 3, 5, dan 6. Menggunakan instrumen talempong set 24, talempong set 16, canang set 8, gandang tambua tasa, oguang, bansi, kucapi dan rabab. Pemilihan instrumen juga diperhitungkan pengkarya melihat dari warna bunyi instrument yang diperlukan.
Dalam penggarapannya, pengkarya membagi karya ini menjadi 3 bagian yang saling terikat. Pada bagian pertama, karya ini menyampaikan pesan perbedaan pendapat satu sama lain, sehingga akan memunculkan gambaran konflik jika tidak dirundingkan. Hal ini digambarkan dalam permainan talempong yang berbeda-beda dan diiringi dengan langkah silek yang menjadi gambaran dari karakter ketegasan di Minangkabau. Pada bagian kedua, pengkarya menampilkan bentuk rundingan melalui media intsrumen musik, di mana ada beberapa solusi yang ditawarkan. Hingga pada bagian ketiga, perbedaan menghasilkan keputusan dan sebuah solusi baru. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Minangkabau selalu mentoleransi perbedaan pendapat dan menerima segala bentuk solusi baru namun tetap berpegang teguh pada “adaik basandi sara’, sara’ basandi kitabullah”.
Dengan menggunakan pendekatan tradisi, karya Togak Rundiang digarap menggunakan beberapa teknik garapan komposisi. Salah satu yang dominan muncul adalah polimeter yang bervariatif dan bahkan berbeda setiap instrumennya. Pengkarya juga menghadirkan teknik hocketing dan interloking dalam mempertebal konsep karya. Serta beberapa pola tutti dan pola unisono juga hadir sebagai gambaran kerampakan atau kekompakan.